
Tertengar suara benturan keras dari sisi luar pintu kamar Ashley. Hanya sekali, sebelum suara itu berganti menjadi suara ketukan pintu lembut beberapa detik kemudian. Keduanya, adalah suara yang ditimbulkan oleh Bellena.
Karena panik, Bellena spontan menggebrak pintu kamar Ashley tadi, dan langsung tersadar akan kesalahannya.
"N-nona, Tuan Ristoff sudah menunggu di bawah."
Mata Ashley langsung terbuka setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh pelayannya. Ia memang bisa menjadi egois, tidak bertanggung jawab, seenaknya sendiri, dan suka berbohong, tapi ada kalanya wanita itu konsisten dengan perkataannya.
Setelah insiden dengan Kalia minggu lalu, Daryl mengirimkan sebuket bunga dan surat untuk mendoakan agar Ashley cepat sembuh. Lalu, membalas surat tulus tersebut dengan bahasa sarkastis, Ashley justru terus kembali mendapatkan tanggapan yang positif.
Alhasil, Daryl pun berjanji akan menemani merayakan hari 'bebas'nya wanita tersebut, dan Ashley langsung menyetujuinya karena kesal. Akan tetapi, karena ada hal yang harus pria itu lakukan tepat di hari bebasnya Ashley, mereka pun memutuskan untuk bertemu di hari kedua.
Yang artinya hari ini, dan Ashley telah sepenuhnya melupakan janji tersebut.
Setelah menyuruh Bellena masuk, wanita itu kemudian bersiap dengan dibantu oleh pelayan kesayangannya.
Beberapa saat kemudian, turunlah mereka menemui pejabat sibuk yang sudah menyempatkan waktu tapi malah dilupakan tersebut. Namun, bukan hanya Daryl yang telah menunggunya di sana. Dari Alais, Marion, dan bahkan Vincent pun ikut berada di sana.
Alais ada di sana karena ia memang sedang mengawasi Daryl, orang yang berkata hendak menghabiskan waktu dengan nonanya hari ini. Sedangkan Vincent dan Marion, mereka harus ikut menemani Daryl dan bukan hanya sekedar menyapa karena alasan sopan santun. Meski banyak yang tidak menyukai hirarki tersebut namun Marquis memang posisinya lebih tinggi dari seorang Count.
"Ashelia, turunlah tepat waktu lain kali. Tidak baik membuat orang lain menunggu." Ucap Marion dengan senyuman anggun, berusaha menasihati putrinya atas kesalahan yang ia perbuat hari ini.
Menyambut drama dialog-bebas yang dilemparkan oleh Marion kepadanya, Ashley menjawab,
"Padahal aku udah siap-siap dari jam 4 biar ga telat, tapi tetep ga cukup, Ma."
Mendengar Ashley memanggilnya 'mama' jauh lebih mengejutkan Marion ketimbang saat wanita itu memanggil ibu tirinya hanya dengan nama depannya.
Tidak mampu menyembunyikan ekspresi terkejutnya, Marion hanya menatap Ashley masih melanjutkan candaanya.
"Mungkin besok harus dari jam dua." Ucap Ashley sambil sedikit menunjukan wajah bingung.
__ADS_1
Baik itu Marion, Daryl, Alais, ataupun Bellena, mereka berempat dibuat tercengang dengan nada bicara dan penggunaan bahasa Ashley yang tidak seperti biasanya. Preman kasar itu kini terlihat seperti seorang anak gadis normal yang memiliki hubungan baik dengan keluarganya.
Saat ketiganya hanya diam, dan Daryl hanya tersenyum melihat tingkah Ashley yang selalu menarik baginya, Vincent tertawa dengan begitu renyah.
Sedikit menundukan kepalanya ke arah Vincent yang berhasil membuat semua orang menoleh ke arah pria itu, Ashley pun tersenyum sambil berkata,
"Maaf merepotkan, Pa."
Masih mengontrol tawanya, Vincent kemudian memberi kesan bahwa ia sama sekali tidak keberatan. Pekerjaannya bisa menunggu. Melihat dengan siapa putrinya akan pergi juga hal yang penting baginya.
Berusaha mengimbangi Vincent, Marion pun ikut tertawa lembut. Ia berhasil menyamarkan tawa canggung yang ia paksakan itu dengan begitu natural.
"Sepertinya Ashelia sangat menyukai Tuan Ristoff." Ucapan wanita itu kemudian, sambil bergantian menatap Ashley dan Daryl.
Tidak sepenuhnya tersipu, Daryl hanya tersenyum karena ia pun tahu jika Ashley tidak mungkin benar-benar bersiap sejak pukul 4 pagi. Siapa yang akan mepercayai hal itu setelah mengetahui sifat Ashley?
Tidak ingin melanjutkan drama ibu-anak tersebut dan menghambat pekerjaan Vincent lebih lama lagi, Ashley pun berpamitan. Mengikuti dua sejoli itu, Vincent dan Marion kemudian mengantar mereka keluar.
Hendak memasuki kereta kuda yang telah disiapkan Daryl, Ashley meminta Bellena untuk tidak mengikutinya kali ini. Percaya dengan Daryl yang tidak mungkin membiarkan Ashley merusak properti ataupun mengganggu ketertiban umum, Bellena pun menuruti kemauan Ashley. Membungkukkan badannya, Bellena kemudian berjalan mundur sekitar 2 meter menjauhi nonanya.
"Lo ga niat mau ikut, kan?"
Sedikit membungkukkan tubuhnya sambil meletakan tangan kirinya di dada, Alais menjawab,
"Jika itu yang Nona kehendaki."
"Gua ga peduli lo mau ngapain aja. Just don't get in my way."
Mendengar ucapan Ashley yang normalnya terdengar seperti ancaman tersebut, Alais justru terlihat senang. Yah, Ashley sedikit tidak mengerti, namun kini ia seperti mendapatkan 2 Daryl. Orang yang tidak akan terpengaruh dengan intimidasinya lagi.
Pergilah kedua orang tersebut meninggalkan kediaman Midgraff. Saat Vincent dan Marion kembali masuk ke dalam, Bellena dan Alais masih terus membungkukkan badannya hingga suara kaki kuda tersebut tidak terdengar lagi.
__ADS_1
"Kau mau mengikuti, Nona?" Tanya Bella setelah mereka kembali mengangkat kepala.
"Tentu saja."
"Beritahu aku apa saja yang terjadi saat kau kembali."
Melihat wajah Alais yang berubah tidak nyaman setelah mendengar ucapan Bellena, gadis itu pun langsung menahan tangan Alias yang sudah siap menarik pedangnya.
Dari ucapan Bellena, memang orang bisa salah mengartikannya dengan menganggap gadis itu sebagai mata-mata yang mengawasi Ashley.
"Hey, jangan terlalu sensitif. Nona sangat sering memberiku kejutan, tapi tidak pernah suka menjelaskan."
"Aku hanya tidak ingin nenjadi satu-satunya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa." Lanjutnya menjelaskan.
Mempertimbangkan ucapan Bellena yang cukup masuk akal, Alais kembali menurunkan kewaspadaannya. Lalu, setelah menyetujui permintaan gadis itu, ia pun pergi menyusul Ashley dan Daryl.
...****************...
Dalam perjalanan, Daryl yang mengetahui Ashley baru saja bangun saat ia datang, yakin jika wanita itu pasti telah melewatkan sarapannya. Ia kemudian menawarkan untuk sarapan sekaligus makan siang, yang cukup diterima dengan baik oleh Ashley.
Mampirlah mereka di sebuah restoran restoran yang direkomendasikan oleh Daryl. Sebuah restoran yang lumayan senggang namun makanannya cukup enak.
Sejujurnya pria itu juga tidak mengetahui tempat-tempat seperti itu, asistennyalah yang membantunya menyiapkan rencana kencannya hari ini.
Sedangkan di luar restoran, di seberang jalan, Alais mengamati pasangan tersebut dari kejauhan. Tidak ada hal aneh yang tertangkap oleh matanya. Orang-orang di sekitar Ashley terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Namun ada satu orang yang cukup membuatnya penasaran.
Setelah nonanya masuk ke dalam restoran, Alais melihat sudut mata Ashley yang melirik ke titik tertentu di luar restoran. Mengikuti garis pandang tersebut, ia menemukan seorang laki-laki berambut pirang yang berpakaian layaknya seorang bangsawan.
Saat Alais berpura-pura menjadi kesatria yang menunggu majikannya di dekat kereta, orang itu berpura-pura sedang menikmati jajanan kaki lima sambil melihat jalan.
__ADS_1
Bangsawan mana yang mau makan makanan pinggir jalan sambil melihat debu melintas?
.................. Bersambung .................