
Tidak terasa, beberapa hari di lewatkan di kota dengan julukan kota Pahlawan.Beragam peristiwa, beragam apa yang di alami.
Bahkan kejutan pun begitu membingungkan , bercampur kebahagiaan. Namun juga bercampur rasa bimbang dan bersalah.
Andien sudah mengabari keluarganya, jam keberangkatannya menuju Jakarta.
Dekapan Bu bidan dan papi Dimas sangat membekas. Disini, hanya ada suasana diam di antara mereka.
Begitu banyak ingin di utarakan, namun begitu sulit untuk di ungkapkan.
Andien mengenakan hoodie nya dan masker. Cuaca mendung , membuat udara lebih dingin dari biasanya.
" Mas susah buat balik Jakarta Ndien. sejak papi sakit, papi perlu perawatan intensif."
" Ya mas, jaga lah papi, kita ingin paoi sehat, kesehatan papi, menjadi orioritas mas, dan jaga juga mami mas, jangan sampai kelelahan mengurus papi."
" Yah Ndien, mbok Inah , mbok Iyem udah di Surabaya , buat jagain papi mas, mereka kemarin pulang kampung Ndien, karena kamu ada, mereka lelah juga ,bantuin mami jagain papi."
" Yalah mas."
" Jaga diri ya Ndien, " Dimas mengusap rambut Andien, mereka saling berpandangan , begitu banyak ingin di ungkapkan , namun mereka tak kuasa mengatakannya.
" Apa langsung masuk pelatnas Ndien ?".
__ADS_1
" Ya mas, kaki pasti di cek lagi, mereka bakalan meng cancel kalau kondisi Andien masih cedera. karena bakalan ada turnamen di Denmark bulan depan."
" Yalah Ndien, mereka kan ada dokter sendiri, jadi lebih selektif pengecekannya."
Dimas tiba tiba memeluk Andien dengan erat.
" Kamu sangat berarti buat mas Ndien, sampai kapanpun mas akan menunggumu, walau mas seperti pecundang, yang mengharapkan kekasih orang lain, namun jujur ,mas tidak bisa mencintai orang lain, selain kamu, dan mas asing pada wanita lain, sama seperti yang kamu bilang, raga tidak bernyawa. Kamu masih bisa menjalani hubungan bersama Edward ,tetapi mas tidak bisa ,menerima pun tidak bisa Ndien."
" Menerima ,namun membuat orang lain terluka ,lebih beban mental mas, apalagi yang kita jalin hubungan adalah pria baik baik, pria berprinsip, keluarganya juga baik, teman baik Andien juga adiknya, hubungan Andien dan Ajeng jadi konflik, dia tahu, Andien belum bisa se utuhnya menerima hati mas nya. Dia sampai nanya ,kurangnya mas nya apa.Yang kurang itu diri Andien mas, bukan mas nya."
" Kita hanya butuh doa Ndien, jodoh gak akan kemana , mau berliku, mau banyak perdoalan, terjebak di dalam dilema ,namun Tuhan akan mengurainya, percayalah Ndien."
Andien mengusap air matanya.
" Raih cita cita, mas doakan kamu Ndien."
" Mana ada mas blokir kamu, mas gak pegang handphone ,gak Wa kamu, mas gak mau ganggu hubungan kamu, namun saat kamu datang, mas gak bisa menepis semua tentang kamu Ndien.Mas lemah, dan jika orang mengatakan mas pengganggu hubungan orang, benar adanya, bukan maksud mas seperti itu, namun jika hati berbicara , apapun bisa terjadi, di posisi ini, sangat serba salah."
" Maaf, semua karena Andien mas."
" Bicara baik baiklah Ndien dan pikirkan yang terbaik. "
Andien mengangguk.
__ADS_1
" Mas boleh minta foto sama kamu Ndien?".
" Mas kayak buat Andien artis dehhh".
" Kamu dah artis Ndien. dimana mana kamu harus nyamar gini, bentar lagi, kalau ada yang lihat eajah kamu, pasti minta foto."
Andien hanya tersenyum.
Dimas mendekap pinggang Andien, mereka melakukan beberapa foto selfie.
" Gak usah buka masker ya mas."
Dimas mengangguk.
" Biar seperti misterius Ndien, mirip Aron Carter ,hehehehe".
Andien pun tertawa.
🤣🤭🤣🤭🤣🤭🤣🤭
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment