
Seorang laki-laki yang ditemani oleh pengawalnya, berjalan melewati jalanan sepi menuju tempatnya menetap sementara ini. Dengan wajah kesal seperti baru kalah judi, laki-laki itu mendominasi pembicaraan antara dirinya dan kesatria wanita di sebelahnya.
"Looking for me?"
Meloncat menjauh, pria itu sangat terkerjut saat mendengar suara seorang wanita dari balik dinding yang baru saja ia lewati. Kesatria yang mengawal pria itu pun langsung melangkah maju untuk melindunginya.
Tak pernah mereka kira jika seseorang telah menantikan kehadiran mereka tepat setelah keluar daei gang.
Melihat kedua orang tersebut yang langsung meningkatkan kewaspadaannya membuat Ashley terkekeh. Terlebih karena merekalah yang mencari wanita itu terlebih dahulu.
Mulut laki-laki itu terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun ia kembali menutupnya dan lebih memilih untuk diam. Gadis yang ia cari-cari selama ini, secara mengejutkan justru datang menemuinya. Bagaimana wanita itu mengetahui keberadaan mereka? Kalia? Namun Kalia belum pernah mengkhianatinya selama ini.
Seiring dengan ekspresi Ashley yang perlahan berubah serius, ketegangan di antara mereka bertiga pun meningkat.
"Let's get straight to the point."
...****************...
Beberapa saat lalu. Setelah melepaskan narasumber yang didapatnya secara paksa, Ashley berniat memasuki penginapan tersebut untuk 'penyelidikan' lebih lanjut. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara dua orang tengah membicarakan sesusatu dengan bahasa yang tidak ia mengerti.
Suara itu berasal dari bagian belakang gang tempatnya berdiri. Tidak perlu memastikan lagi, Ashley tahu siapa yang akan muncul dari sana.
Mengulurkan tangannya ke samping, Ashley menahan kedua bawahannya untuk mengikutinya keluar. Diliriknya pengawal barunya tersebut oleh Ashley, sebelum kemudian berkata,
"Don't step in."
"Just sit and watch like a good dog." Lanjutnya sambil berjalan keluar dari gang tersebut.
Meski tidak mengerti arti dari ucapan Ashley, Bellena tetap dapat memahami keinginan nonanya. Digenggamnya baju yang pria itu kenakan oleh Bellena setelah itu.
Menoleh ke arah gadis itu, dilihatnya wajah Bellena yang seakan berkata 'aku tidak akan membiarkanmu ikut campur'.
Ucapan Ashley memang termasuk perintah baginya, namun tugas utamanya adalah melindungi wanita tersebut. Apa pun itu, keselamatan nonanya adalah prioritasnya.
"Aku tidak bisa membiarkan Nona terluka."
"Nona bukan orang yang perlu kau khawatirkan. Pikirkan saja dirimu."
__ADS_1
Kesatria itu mengerutkan dahinya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari pelayan pribadi Ashley. Orang yang seharusnya paling dekat dengan nonanya. Terlepas dari masalah yang sering ditimbulkan Ashley, Bellena tetap tidak seharusnya berkata demikian.
Tidak ada niat buruk sama sekali dalam kalimat Bellena, hanya saja memang mudah disalah artikan.
Sambil memegang tangan Bellena dan berniat melepaskan diri, pria itu berucap,
"Tugasku adalah melindungi Nona."
Namun melihat betapa keras kepalanya laki-laki itu, Bellena semakin mengeratkan genggamannya. Ia tidak akan melepaskan pria itu seakan hidup dan matinya bergantung pada hal tersebut.
"Kau akan menyesal tidak mengikuti saranku."
Untuk ukuran seorang pelayan, Bellena cukup berani dan percaya diri. Atau mungkin lebih ke arah 'tidak sopan'.
Dalam tatanan sosial, derajat seorang kesatria lebih tinggi dari seorang pelayan, terlepas dari latar belakang dan asal usul mereka. Namun sama halnya dengan Ashley, kini Bellena hanya menganggap pria yang bersih keras ingin memenuhi tugasnya itu sebagai pengganggu. Tidak ada alasan baginya untuk tetap sopan kepada orang tersebut.
Melintaslah dua orang asing yang juga berada di sana sedari tadi. Tidak mengerti dengan bahasa yang Bellena dan kesatria itu gunakan, mereka pikir dua sejoli di sana hanyalah pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
Tanpa menaruh perhatian lebih, Joseph dan pengawalnya terus melangkahkan kakinya keluar gang. Ada untungnya Bellena tidak ikut masuk bersama Ashley dan lebih memilih berjaga di depan pintu saat menemui Kalia di restoran kala itu.
Diliriknya kedua orang asing itu oleh Bellena, sebelum kesatria di depannya kembali membuka mulutnya.
Sambil menepis tangan kecil yang menahannya, pria itu beranjak. Namun Bellena kembali menghalanginya lagi dan membuat kesatria itu geram.
Sama kesalnya, gadis itu menarik kuat kerah baju pria tersebut, menatapnya dengan tajam sambil menahan diri untuk tidak berteriak.
"Dengar. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan Nona, dan aku tidak ingin mati hanya karena gagal menahanmu."
Mendengar ucapan Bellena yang semakin melantur dan terkesan melebih-lebihkan, pria itu merasa tidak tahan lagi.
"Berhenti bersikap berlebihan. Aku bisa menganggapmu sebagai ancaman untuk Nona dan mengakhiri hidupmu."
Bellena menyeringai. Wajahnya kini terlihat sebelas dua belas dengan Ashley. Dengan mata terbuka lebar dan senyuman jahat di bibirnya, ia membuat kesatria itu merasa ngeri.
Mungkin gila memang bisa menular.
"Kau bercanda? Gertakanmu tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Nona."
__ADS_1
Melihat sikap Bellena yang tidak terpengaruh dengan ucapannya, pria itu mulai berpikir Bagaimana sebenarnya keseharian dua gadis tersebut?
"Kau tau kenapa Nona kemari?" Lanjut Bellena melihat kesatria itu masih belum cukup diyakinkan.
"Ingat luka di leher Nona? Ada orang yang berani melukainya dan selamat. Nona datang untuk membalasnya."
Mendengarkan alasan yang sangat menggambarkan sikap Ashley tersebut, pria itu tidak terkejut sama sekali. Bellena pun awalnya tidak mengetahui hal itu, tapi setelah menyadari Ashley ke sana untuk mencari Joseph, ia langsung paham.
"Dan kau tahu siapa orang itu? Pangeran kerajaan Esillos." Tambahnya menjelaskan.
"Orang normal mana yang berani melakukan hal seperti ini?"
Kesatria tersebut terkejut mendengar hal yang sangat diluar dugaan tersebut. Bahkan dalam imajinasinya pun hal itu tidak akan pernah terlintas.
Anehnya, bukankah hal itu membuat Ashley lebih 'harus dihentikan'?
Seakan mengerti dengan kekhawatiran pria itu yang kini beralih ke arah yang lebih besar, Bellena menatapnya tenang sambil berkata,
"Nona bukan orang bodoh."
Ekspresi wajah tenang Bellena membuat pria itu tertegun. Ia sempat mempertanyakan loyalitas gadis itu, namun tidak lagi. Raut wajah gadis itu menggambarkan betapa besar kepercayaan yang ia taruh terhadap nonanya.
Sejujurnya, gadis itu tidak tenang sama sekali. Batinnya tengah menjerit meminta tolong, merasa semua pilihan yang ia miliki tetap akan berujung pada maut.
Berhasil meyakinkan kesatria tersebut, akhir pembicaraan mereka langsung disambut dengan suara benturan benda metal yang berasal dari luar gang.
Tempat di mana Ashley berada.
Hendak berlari menuju sumber suara, Bellena dengan sigap menahan lengan kesatria tersebut. Diletakannya tangan pria itu di atas tangan Bellena kemudian, membuat gadis tersebut mengeratkan genggamannya.
Namun berbeda dengan sebelumnya, kesatria itu tidak berniat menepisnya, melainkan hendak meyakinkan Bellena.
"Setidaknya kita mengawasi Nona dari jauh."
Melihat ekspresi wajah penuh arti tersebut, Bellena hanya bisa menelan ludahnya. Mau bagaimana pun, ia tetap merasa belum siap untuk melihat 'kekerasan'.
Di saat bersamaan, nonanya yang menyukai kekerasan itu justru terlihat begitu senang. Meski menahan diri untuk tidak tersenyum lebar, sorot matanya tidak mampu menutupi apa yang ia rasakan.
__ADS_1
.................. Bersambung .................