Cinderella Gila

Cinderella Gila
Happy Birthday


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk mengikuti Ashley kapan pun dan ke mana pun wanita itu pergi, Bellena menjadi lebih sering dihadapkan dengan keadaan yang selalu ingin ia hindari. Terutama saat ia tahu kini mereka sedang berhadapan dengan kelompok kriminal ternama.


Namun, meski harus sering dihadapkan dengan adegan kekerasan, Bellena masih tidak berani melihatnya secara langsung. Terus menghidar, bersembunyi, memalingkan wajah, dan menutup mata, mentalnya masih belum siap untuk menerima gambaran terperinci yang ditangkap melalui mata.


Sayangnya, kali ini gadis itu tidak bisa menanggulangi apa yang ia saksikan dengan kedua matanya.


Seorang pria yang merjalan perlahan ke arahnya sambil menahan rasa sakit di bagian paha, tiba-tiba kehilangan bagian tubuhnya yang paling penting. Terekam jelas dan terulang terus menerus dalam benak Bellena, tayangan mengerikan tersebut begitu mengguncang kejiwaannya.


Merasakan rasa takut, khawatir, dan cemas di saat bersamaan, rasa mual mulai menyambutnya. Tidak kuat menahan perasaan tertekan tersebut, keluarlah isi lambung sang pelayan.


Mengeluarkan produk olahan perut setengah jadi tersebut dengan cukup banyak, kepala Bellena mulai terasa pusing.


"Happy Birthday." Ujar Ashley yang membuat pandangan kosong Bellena kembali fokus ke arahnya.


Mengetahui pelayannya belum berani melihat pertumpahan darah, Ashley seolah memberinya sebuah ucapan selamat atas pencapaian yang dicapainya barusan. Seakan menjadi hal normal bagi orang dewasa untuk melihat hal seperti itu, Ashley menganggap Bellena telah melewati upacara kedewasaannya.

__ADS_1


Membiarkan bau anyir memenuhi tempat tersebut, wanita kejam itu kemudian melirik ke arah ketiga narasumbernya yang tersisa. Ia bahkan tidak terlalu mempedulikan kondisi pelayannya.


Kemudian, dikeluarkanlah tatapan dingin yang menusuk layaknya sebuah bekuan es runcing yang ada di langit-langit gua.


"Pertimbangin lagi pertanyaan gua."


Bergidik mereka dibuatnya, merasakan masa depan mereka akan bergantung hanya pada serangkaian kata yang digunakan sebagai jawaban atas 'permintaan saran' Ashley.


Melihat ke arah kurir kedua, Ashley pun menyuruhnya untuk mulai bersuara.


"Kalau ingin jumpa, ya temui saja."


Menutup mulutnya seakan ia sangat terkejut, dengan mata alis terangkat tinggi, Ashley kemudian berucap,


"Ya! Kenapa gua ga kepikiran?"

__ADS_1


"Tapi dia agak pemalu, lo mau bantu gua, kan?"


Menunjukkan wajah ceria polosnya, pria itu langsung mengiyakan permintaan Ashley tanpa pikir panjang. Sesingkat itulah giliran si kurir kedua.


Tanpa adanya perselisihan, pertanyaan mengenai bagaimana cara menemui Far pun berlanjut ke 'peserta' berikutnya.


Memasang wajah bingung, dua penjawab terakhir di sana dibuat sangat terheran-heran. Mereka tidak menyangka jika si kurir kedua tersebut bisa selamat dengan menggunakan jawaban konyol seperti itu.


Ingin mengambil jalan yang sudah pasti, kurir pertama pun berkata ia juga memiliki pendapat yang sama dengan kurir kedua.


Akan tetapi, trik tersebut tidak bisa ia lakukan sesuai keinginannaya. Ashley menginginkan sebuah jawaban yang berbeda dari setiap orang.


Tidak bisa mengambil jalan mudah, tidak memiliki cara untuk menemui Far, ataupun informasi yang lebih berguna, laki-laki itu tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan kepada Ashley. Bagaimana agar ia bisa selamat dari wanita itu sekali lagi?


Kemudian, terbesitlah sebuah fakta di pikirannya. Kenyataan bahwa dirinya telah memberi Ashley sebuah informasi untuk datang ke tempat itu. Berniat bermain kata, hasil yang ia dapatkan justru berbalik menyerangnya.

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2