
Mengakui bahwa ia memang sempat menyukai Daryl, Eva berkata,
"Karena dia sangat tampan, keren, dan manis di saat bersamaan."
Sifat dingin dan tak acuh Daryl memang memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Namun tentu itu hanya berlaku karena Daryl memiliki paras yang rupawan. Di sisi lain, sifatnya terhadap orang-orang yang ia pedulikan sangatlah berbading terbalik dengan yang diketahui publik.
"Tapi saat orang tuaku menjualku, aku justru mengharapkan kedatangan orang lain."
"Orang yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya."
Terkadang, sulit bagi seseorang untuk memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan, saat mereka terlalu percaya dengan apa yang mereka pikir benar.
"Saat dia kembali muncul setelah sekian lama, saat mengetahui jika selama ini dia masih terus mencariku, rasanya... sedikit menyedihkan. Aku tidak ingin membuatnya menderita."
Terdiam sejenak, sebuah senyuman kemudian tergambar di wajah Eva.
"Tapi sejujurnya, aku tidak bisa menyangkal kalau itu juga membuatku sangat senang."
Menjawab pertanyaan Ashley yang menanyakan kapan Eva dipaksa meninggalkan keluarganya, wanita itu menjawab saat ia berusia 13 tahun.
Setelah dicari-cari selama lebih dari sepuluh tahun dan akhirnya ditemukan, Eva tiba-tiba kembali menghilang. Ashley paham betapa frustasinya Will dikarenakan hal tersebut. Terlebih lagi, saat orang yang ia pikir dapat membantunya menyelamatkan Eva dari Far, ternyata tidak lebih dari seorang baj***an yang tidak peduli dengan nyawa wanita itu.
Namun, hal itu tetap tidak mampu menghapus rasa tidak suka Ashley terhadap laki-laki pirang yang berani menipunya tersebut. Begitu pula dengan dirinya sendiri, yang berhasil ditipu dengan mudahnya oleh orang asing.
Mengesalkan memang, tapi jka bukan karena kebohongan Will, ia juga tidak akan menyadari apa yang sebenarnya ia rasakan. Alasan yang mampu membuatnya menerima kebohongan pria tersebut dengan positif.
Melanjutkan kisahnya, Eva menceritakan tentang bagaimana ia bisa berakhir di tempat Guilherme. Ia berkata bahwa bangsawan menjual salah satu anaknya untuk membayar hutang adalah hal yang normal.
Setelah pindah ke berbagai wilayah bahkan sampai ke luar kerajaan, berganti-ganti profesi dan juga kepemilikan, akhirnya Guilherme membelinya di sebuah pasar budak dengan harga murah. Saat itu, jika tidak berhasil terjual, mungkin seluruh organ dan bagian tubuhnya yang lain akan tersebar di pasar gelap, lalu hanya menyisakan nama yang bahkan tidak akan dikenang oleh keluarganya.
Sifatnya saat itu sangatlah berbeda dengan yang sekarang. Gadis yang dikenal Daryl adalah Thalistine yang ceria dan penyayang. Wanita yang dikenal Ashley adalah Eva yang sangat menyukai kesenangan dan hal-hal menantang. Sedangkan yang dilihat Guilherme saat itu adalah budak yang sangat membenci dunia dan seisinya namun tetap berusaha untuk bertahan hidup.
Memberinya sebuah kehidupan baru dengan batasan namun juga kebebasan, Guilherme mengubah nama Thalistine menjadi Eva. Setelahnya, seolah telah terlahir kembali, Eva mampu melupakan semua kenangan buruknya sebagai Thalistine. Hal yang membuatnya begitu menyukai nama Eva dan membuang Thalistine.
Nama baru dengan kepribadian baru? Bagi Ashley, itu tidak lebih dari bersandiwara dan menipu diri sendiri.
"Nama ga penting. Yang penting itu lo sendiri."
Mendengar pernyataan yang begitu dingin dari Ashley meski ia telah menceritakan latar belakang pemikirannya, Eva merasa kecewa.
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?"
__ADS_1
"Selama ini, namaku adalah identitasku, yang menunjukan siapa diriku yang sebenarnya. Itu semua memiliki arti."
"Artinya lo cuma sembunyi di belakang nama lo, daripada nunjukin diri lo yang sebenarnya."
Semakin merasa tersinggung karena ucapan si Pirang, Eva mengerutkan dahinya. Memalingkan wajah, wanita itu merasa Ashley tidak akan paham dengan apa yang ia rasakan.
"Tidak, kau tidak mengerti."
"Ga. LO yang ga ngerti."
Bangkit dari tidurnya dan duduk menatap Eva, Ashley kemudian melanjutkan,
"Kenapa lo ngebiarin nama lo sendiri ngebatasin lo?"
"Kalo itu yang lo sebut identitas, trus lo sendiri itu apa?"
Bagi Ashley, nama tidaklah lebih dari label untuk memanggil seseorang. Menganggap nama sebagai doa dan kehormatan tidaklah salah. Namun tidak seharusnya posisi nama tersebut menjadi inti dari seseorang.
"Kalo nama nunjukin siapa lo yang sebenarnya, trus siapa gua? El, Ashelia itu bukan nama gua."
"Lo mau bilang gua gabisa jadi diri gua sendiri karna gua gabisa pake nama asli gua?"
Melirik kaki kiri gadis pirang tersebut, Eva semakin dibuat tak bisa berkata-kata. Ia bahkan harus merelakan kaki kirinya untuk menjadi Ashelia?
Tidak seekstrim itu. Tapi secara tidak langsung, iya.
Bukan hanya kehilangan kakinya, ia bahkan harus hidup dengan identitas orang lain? Tidak mampu membayangkan perasaan gadis tanpa nama tersebut, Eva menatap Ashley iba.
Akan tetapi, seketika itu juga ia tersadar saat melihat ke dalam mata Ashley. Siapa yang harusnya merasa iba terhadap siapa?
Tidak peduli di mana dan bagaimana keadaannya, gadis pirang tersebut tetap berusaha menjadi dirinya sendiri. Memiliki nama atau tidak, ia tidak peduli, karena identitasnya adalah dirinya sendiri. Bahkan bila waktu dan rasa sakit akan mengubah Ashley sepenuhnya kelak, ia tetap akan mengakui perubahan tersebut sebagai bagian dari identitasnya.
"Jangan mandang nama lo lebih tinggi dari diri lo sendiri."
"Tapi yah, gimana lo bisa tau value lo sendiri, kalo lo gabisa nerima masa lalu lo?" Lanjut Ashley dengan wajah meledek.
Oh, Thalistine yang malang. Dilupakan oleh dirinya sendiri setelah semua rasa sakit dan penderitaan yang ia alami. Demi merasa lebih baik, Eva bahkan melupakan perjuangan hidup dan mati gadis malang tersebut. Padahal ia tahu betul, bagaimana rasanya menunggu hari esok datang hanya untuk membuktikan bahwa ia berhasil bertahan hidup hari ini.
Melihat Eva yang telah menerima dirinya sendiri sepenuhnya, Ashley kembali membaringkan tubuhnya di lantai yang dingin.
Bukan tidak menyukai dirinya yang lama, Eva sebenarnya lebih tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan semua mimpinya dan hidup sebagai pelacur selamanya. Lalu setelah mampu menerima kenyataan tersebut, ia memutuskan untuk menjadi siapa pun dirinya tanpa menyalahkan keadaan.
__ADS_1
"Boleh kutahu nama aslimu?" Tanya Eva yang sudah kembali berbaring di samping Ashley.
"Lo bisa kena kutukan."
Tertawa mendengar jawaban gadis di sebelahnya, Eva kemudian berkata jika kutukan tersebut datang dari Ashley maka ia sama sekali tidak keberatan.
Tidak memberi balasan, si Pirang membiarkan pembicaraan identitas tersebut berakhir di sana. Namun tidak dengan tindakan yang ingin diambilnya. Setelah mendengar itu semua, ada satu hal yang sangat ingin Ashley lakukan.
Dalam jeda hening yang tersebut, wanita pirang tersebut tiba-tiba mengatakan bahwa ia akan membawa Eva keluar. Tersenyum lembut, wanita mungil di sampingnya juga percaya jika kedatangan Ashley ke sana adalah untuk membawanya keluar.
Namun bukan hanya keluar dari gudang itu saja.
"Guilherme punya utang sama gua."
"Gua yakin dia ga akan keberatan ngejual lo ke gua."
Tertegun, Eva hanya melirik gadis di sebelahnya, tak percaya dengan apa yang baru saja Ashley ucapkan.
Meski terdengar aneh dari sudut pandang normal, namun Eva mampu menangkapnya sebagai hal yang paling mulia. Sebuah penyelamatan bagi orang yang tidak lagi memiliki hak atas dirinya sendiri karena terikat kontrak perbudakan.
"Apa itu berarti aku akan selalu bersamamu?"
"Ga selalu, tapi sering."
Eva memang beruntung Guilherme menemukannya saat itu, tapi bisa terus bersama Ashley juga adalah salah satu hal yang sangat ia inginkan. Tidak masalah, kan? Jika merasa senang akan hal itu?
Eva Miller juga tidak terdengar buruk.
"Miler?"
"Marga gua."
Seketika menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, Eva tidak bisa berkata-kata. Matanya berbinar-binar menatap sisi wajah Ashley yang sama sekali tidak menanpakkan ekspresi apa pun. Seolah ia telah terlampau bahagia, Eva merasa mati setelah ini pun ia tidak akan menyesal.
"Ha!? Siapa yang ngijinin lo mati sebelum buktiin kegunaan lo?"
"Lo pikir sembarang bisa make marga gua!?" Ucap wanita yang beberapa saat lalu berkata nama tidaklah penting.
Masih sangat kasar dan suka mengancam seperti biasanya, si Pirang tetap tak ingin kehilangan gelarnya sebagai seorang tiran. Meskipun begitu, Eva mampu memahami semua pesan tersirat yang tersimpan dalam ucapan Ashley. Hal yang membuatnya semakin yakin untuk mengikuti wanita tersebut tak peduli seberapa berbahayanya itu.
.................. Bersambung .................
__ADS_1