Cinderella Gila

Cinderella Gila
Apa bedanya denganmu?


__ADS_3

Saat kaki Ashley menghantam keras wajah Daryl, orang-orang yang masih menyaksikan kejadian tersebut pun bersorak, membuat sebagian yang lain bertanya-tanya apa yang baru saja mereka lewatkan.


Hampir terjatuh hanya dengan satu tendangan, Daryl masih bisa menjaga keseimbangannya dan tetap berdiri. Sebelumnya, tak pernah ada yang bisa mendaratkan serangan pada pria itu. Ini adalah kali pertamanya.


Sakit.


Pria tersebut berpikir, apakah semua serangan memang sesakit itu? Atau mungkin karena yang menyerang adalah Ashley? Jika yang didapatkannya hanyalah tendangan biasa, bukankah berarti banyak yang jauh lebih menyakitkan?


Wanita itu lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Daryl, mengakhiri tontonan yang tidak dipungut biaya tersebut.


Dengan kepala yang masih tertunduk berdenyut-denyut, dilihatnya oleh Daryl cairan merah yang mengalir dari hidung ke puncak bibirnya, mengalihkan perhatiannya untuk sesaat.


Reflek luar biasa laki-laki tersebut kini tak berfungsi seperti yang semestinya. Atau mungkin karena ia tidak sama sekali tidak menyangka Ashley akan menyerangnya.


Menyadari kemarahan wanita itu, Daryl mengangkat kepalanya hendak meminta maaf atas sikap tidak sopannya yang asal menyentuh Ashley. Namun niatnya terhentikan oleh Bellena yang kemudian berdiri dan membungkuk ke arahnya.


"Dengan segala hormat, Tuan Ristoff."


"Mohon jangan buat Nona lebih marah dari ini." Ucap gadis itu sebelum akhirnya pergi mengikuti langkah Ashley.


Tidak ada yang bisa Daryl lakukan selain melihat punggung wanita pirang tersebut perlahan menjauh. Seperti kata Bellena, mengejar Ashley hanya akan membuat wanita itu semakin marah, bahkan bila hanya untuk meminta maaf.


...****************...


Kembali ke kediaman, Daryl langsung memasuki ruang kerjanya, menemui sang asisten yang telah menyembunyikan informasi mengenai Thalistine darinya selama ini.

__ADS_1


Akan tetapi, bukan hanya dirinya yang terlihat marah. Laki-laki yang tengah menunggunya di sana juga memasang raut wajah yang tidak bersahabat. Melirik ke arah surat yang sudah tidak ada lagi di atas mejanya, Daryl yakin Will pasti sudah membacanya. Alasan yang cukup untuk menjelaskan ekspresi wajah asistennya.


"Dia bilang apa?"


Dengan sorot mata tajam dan cara bicara yang tidak formal, Will memulai perdebatan antara mereka sebagai teman bukan atasan dan bawahan.


"Kenapa? Tidak suka rahasiamu terbongkar?" Sahut Daryl dengan nada dan raut wajah meledek.


Tidak mengetahui hal apa saja yang sudah dikatakan Ashley, Will tidak bisa mengelak ataupun membela diri. Belum tentu wanita itu mengatakan hal-hal yang sesuai fakta, sangat memungkinkan bagi Ashley untuk menyerang Will dengan mengelabuhi Daryl.


Merasa semakin yakin jika Ashley bukanlah orang yang baik setelah membaca surat tersebut, ia hanya bisa memperingatkan Daryl.


"Menjauh darinya. Dia hanya menganggapmu orang asing."


"Apa bedanya denganmu?"


Menanggapi perdebatan itu dengan tenang, Will tidak ingin menjadi emosional saat menghadapi Daryl.


"Sadarlah. Jika kau tahu lebih awal, kau akan melakukan hal beresiko. Kau pikir Thalia akan menyukainya?"


Bantahannya sangatlah mendasar, karena Daryl memang berniat mengambil Thalistine kembali secara paksa jika mengetahui di mana wanita itu berada.


Tidak berkutik, Daryl terdiam sesaat sambil memikirkan apa yang dapat ia rubah jika mengetahui fakta tersebut lebih awal. Hingga akhirnya ia harus mengakui ketidak berdayaannya dalam diam.


"...di mana dia? Kau bicara padanya?" Tanya pria itu kemudian.

__ADS_1


"Ya, dia baik-baik saja."


Memang ia ingin mendengar bahwa Thalistine dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi, perasaan terkhianatinya jauh lebih kuat saat mengetahui Will bahkan berkomunikasi dengan wanita tersebut. Sedangkan dirinya, harus menerima fakta bahwa ia tidak bisa menolong ataupun berjumpa dengan wanita itu lagi.


"Aku terlihat seperti candaan bagimu?"


Amarahnya perlahan semakin meningkat. Pikirannya dipenuhi dengan segala macam spekulasi yang pernah ia pendam dalam-dalam.


"Karena ini kau menyuruhku melupakan Thalia? Agar kau bisa memonopolinya sendiri?"


Will melirik ke arah pria di hadapannya, mulai merasa aneh dengan sikap Daryl.


"Berhenti melantur, aku melakukan ini demi kebaikan-"


"Omong kosong!" Sela Daryl yang tidak bisa lagi menerima alasan Will.


"Kau pikir aku tak tahu kau menyukai Thalia!? Kau iri padaku karena itu kau berusaha menjauhkannya dariku!"


Tertegun dengan wajah tak percaya, Will tidak menyangka Daryl akan mengatakan hal seperti itu. Memalingkan pandangannya sejenak, ia merasa tidak bisa lagi menghadapi Daryl yang tak terkontrol. Melanjutkan perdebatan itu hanya akan memperburuk keadaan.


Will pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dan memberi Daryl ruang untuk menenangkan pikirannya. Tidak bermaksud melarikan diri, ia hanya tidak ingin bicara dengan orang yang tidak bisa diajak bicara.


"Dinginkan kepalamu. Kebiasaan burukmu kembali."


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2