
Melihat seseorang yang tidak terkejut saat menyaksikan rekannya ditangkap, Ashley merasa aneh. Orang itu bahkan dengan begitu mudahnya mengikuti kata-kata Bellena seperti orang bodoh.
Mengetes respon yang akan pria itu berikan, Ashley sengaja menusuk kaki kurir ketiga lalu menodong leher pria malang tersebut menggunakan pisau. Melihat hal itu secara langsung, orang bodoh pun pasti paham jika situasi yang sedang ia alami sangalah buruk.
Namun sebaliknya, si Kurir Kedua tetap tidak bergeming dan tidak memperlihatkan rasa takut sama sekali. Bukti yang cukup untuk meyakinkan Ashley jika orang itu hanya pura-pura bodoh.
Lalu, setelah menyaksikan ketiga rekan satu bidangnya tewas terbunuh, pria tersebut justru berkata ia sedang menunggu seseorang untuk memporak porandakan organisasi Far. Bisakah Ashley mempercayai orang seperti itu?
Wanita tersebut tidak paham bagaimana rasanya memberontak, karena ia sangat bangga dengan seluruh pencapaian yang ia dapat selama ini.
Akan tetapi, ia pun tahu jika permasalahan memang harus selalu ada untuk menjaga keseimbangan dan mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi.
Jika sesuatu yang bersifat absolut berlangsung terlalu lama, sejatinya hal itu akan menghambat pertumbuhan dan mempengaruhi keseimbangan. Saat itulah mereka membutuhkan sebuah gebrakan baru. Hal yang umumnya berakhir pada sebuah kudeta.
Mungkin tidak sampai tahap kudeta, namun kurir tersebut jelas menginginkan perubahan karena telah melihat ketidak seimbangan. Permasalahan yang membuatnya tidak ingin memihak pada orang-orang di sisinya.
Menjelaskan bahwa atasannya tidak dapat ditemui tanpa membuat janji terlebih dahulu, pria itu pun meminta Ashley untuk datang besok. Dengan alasan jika wanita tersebut hendak bergabung dalam bisnis obat yang mereka lakukan, ia hendak membujuk atasannya agar mau menemui 'rekan' barunya.
"Dan gimana caranya gua yakin kalo lo ga kabur atau ngadu."
Mulutnya ternganga begitu mendengar jawaban Ashley. Ia hendak membalas perkataan tersebut namun tidak ada satu kata pun yang mampu terucap. Ia tidak memiliki bukti, dan tidak berniat mengambil resiko dengan memberi jaminan.
"...how could you." Desusnya tidak habis pikir.
Ia sudah mempercayai Ashley dan mengatakan hal yang sebenarnya. Ia bahkan menunjukkan sisi seriusnya saat ia tidak suka bersikap serius.
Namun hanya karena kau percaya kepada seseorang, bukan berarti orang itu akan berbalik mempercayaimu.
Setidaknya, tidak seinstan itu.
"Aku ingin mengatakan kau bebas untuk tidak percaya, tapi aku ingin kau percaya."
"Dan kalau sebatas melarikan diri- Jika kau ingin melawan Far, kau harus bisa mengatasi hal sepele seperti itu, kan?" Lanjut pengawas yang merangkap sebagai kurir tersebut.
Memberi jeda selama beberapa detik sembari melemparkan tatapan penuh rasa ciruga, Ashley membuat suasana di sana kembali menegang.
Memejamkan mata saat ekspresi wajahnya berubah santai, Ashley terkekeh. Ditatapnya lagi pria di depannya dengan kesan meremehkan.
__ADS_1
"Well, Imma forget about Far for a while and hunt you down if you dare to mess with me."
Menelan ludah, laki-laki itu secara insting dibuat tidak berani macam-macan oleh Ashley.
Meski datang dari kerajaan yang dikenal memiliki penduduk mayoritas ahli dalam seni bertarung, ia tidak mempunyai kemampuan tersebut. Karenanya, instingnya menjadi lebih sensitif. Ia bisa membedakan dengan jelas mana yang hanya gertakan dan mana yang benar-benar ancaman.
...****************...
Memutuskan untuk mempercayai pengawas itu, Ashley dan kedua bawahannya pun kembali.
Karena merasa harus segera meninggalkan tempat itu sebelum ada yang memergoki, mau tidak mau Ashley harus merelakan pisaunya yang terbuang entah di mana. Terlalu banyak tumpukan barang bekas di area tersebut.
Istirahat sejenak dan bangun ketika sinar matahari telah lama menyinari seisi kediaman Midgraff, Ashley menutuskan untuk berendam air dingin lebih lama dari biasanya.
Selesai mendinginkan tubuh dan pikirannya, Ashley berniat ikut makan siang bersama setelah sekian lama.
Berjalan melewati tumpukan surat tak terbaca dengan segel lambang keluarga Derius, wanita itu beranjak meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.
Dari tulisan tangannya, Ashley sudah tahu siapa yang mengirim tumpukan kertas lipat tersebut. Gadis yang sama yang terus mengiriminya surat saat masa penyembuhan.
Berkata ayahnya tidak akan memberi ijin jika tidak memiliki bukti berupa surat balasan dari Ashley, Kalia tidak bisa melakukan kunjungan dadakan. Di sisi lain, sengaja mengabaikan gadis itu karena tidak ingin terganggu, Ashley akhirnya terus mendapatkan surat protes dari Kalia setiap hari.
Tak lama kemudian, tibalah pasangan suami istri yang sama sekali tidak menyangka putrinya akan ikut makan bersama hari ini. Menampakkan wajah bersinarnya, Vincent menyapa gadis yang memberinya hormat dengan anggun tersebut.
Melihat sang kepala keluarga telah hadir dan singgah di kursinya, para pelayan pun mulai bekerja.
"Sudah lama kita tidak makan bersama. Kau selalu terlihat sibuk, apa kau makan teratur?" Tanya Vincent di sela menyantap makanannya.
Menjawab dengan jawaban singkat, Ashley mengiyakan pertanyaan tersebut agar tidak membuat Vincent khawatir, meski sebenarnya ia selalu mengesampingkan waktu makan.
"Kenapa kau justru terlihat lebih sibuk? Papamu selalu menanyakanmu setiap jam makan." Ucap Marion kemudian.
Berhenti mendadak saat hidangan yang hendak ia santap sudah berada di depan mulut, Ashley kemudian melihat ke depan. Sikap Marion memang cukup mengejutkan, namun ada hal lain yang lebih membuatnya terkejut.
"Ah, tidak apa. Kau mendapat teman baru? Bersenang-senanglah." Ucap Vincent mencoba tidak membebani putrinya.
Selalu mengurung diri, Vincent terlihat senang saat menyadari putrinya akhirnya memiliki teman baru.
__ADS_1
Ashley terdiam sejenak, memikirkan apakah tidak masalah jika seperti ini. Ekspresi wajah Vincent terlihat begitu hangat. Kalimat yang ia ucapkan dan cara bicaranya pun sangat ramah. Berbanding terbalik dengan 'papa' yang selama ini ia kenal.
Bahkan jika ini tidak nyata, apakah boleh seperti ini?
Dadanya kembali menyesak, dan persendian jarinya terasa ngilu. Berusaha tidak berpikir terlalu dalam, Ashley pun berkata,
"Saya..."
"Saya akan datang tiap jam makan."
Hendak berkata 'usahakan', wanita itu mengganti kalimatnya karena benar-benar ingin hadir dan makan bersama 'keluarganya'.
Sesaat setelah mendengar janji dari putri tunggalnya, Vincent terdiam, sebelum akhirnya kembali tersenyum sambil mengangguk.
"Ya, kalau begitu aku juga akan datang setiap jam makan." Balas Vincent ikut menjanjikan waktunya.
"Jangan memaksakan diri jika pekerjaanmu sedang banyak." Ucap Marion lemah lembut mengkhawatirkan suaminya.
Membalas kekhawatiran istrinya dengan jawaban yang meyakinkan, Vincent mengatakan jika makan bersama juga bisa menyegarkan pikirannya kembali. Dengan begitu pekerjaannya juga akan lebih cepat selesai dan ia tidak perlu begadang seperti yang dirisaukan Marion.
Melihat Vincent dari ujung meja makan, Ashley hanya diam seribu bahasa. Tidak melakukan hal lain selain menatap pria tersebut dengan tatapan yang penuh arti selama beberapa saat, Ashley membuat Vincent menyadari tatapan tersebut.
"Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja." Tanya Vincent dengan senyuman lembut.
Menggelengkan kepala, Ashley kemudian berkata,
"Nothing. You look good together."
Terkejut dengan pernyataan yang tidak terduga tersebut, baik Vincent maupun Marion hanya mematung.
Sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, Ashley pun kembali melihat ke depan, mendapati kedua orang yang diam membeku di sana.
Memecah kecanggungan tersebut, Vincent tertawa.
Ya, seperti itu.
Ashley yakin, jika ibunya mendengar putrinya baru saja mengatakan ayahnya terlihat serasi bersanding dengan wanita lain, beliau pasti juga tertawa lepas seperti itu.
__ADS_1
.................. Bersambung .................