
Seorang pria memasuki aula utama kediamannya, tempat diselenggarakannya pesta perayaan ulang tahun adiknya. Ia baru saja kembali setelah berbincang dengan Ayahnya mengenai perkembangan hubungan keluarganya dengan keluarga lain.
Berjalan menuruni tangga, ia melihat kerumunan orang mengelilingi seorang gadis yang duduk di atas kursi roda. Tidak seperti biasanya, gadis itu menampakkan wajahnya dan berbicara dengan ekspresi penuh percaya diri.
Ia hanya mengetahui satu orang gadis bangsawan yang menggunakan kursi roda. Meski ciri-ciri fisiknya terlihat sama, sikap yang ia tunjukan sangatlah berbeda. Hal itu membuatnya sedikit ragu apakah gadis itu benar adalah orang yang ia ketahui.
Namun, bukan itu yang mengganggunya.
Seorang gadis yang memakai kursi roda, dengan tatanan rambut yang sudah berantakan dan noda pada gaunnya yang terlihat sangat jelas bahkan dari kejauhan, tengah dikelilingi banyak orang. Terlebih lagi, kedua adiknya berdiri di depannya seolah menganggapnya berbahaya dan tidak menerima keberadaannya.
Melihatnya masih bisa berbicara dengan percaya diri meski dalam keadaan seperti itu, justru terasa menjanggal. Ia pun berjalan mendekati mereka untuk melihat apa yang terjadi.
Semakin dekat ia berjalan, ia bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Meski tidak mengetahui keseluruhan ceritanya, ia mendengar Ashley berkata bahwa adik laki-lakinya telah memperlakukannya dengan kasar. Hal itu sedikit mengejutkannya karena jika benar, maka itu bisa mempengaruhi hubungan keluarga Derius dan keluarga Midgraff yang tentunya bukanlah hal yang baik.
Situasinya memang terlihat aneh karena orang yang terlihat seperti korban perundungan itu justru bersikap seperti si perundung. Namun ia juga bisa terjadi jika korban masih ingin melawan balik.
Dengan adanya kemungkinan jika orang lain tidak berani menghentikan kedua adiknya karena status mereka, ia merasa harus turun tangan untuk menjadi penengah mereka.
Daryl yang tertawa melihat pertunjukan Ashley langsung teralih saat melihat sepupunya berjalan mendekat. Dihalaunya laki-laki yang lebih tua 2 tahun darinya itu, tanpa mengetahui niatnya yang sebenarnya.
Laki-laki tersebut kemudian menatap Daryl dengan dingin seolah berkata 'apa yang kau lakukan?'.
Tanpa bergeser sedikit pun, Daryl juga hanya menjawabnya dengan tatapan tajam yang seakan memperingatkannya untuk tidak ikut campur. 2 lawan 1 sudah cukup menggelikan, dan sekarang kakak tertua mereka berniat untuk bergabung juga?
Tanpa peringatan, tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca yang membuat fokus mereka berdua berpindah ke sumber suara.
Dilihatnya gadis yang masih mengulurkan tangannya seperti menggenggam sesuatu tersebut.
__ADS_1
"K-kukira kau sudah menggenggamnya, makanya kulepas." Ucap gadis bergaun kuning bingung apakah harus menggunakan bahasa formal atau tetap dengan bahasa informal.
Saat di dunia Ashley bahasa formal digunakan untuk menunjukan rasa hormat, di sana bahasa formal menunjukan rasa takut.
Orang dengan status yang lebih rendah biasanya menggunakan bahasa formal kepada mereka yang statusnya lebih tinggi untuk menghindari masalah. Namun karena gadis tersebut merupakan salah satu dari orang yang merundung Ashelia, ia merasa malu jika tiba-tiba beralih menggunakan bahasa formal.
Sejujurnya Ashley tidak peduli, karena ia bukan bawahnya.
Wanita yang mengaku tangannya lemah itu hanya menatap pecahan kaca yang berada di dekatnya. Tanpa menghiraukan ucapan gadis bergaun kuning, ia hanya diam dengan senyuman yang kini terasa kosong tersebut.
Matanya merambat naik menuju lengannya. Ditatapnya bagian lengan yang digenggam erat oleh kakak Kalia beberapa saat lalu. Senyumnya memudar memikirkan tangan yang ia gunakan ternyata memang begitu lemah.
Ia memang siap jika tangannya harus remuk saat beradu mental tadi. Namun untuk benar-benar merasakan efeknya tanpa pembalasan yang setimpal, membuatnya sedikit tidak terima. Ototnya memang terasa sakit, tetapi ia tidak menyangka jika sampai tidak bisa menggenggam gelas.
Pikirannya berlarian ke sana kemari, mengumpulkan memori dari kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Sialnya, tidak ada satu pun yang baik. Semuanya merepotkan, mengesalkan, dan menyakitkan.
Perasaannya sangat tidak tenang. Seperti bom yang hampir meledak, ia merasa wanita tersebut akan mulai menjadi gila dan tak terkendali. Instingnya berkata jika ia harus segera melakukan sesuatu sebelum wanita itu yang memulainya duluan.
Melihat kakak sepupunya berlari mendekati Ashley, Daryl pun mengikutinya dari belakang. Ia berniat untuk menghentikan laki-laki tersebut namun tidak jadi saat tiba-tiba kakaknya justru berlutut di depan Ashley.
"Anda baik-baik saja?" Ucapnya sopan menghentikan niat Ashley untuk menghancurkan tempat tersebut.
Ashley tidak peduli lagi dengan nasibnya setelah itu. Hidup atau mati ia akan menghancurkan pesta tersebut untuk melampiaskan amarahnya karena merasa dipermainkan oleh takdir.
Namun sikap laki-laki itu membuat Ashley teringat dengan anak buahnya, mereka yang masih terus menunggu kepulangannya. Bagaikan seorang ibu, wanita itu menelan kembali semua amarahnya dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.
"Saya minta maaf atas perlakuan tidak pantas dari kedua adik saya terhadap Anda." Lanjut pria itu setelah melihat senyuman Ashley telah kembali.
__ADS_1
"Hah!? Aku yang menjadi korban di sini!"
Melupakan perbuatannya sebelum Ashley memasuki tubuh Ashelia, Kalia menyangkal. Satu-satunya hal yang ia ingat adalah saat di mana Ashley melakukan balasan.
"Kalia!" Bentak laki-laki di depan Ashley yang kesal karena adiknya yang tidak bisa membaca situasi.
Suara laki-laki itu begitu menggelegar hingga membuat semua orang tercengang. Air mata mulai menggenang di balik kelopak mata Kalia. Tidak biasanya kakaknya bersikap seperti itu. Mencoba menahan air matanya, ia hanya terdiam menundukan kepala, menyadari kakaknya yang begitu marah.
Kakak kedua gadis itu juga tidak berani membela Kalia. Ia hanya bisa berdiri di sana sambil melihat apa yang akan dilakukan oleh kakaknya.
Setelah semua kekacauan itu, ia baru mengetahui siapa nama gadis di depannya. Mendengar nama gadis itu disebut dengan begitu lantang, Ashley pun menyadari di mana ia berada saat ini.
Kediaman pangeran kedua, Asteron. Sahabat Klaus yang akan menemui kematiannya saat terang-terangan memasuki perangkap musuh.
Sedangkan gadis yang ia permainkan itu adalah Kalia. Putrinya yang akan mati di usia 20 tahun dan menjadi sumber kehancuran keluarganya.
Setelah mengingat-ingat, Ashley pun teringat dengan undangan ulang tahun yang ia terima sebelum berpindah dunia. Undangan yang jelas-jelas menyebutkan usianya akan menjadi 20 tahun.
Dengan kata lain, sebentar lagi.
Apa yang akan dilakukan seseorang jika ia mengetahui orang di depannya- 3 orang lebih tepatnya, akan mati sebentar lagi?
Ashley berdiri di depan pria itu. Ditampakkannya sebuah senyuman ramah sebelum akhirnya ia berpura-pura hampir jatuh, dan membuat laki-laki di depannya berusaha menangkap tubuhnya.
Dipeluknya erat laki-laki itu di depan semua orang, membuat siapa pun yang melihatnya terkejut bukan main.
Bagaimana tidak? Ia adalah pria yang sudah beristri.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^