Cinderella Gila

Cinderella Gila
...Apa-apaan ini


__ADS_3

Setelah mengasumsikan bahwa Ashley mengajaknya berkencan besok, Daryl meletakan surat itu di atas meja dan menyuruh Will kembali melanjutkan pekerjaannya.


Will yang hendak protes pun mengurungkan niatnya menyadari jika Daryl pasti hendak pergi menemui Ashley. Setelah melihat semangat laki-laki itu kembali, Will tidak ingin merusaknya.


Sambil membawa tumpukan berkas yang telah ia sisihkan untuk dikerjakan besok, Will bertanya,


"Apa saya juga harus mewakili Anda di pertemuan besok?"


"Oh, terimakasih karena sudah mengajukan diri."


Pria itu hanya menghela napas menuruti keinginan tuannya.


Berjam-jam berlalu dan mereka masih terus mengurus kertas-kertas legal yang selalu berdatangan tersebut.


Tengah malam pun berlalu begitu saja tanpa terasa. Asisten Daryl itu kemudian menyarankannya untuk beristirahat agar besok ia terlihat segar. Menuruti rasan yang pria itu berikan, Daryl pun kembali ke ruangannya untuk istirahat.


Melihat tuannya langsung menuruti sarannya begitu saja tanpa menolak atau menunda, membuatnya merasa sedikit aneh. Sebegitu inginnya dia tampil prima di hari kencan pertamanya?


Will kemudian berdiri dan berjalan menuju meja Daryl untuk meletakan berkas yang tinggal ditandatangani dan distempel. Lalu diliriknya surat dari Ashley yang masih berada di sana.


Awalnya ia pikir itu benar-benar surat romantis layaknya surat cinta seorang gadis, mengingat isinya mampu membuat wajah Daryl memerah meski hanya sesaat. Sebuah surat yang ditulis dengan indah dan penuh perasaan, kemudian dengan sedikit malu-malu mengajak untuk bertemu.


Namun apa ini?


Plaza. Besok. Jam 9.


Sepucuk surat itu benar-benar hanya sepucuk. Daripada mengajak berkencan, bukankah itu lebih seperti surat ancaman? Surat tantangan yang sudah jelas ditulis dengan niat buruk.


Saat tengah mencoba menganggap kedua orang tersebut- Daryl dan Ashley sebagai orang yang normal, pintu ruang kerja itu terbuka.


Kembalilah sang pemilik ruangan dengan wajah serius. Ia langsung duduk di kursinya dan kemudian mulai bekerja lagi.


Sangat jelas sekali. Karena terlalu bersemangat ia jadi kesulitan untuk tidur dan lebih memilih bekerja.


Will kembali menghela napas melihat sikap Daryl yang begitu positif terlepas dari cara penulisan surat tersebut.


...****************...


Keesokan harinya, tepat pukul 9 Ashley sampai di plaza. Dilihatnya Daryl telah menunggu di salah satu bangku yang ada di sana. Daryl pun berdiri saat melihat Ashley berjalan mendekatinya dari kejauhan.


Berbeda dari biasanya, pakaian yang dikenakan Daryl kali ini sedikit lebih santai. Mungkin karena ia tidak ingin mengundang banyak perhatian dengan pakaiannya yang selalu terlihat super duper mewah.

__ADS_1


Berdiri di depan Ashley, Daryl menanyakan mengenai bagaimana keadaan tangan wanita itu. Tidak berniat memberi tahu apa yang terjadi, tanpa ragu Ashley langsung menjawab jika tangannya sudah sembuh sepenuhnya.


"Syukurlah kalau begitu." Jawab Daryl tanpa curiga sama sekali meski sempat terkejut dengan kurun waktu pemulihannya.


Sambil tersenyum, diberikannya setangkai bunga yang ia beli saat berjalan ke sana tadi. Spontan Bellena langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut dengan apa yang dilakukan Daryl. Bellena yang baru saja memasuki usia dewasa, tentu sangat menyukai hal-hal romantis.


Ditatapnya bunga itu sejenak sebelum Ashley menerimanya. Ditepuknya kemudian, kepala pria yang 4 tahun lebih tua dari Ashelia itu sambil tersenyum.


Bukan sebagai lawan jenis, teman, ataupun adik, tindakan Daryl justru mengingatkannya kepada Ugo.


Anjing jenis Rottweiler yang pernah dipeliharanya dulu.


Kemana pun mereka pergi, setiap kali menemukan sesuatu, Ugo selalu menghadiahkannya kepada Ashley.


Berbeda dengan gadis yang tumbuh dengan wajar, romantisme tidak pernah ada di dalam benak Ashley.


Daryl yang merasa malu karena merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh wanita yang ia sukai pun memalingkan wajahnya sambil menutup bagian hidung dan mulutnya dengan tangan. Masih jauh lebih baik daripada mengetahui kebenaran jika ia disamakan dengan seekor anjing peliharaan.


Bellena yang juga ikut salah paham merasa ia tidak seharusnya berada di sana, di antara mereka. Ia kemudian pamit dengan alasan harus melakukan sesuatu yang sebelumnya lupa ia kerjakan. Menyadari niat baik Bellena, Daryl terlihat lebih bersemangat.


"Lo pikir lo mau kemana?" Ucap Ashley kemudian, sebelum Bellena beranjak jauh dari sana.


"Siapa yang bawa nanti?"


"Aku bisa membawakannya." Sela Daryl mencoba menggantikan posisi Bellena.


"Trus lo juga nganter gua balik?" Lanjut Ashley dengan wajah sinis.


"Bukankah seharusnya begitu?" Jawabnya mengantisipasi hal yang sudah jelas dilakukan saat berkencan dengan seseorang.


"Ga. Dia punya tugas buat nganter barang sampe ke tujuan."


Tidak punya pilihan lain selain menuruti Ashley, mereka bertiga pun tetap bersama layaknya sahabat sejati yang setia sampai mati.


Daryl sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran Bellena. Lompat ke intinya, Daryl kemudian menanyakan kemana mereka akan pergi.


Masih belum mengetahui barang apa yang akan mereka beli, kedua perempuan itu tidak tahu ke mana mereka harus pergi. Ashley pun berbalik memberi pria itu pertanyaan mengenai apa yang disukai oleh saudaranya.


"Saudara?" Tanya pria itu bingung karena ia adalah anak tunggal.


"The redhead from the other day."

__ADS_1


"Ah, Kalia? Aku tidak tahu. Kenapa?"


Ashley dan Bellena seketika menghentikan langkah mereka saat mendengar jawaban Daryl. wanita itu mengernyitkan keningnya dan memasang raut wajah heran.


"You're useless, then."


Tanpa mempertimbangkan perasaan laki-laki yang terlihat terkejut tersebut Ashley menyuruhnya kembali. Sejak awal, ia hanya mengajak Daryl untuk mendapatkan informasi, bukan yang lain.


Ashley kemudian berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu bersama Bellena yang merasa sangat tidak enak hati.


Tidak ingin mundur dan pergi begitu saja, sambil mengejar mereka berdua Daryl berkata,


"Tunggu, aku tahu! Baru saja ingat!"


Meski bukan kencan, tidak masalah. Ia tetap akan pergi. Jika itu mengenai hal yang disukai Kalia, harusnya masih tidak jauh dari gadis pada umumnya.


Namun Daryl juga tidak mengetahui apa yang disukai gadis pada umumnya.


Alhasil, orang yang bersangkutan pun dikejutkan dengan berbagai macam barang yang tiba-tiba di kirim ke rumahnya.


Awalnya, para pelayan sangat heboh karena berpikir itu dari Joseph, tunangan Kalia. Namun Kalia tahu, jika hal itu sangatlah tidak mungkin. Hingga kepala pelayan yang menerimanya akhirnya berkata jika itu semua adalah pemberian dari putri keluarga Midgraff sebagai tanda penyesalan atas kesalahanya.


Tentu Ashley tidak mungkin mengatakan itu. Di sanalah peran Bellena.


Setelah memindahkan semua hadiah itu ke kamar Kalia, barulah ia membukanya.


Melihat kesungguhan Ashley yang memberinya begitu banyak hadiah, hatinya sedikit luluh. Dibukalah semua kotak itu dari yang kecil hingga yang besar.


"...Apa-apaan ini."


Dari peralatan minum teh beserta tehnya, kue, gaun dan sepatu yang tidak sesuai ukuran, hiasan ruangan, korset, boneka, mainan kayu, pisau cukur, kemeja pria, jepit rambut, dan lain-lain. Sangat jelas jika si pemberi hanya asal beli ini itu karena tidak tahu apa yang harus dibeli.


Kalia menyesal karena sempat luluh.


Di tempat lain, dua orang manusia yang tengah berjalan menyusuri kota sama sekali tidak merasa janggal. Salah seorang wanita di antaranya hanya sedikit terganggu karena ia hampir menghabiskan 400 koin emas untuk orang lain.


"Kalo ga berhasil, lo ganti semua uang gua."


Pria yang mendengar ucapan wanita itu hanya tertawa sambil mengiyakan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang sadar jika seseorang tengah mengawasi mereka.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2