Cinta Atlit Dan Pelatih

Cinta Atlit Dan Pelatih
Menahan Rasa


__ADS_3

Andien sampai di rumah sakit, Dita pamit dan akan menjemput Andien ,jika dia sudah selesai.Namun Andien mengatakan , hotelnya dekat dari rumah sakit.


Andien menanyai recepsionis, dimana ruamngan papi Dimas. Dan Andien mendapatinya, lantai 3, nomor 203.


Andien perlahan menekan tombol lift, beberapa perawat menatap dirinya.


" Mbak atelit tunggal puteri kan Andien kan mbak ?".


Andien hanya bisa mengangguk.Ternyata sudah banyak yang mengenal dirinya.


" Mbak ,minta tanda tangan, foto bersama dong...," ujar beberapa perawat histeris.


Andien dengan ramah berfoto dengan mereka, kemudian menekan lift dan memasuki lift.


Ternyaga banyak juga penggemarnya sekarang ,sejak menjuarai beberapa iven dan serjng di wawancarai media cetak dan elektronik.


Andien langsung menekan tombol 3 , tidak berapa lama kemudian Andien pun sampai ke lantai 3. Ada rasa deg degan yang dia rasakan, gimana reaksinya begitu bertemu dengan Dimas, terus terang dia belum siap, belum bisa menepis sosok Dimas se utuhnya.


Andien kembali di kerumuni para perawat dan beberapa pasien.


" Andien kan, atelit bulu gangkis kan, wahhh kamu jago banget Ndien, kamu mirip sama Susi Susanti lohhh, " ujar salah satu pasien.


" Andien, foto bersama dan minta tanda tangan yahh, " ujar salah satu pasien.


Andien pun mengangguk.Andien menduga ,anak remaja tersebut pasien penyakit kanker. karena rambutnya di pangkas sampai habis, mungkin melakukan kemotrapi.


Andien memberikan beberapa gantungan kunci ,gambar dirinya kepada beberapa anak disana.Untung saja ada dia sediain di tas nya. Promo dari tempatnya bernaung.Sejak menjadi juara banyak turnamen, Andien memiliki fans dan club yang di kelola fans nya, juga sang abang, Ardi.


Andien juga mendapat tawaran iklan ,baik dengan temannya ataupun sendiri.


Andien menatap pintu 203. Kemudian mengetuknya.


" Ya ..., silakan masuk, " ujar sebuah suara.

__ADS_1


Andien pun perlahan masuk.


" Nak...," jerit bu Bidan langsung mengejar Andien dan memeluknya.


" Bu....," ujar Andien.


" Dari mana tahu, rumah sakit dan bapak dirawat disini nak ?".


" Mamak dapat info dari tante nya mas Dimas ,kebetulan ketemuan di Jakarta.Kata tante mas Dimas ,baru balik liat bapak , bapak operasi jantung."


" Iya nak, makanya rumah di gembok aja, sudah cukup lama kami di Surabaya."


" Kenapa ibu gak Wa atau telepon Andien , " mata Andien berkaca kaca melihat sang bapak di pasangin banyak alat.


" Andien datang pak, cepat sembuh ya pak."


Air mata Andien mengalir deras di pipinya, teringat kasih sayang sang bapak.


" Bukan ibu gak mau beritahu kamu nak, ibu tahu ,kamu sangat menyayangi kami, dan kami juga sangat menyayangimu. Bahkan sewaktu bapak koma. dia sebut namamu nak dan nama Dimas. Kamu banyak bertanding, ibu gak mau ,kamu terganggu, melihatmu bertanding, jatuh bangun ,ibu cemas kamu cedera, ibu mendoakan kamu nak. Bapak pun bangun dari komanya ,mendengar ibu jerit, Andien ayo sayangg, menangkan pertandingan, ibu selalu doain kamu nak, ibu geregetan saat kamu bertanding di Jepang nak, yang final melawan Denmark dan pertandingan di Bali melawan pemain dari China."


" Kamu gigih nak, saat kamu bisa memenangkan pertandingan, bapak senang, tetapi kan dilarang bapak senang banget, mempengaruhi jantungnya."


" Gimana keadaan bapak bu ?".


" 1 bulan lalu udah keluar dari rumah sakit, ini masuk lagi ,mau cek nak, bagusnya kan rawat inap, jika di masukin alat ke jantung, di observasi, apakah bapak kuat apa tidak."


" Ya bu."


" Apa ketemu sama Dimas? dia sibuk nak, operasi setiap hari."


" Belum ketemu bu."


Seorang perawat memasuki ruangan dan bengong melihat Andien.

__ADS_1


" Kamu Andien kan, atelit kebanggaan Indonesia, atelut tungal Puteri, aduhh mimpi apa ketemu kamu Ndien," ujar sang perawat.


" Inj anak angkat ibu lohhh, cakep kan , pibtar banget nih sekoalh, bentar lagi udah selesai SMA nya. Sekolah percepatan dan juara 1. Lain lagi bidang olah raga, benar kan suster."


" Saya kalau Andien main bu, nonton tuh di depan TV. Menyemangati, namanya mengharumkan bangsa bu, kita tunjukkan kuta bangsa besar dengan segudang prestasi, benar kan Bu."


Bu bidan dan Andien saling berpelukan.


" Suster ,kamu foto dulu saya dan anak saya ya, udah lama kami gak ketemuan, anak saya udah kayak artis aja, orang minta foto dan ganda tangan".


" Mari bu saya ambil foto ibu dan anak, selesai gantian ya bu."


" Bu, bapak juga mau foto sama Andien, " ujar sang bapak terbata bata.


Andien mendekati sang bapak.


" Kita ber dua selfie aja ya pak, kalau Andien rindu, Andien pandangi foto kuta, ada waktu, Andien pasti kunjungi bapak, bapak cepat sembuh, belum Andien bawa jalan dan traktir makan, Andien mau beli rumah yang di tinggalin mamak pak , ngimpilin uang buat renovasi juga pak, doain anakmu ini ya pak".


" Amien nak, doa anak berbakti pada orangtua. akan Tuhan dengar nak, mamak sering nelepon, kamu banyak membantu keluarga, menjadi tulang punggung , usiamu paling kecil, namu. kamu paling gigih dan berjuang pantang menyerah."


Andien menghaous air mata sang bapak. Dia juga menghapus air mata nya. Begitu banyak dia berfoto dengan sang bapak dan bu bidan. Kemudian berfoto dengan sang perawat.


🥰😍🥰😍🥰😍


Jangan Lupa


Like


Vote


Koment


"

__ADS_1


__ADS_2