
Para penjaga gudang.
Dengan berbagai latar belakang, mereka bekerja sebagai pengurus gudang pelelangan. Kerasnya kehidupan, kesenjangan sosial antara bangsawan dan rakyat biasa, telah merenggut berbagai hak yang seharusnya mereka dapatkan.
Demi orang-orang terkasih, demi kelangsungan hidup keluarga mereka maupun diri sendiri, demi kehidupan yang sedikit lebih baik, mereka menghapus identitas asli mereka dan bergabung ke dalam naungan pasar gelap.
Ditugaskan dalam satu gudang, berkecimpung dan hidup bersama selama bertahun-tahun telah mempererat hubungan mereka. Saat tidak mampu lagi menemui teman, saudara dan orang terkasih, sesama penguruslah yang menjadi keluarga baru mereka.
Terbagi dalam beberapa grup, juga membuat para penjaga memiliki keluarga kecil mereka masing-masing.
Akan tetapi, seorang tawanan telah merenggut keluarga mereka. Bukan hanya satu, perlahan-lahan ia merampas hak hidup keluarga mereka satu-persatu. Hingga keluarga kecil tempatnya berbagi suka dan duka tidak tersisa lagi.
Terdorong oleh amarah yang memaksanya untuk membalaskan kematian rekan-rekannya, pria yang baru saja tertebas pedang Will kembali bangkit. Dengan luka dada terbuka lebar ia kembali mengangkat senjata, sebelum sang malaikat maut menyeretnya pergi dari dunia.
Serangan tidak terduga yang datang dari titik buta tersebut berhasil mengejutkan si pria pirang. Dengan kecepatan respon yang dimilikinya, ia berhasil menangkis pedang lawan. Jika bukan karena insting bertarung miliknya, Will pasti sudah terkena serangan telak pada bagian punggung.
Meski kalah dalam jumlah, namun para pengurus gudang tidak dapat menyamakan poin dengan mengepung tawanan-tawanan liar tersebut. Merasa mampu mengendalikan keadaan, membuat Will yakin jika kemenangan telah berpihak kepadanya.
Lengah, serangan pria itu pun menjadi tidak seakurat biasanya. Tebasan yang ia beri ternyata tidak cukup dalam untuk mengantar orang tersebut ke akhirat. Hal itu justru mengantarkan Will pada sebuah kesalahan karena telah meremehkan musuh di pedan perang.
Dengan pedang di tangan kanan Will menahan lawan pertamanya, dan dengan pedang kecil di tangan kiri ia menahan sang pejuang yang baru saja bangkit. Tidak bergerak, ketiganya saling beradu kekuatan menekan satu sama lain.
Akan tetapi, benarkah Will menahan serangan mereka? dan bukannya tertahan oleh mereka?
Bukan si Pirang yang Pejuang itu incar, melainkan sang pemimpin yang sama sekali belum menunjukkan kemampuannya.
Untuk mengalahkan suatu kelompok, serang pemimpinnya. Kunci moral suatu pasukan, ada pada pemimpinnya. Kesalahan, tanggungjawab, dosa, dan tindakan suatu golongan, ditanggung oleh pemimpinnya. Semua dendam dan amarahnya, ia tujukan untuk menjatuhkan sang pemimpin.
Setidaknya itulah yang ia percaya.
__ADS_1
Lalu, Eva, yang mereka pikir adalah atasan Ashley dan Will, menjadi faktor paling utama yang harus mereka seret ke neraka.
Memanfaatkan kesempatan dengan menahan pergerakan Will, laki-laki itu membuat celah bagi rekan-rekannya untuk menerobos ke belakang.
Tak mampu menghalangi mereka karena pergerakannya terkunci, Will menoleh ke arah sasaran musuh. Dengan wajah panik disertai amarah, ditatapnya wanita yang memasang ekspresi tidak jauh lebih baik darinya.
Haruskah ia melepas pertahanannya lalu berlari menghampiri Eva? Mampukah ia sampai ke sana setelah menerima tebasan lawan? Apakah akan ada bedanya jika ia menggunakan tubuhnya sebagai tameng dan terbunuh tepat di depan Eva?
Tidak mampu mengharapkan pertolongan Ashley yang berada jauh di depan, Will kehabisan cara untuk melepaskan diri dan menolong Eva.
Tanpa tahu harus berbuat apa, ia mengeratkan gigi menahan amarah atas ketidakberdayaan yang ia rasakan. Meningkatkan kekuatan, Will terus berusaha mendorong kedua lawannya menjauh sembari bergelut dengan waktu.
Menyaksikan beberapa laki-laki dengan niat jahat mendekat membuat ekspresi wajah Eva berubah. Dalam titik ini, akting sudah tidak berguna lagi. Mereka yang telah membulatkan tekat untuk membunuhnya tetap tidak akan berhenti, bahkan bila Eva memang seorang ahli pedang.
Terlihat bisa- Bukan, aku bisa.
Merubah pola pikir guna memperkuat mentalnya, Eva mulai mempergunakan pedang yang sedari tadi hanya tertancap di lantai. Tergenggam di tangan kanannya, sambil meyilangkan bilah tajam tersebut di depan kaki, Eva meniru gaya tersantai Ashley.
Bukan hanya satu atau dua orang yang berlari menghampirinya. Juga bukan hanya dari satu arah mereka berniat menyerang Eva. Sama sekali tidak memiliki pengalaman bertarung, wanita itu dibuat kesulitan mengambil keputusan.
Ia bisa berpura-pura menjadi seorang ahli pedang, mengintimidasi dan membuat orang lain menganggap tinggi dirinya. Akan tetapi, dalam praktek nyata, orang yang sudah berpengalaman dapat langsung membedakan mana yang ahli dan mana yang amatir.
Ketepatan waktu.
Eva awalnya hanya diam menunggu- atau mungkin hanya sekedar bingung melihat dua orang pria bersenja menghampirinya. Namun saat salah satu di antara mereka mulai mengangkat pedang, Eva berpaling dari yang lain. Ia memusatkan seluruh perhatiannya kepada orang tersebut, bersiap-siap untuk menangkis serangan.
Sayangnya, ia terlalu cepat menyimpulkan.
Baginya yang masih asing dengan hal tersebut, tentu akan terselimuti rasa panik dan tidak bisa memikirkan tindakannya matang-matang. Satu-satunya hal yang menggerakkan tubuh wanita itu adalah respon bahaya yang disalurkan dari otak.
__ADS_1
Melihat keputusan Eva yang buru-buru ingin menghalau temannya, pria berambut cepak yang berada di sisi kanan Eva menyeringai. Tidak disangka, wanita yang mereka pikir sebagai musuh terkuat ternyata hanyalah seorang amatir.
Membiarkan sisi kanannya terbuka lebar, Eva memberi kesempatan kepada si Cepak untuk menyerangnya tanpa penghalang.
Melirik ke kanan, sejenak melihat hal apa yang akan menimpanya, Eva menenangkan diri. Dalam situasi tak terelakkan, wanita tersebut telah menerima takdir yang diberikan kepadanya. Ia tahu, baik Ashley maupun Will tidak akan sempat menyelamatkannya tepat waktu.
Meski demikian, ia masih ingin melakukan sesuatu demi mereka yang telah datang menjemputnya. Walau hanya satu orang, Eva ingin sedikit meringankan beban kedua rekannya. Walau itu berarti ia harus merenggut hak hidup orang lain.
Merubah niat bertahannya menjadi menyerang, Eva mengayunkan pedangnya sebelum si Cepak sampai. Terarah ke bagian leher, ia berusaha mengakhiri pertarungan terakhirnya dengan satu serangan.
Namun pedang bukanlah senjata untuk semua orang.
Benda berat tersebut membutuhkan tenaga dalam penggunaannya bukan hanya untuk diangkat ke udara lalu diayunkan layaknya melempar batu. Kestabilan dan genggaman yang kuat juga merupakan hal yang krusial saat menggunakan pedang.
Melihat serangan Eva yang dapat terbaca dengan jelas, lawan bertarung wanita itu pun menangkis menggunakan pedang miliknya. Begitu mudah dan tanpa usaha lebih.
Membentur bilah pedang lawan, pedang milik Eva kemudian memantul karena perbedaan kekuatan. Getaran akibat benturan pedang mereka bahkan berada di luar perkiraannya. Tak pernah ia bayangkan tangkisan pedang seseorang akan sekeras itu.
Dengan genggaman yang juga tak cukup kuat, terlepaslah satu-satunya senjata yang Eva miliki, meninggalkannya sendirian tak berdaya dalam kepungan musuh.
Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Saat kematian ada di depan mata, kilas balik kehidupan yang sering dibicarakan orang-orang tidak ia lihat sama sekali. Yang ada dalam pandangannya hanyalah wajah terkejut Ashley dan Will yang terlihat begitu jelas.
Ia harap, mereka tidak menyalahkan diri sendiri atas kepergiannya.
Dalam diam, Eva mengucapkan selamat tinggal...
kepada Ashley...
Will...
__ADS_1
dan Daryl, yang belum sempat ia temui.
...............Bersambung...............