Cinderella Gila

Cinderella Gila
T-tungggu, ini salah paham-


__ADS_3

Melanjutkan rencananya menulis surat untuk mencari muka, seolah berpihak kepada Kalia, Ashley menulis permohonan kepada Asteron untuk mencabut hukuman pembatasan aktivitas putrinya. Dengan begitu, setidaknya keluarga mereka akan sedikit beranggapan jika Ashley adalah orang yang memiliki niat baik.


Selesai mengecap amplop surat yang akan ia kirim, dipanggillah orang yang berada di luar pintu kamarnya. Seorang laki-laki dengan pakaian rapi disertai sebuah pedang di pinggul kirinya pun masuk ke dalam. Ia memberi salam sebelum menanyakan alasan dirinya dipanggil.


Tidak seperti standar yang Ashley tetapkan, laki-laki tersebut hanya membungkuk biasa.


Tanpa mempermasalahkannya, Ashley memberikan surat yang ia tulis kepadanya dan menyuruhnya mengirimkan benda itu ke kediaman Derius.


Seperti orang yang tidak mengetahui aturan dasar Ashley, laki-laki tersebut menjawab.


"Maaf Nona, mengantar surat bukan tugas saya."


Dengan wajah 'mencoba' santai, wanita itu hanya merespon,


"Lo atasan gua?"


"Bukan, Nona."


"Lo sederajat sama gua?"


"Tentu saja tidak, Nona." Jawabnya mulai menundukkan kepalanya sadar inti ucapan Ashley.


Wanita itu kemudian menatapnyanya sinis sebelum melanjutkan ucapannya.


"Apa pun posisi lo, bawahan tetep bawahan. Kalo gua suruh kirim, kirim. Paham?"


Ia pun menundukkan kepalanya sekali lagi sambil menjawab instruksi atasannya. Sambil membawa surat tersebut, ia berjalan keluar kamar Ashley. Sedangkan wanita yang duduk di kursi kerjanya tersebut hanya memperhatikan laki-laki yang telah ia tandai tersebut.

__ADS_1


Karena tidak bisa hanya berdiam diri menunggu esok, Ashley bangkit dan memutuskan untuk melakukan hal lain. Ia berniat mengecek lokasi-lokasi yang belum sempat ia telusuri sebelumnya saat bersama Daryl. Ia juga belum melihat secara langsung beberapa titik baru yang ia dapat dari informan yang ia temui tempo hari.


Sambil membawa kertas peta kota Vinnas yang ia gambar sendiri, Ashley berjalan keluar dari kamarnya. Dibukalah salah satu pintu besar tersebut dan didapatinya seorang laki-laki tengah berdiri di samping kanan pintu tersebut. Orang yang sama yang baru saja ia utus mengantar surat.


Laki-laki itu menunduk dan mengatakan jika ia telah menyuruh seseorang untuk mengantarkan surat Ashley. Ia kemudian menanyakan apakah nonanya hendak pergi keluar karena wanita itu kembali mengenakan mantelnya.


Dengan wajah malas Ashley pun mengiyakan. Usahanya menyingkirkan kesatria tersebut gagal.


Pergilah ia ke kota bersama pengawal barunya.


Hari mulai gelap namun Ashley masih memiliki banyak tempat yang perlu ia cek. Setia menemani nonanya, laki-laki itu berjalan mengikuti kemana pun Ashley melangkahkan kakinya.


Tanpa mengetahui niat wanita itu, jelas kesatria tersebut dibuat merasa aneh. Mereka hanya berputar-putar tanpa tujuan yang jelas, melewati gang-gang mencurigakan dan beberapa kali menemui jalan buntu.


Di sisi lain, wanita itu juga merasa ada yang aneh dari pengawalnya. Saat seorang kesatria harus memiliki keberanian yang tinggi, kenapa orang tersebut justru terlihat gelisah setiap kali mereka memasuki gang yang memang rawan dengan kejahatan?


"N-nona, tidak bisakah kita melewati jalan yang lebih ramai?" Ucap laki-laki muda tersebut.


Jelas sekali ia bukan seorang kesatria.


Siapa yang menunjuk orang itu? Apakah Vincent tahu akan hal ini? Bagaimana orang sepertinya bisa diterima menjadi kesatria?


Sampailah mereka di daerah yang penuh dengan bar-bar kecil. Dapat dilihat di sana dan sini terdapat banyak orang yang mabuk.


"Hah!?" Sahut Ashley tiba-tiba yang membuat kesatria gadungan tersebut kebingungan.


Suaranya yang cukup keras membuat orang-orang yang berada di sana mengalihkan perhatian mereka kepada wanita tersebut. Sambil melihat wajah kesatrianya, Ashley melanjutkan,

__ADS_1


"Mereka minum karna habis kerja keras, kenapa salah?"


"Ngatain mereka sampah ga guna yang cuma negrusak pemandangan bukannya agak keterlaluan?"


Wajah laki-laki itu terlihat panik setelah mendengar bualan yang dikatakan nonanya. Matanya melirik ke sekitar, mendapati para pemabuk itu kini menatapnya dengan penuh amarah.


Satu persatu dari mereka pun mulai berdiri dan menghampiri kestaria tersebut. Sedangkan Ashley perlahan menjauh, memberi ruang kepada mereka untuk mengepung laki-laki tersebut.


"T-tungggu, ini salah paham-"


Salah satu orang dari kerumunan penuh amarah itu kemudian memukul wajah laki-laki tersebut. Disusul dengan yang lainnya, satu persatu mulai menyumbangkan kepalan tangan mereka, hingga akhirnya mereka beramai-ramai memukuli kesatria tersebut.


Melihat kesatria gadungan itu berhasil ia kerjai Ashley tertawa.


Mendapat peluang untuk pergi sendirian, ia pun memanfaatkannya, meninggalkan laki-laki malang tersebut dihajar tanpa perlawanan.


"Ah! Nona! Tunggu! Anda mau kemana!?"


Berjalan keluar dari area tersebut, ia tanpa sengaja melihat seseorang yang sangat familiar. Gadis yang beberapa hari terakhir ini terus ia lihat.


Kalia, berjalan terburu-buru di malam hari tanpa pengawal. Jelas sekali ia menyelinap keluar dari rumahnya.


Namun masalahnya, jalan yang ia tuju adalah jalan yang akan mengantarkannya ke wilayah yang cukup berbahaya, dan itu bukan wilayah Harun.


"****."


Rencana yang akan ia lancarkan besok, datang lebih awal.

__ADS_1


..................... Bersambung .....................


__ADS_2