
" Kamu harus tahu Ndien, mas beneran hanya sebatas pasien dan dokter."
" Apapun itu, aku terima penjelasan mas. Aku tidak mau berdebat dan jika mengharapkan aku kembali ke rumah, aku tidak bisa, besok aku sudah berangkat pagi pagi benar."
" Dan hampir mau 2 tahun kita menikah, hidup kita masih menumpang di tempat mami dan papi, setiap ada persoalan, akan teredam karena masih numpang, mau ribut papi ada gangguan jantung. "
" Aku capek dengan semua ini. Apa ada gunanya mas beli rumah, namun rumah itu gak rampung rampung renovasinya? lain barang keperluan apapun tidak ada disana."
" Maaf Ndien, kesibukan membuat mas melupakan itu semua."
" Kesibukan juga membuat mas melupakan masih punya isteri."
" Ndien..., kenapa kita harus menjadi seperti ini? , mas tahu mas salah, namun.... , kita bisa kan menyelesaikan kesalah pahaman ini secara baik baik ?".
" Mau mas kebebasan kan?, baik mas...,akan Andien berikan. Mas ingin Andien mengerti mas kan, Andien udah lakukan. Bahkan Andien melihat mas makan berduaan ,tertawa dengan wanita itu, Andien gak permalukan dan labrak kan, kurang apalagi? , Andien mas bawa ketempatnya, Andien melihat bagaimana lembut mas memperlakikan anak dan sang ibu, itu semua membuat Andien sadar, bahwa Andien bukan siapa siapa. Andien banyak merenung, mungkin salahku mengejar karir dan membela negara, salahku menikahi seseorang, menilainya dia gak akan sakiti aku, expektasi aku terlalu besar dalam berharap mas, kenyataannya aku harus sadar dari mimpi indahku."
__ADS_1
" Jika hanya karena janji pernikahan ,kamu datang saat ini di hadapanku, maka lupakan saja. Banyak manusia pandai dan mampu berjanji, namun melaksanaan nya tidak."
Dimas mengusap wajahnya.
" Tidak perlu akting, seolah olah galau kehilangan isteri, isteri hanya status, mungkin kenyamanan dari wanita itu kamu butuhkan, dia tipikal manja, butuh banget laki laki perhatian kayak mas. Sedangkan aku wanita mandiri, sejak kecil berjuang untuk apapun yang ingin aku wujudkan.Gak mau repotin orang lain, suami atau siapapun. Aku gak bisa bertopeng manja manja gitu sama kamu mas, aku apa adanya."
" Ndien.......".
" Sudahlah, pulang saja. Dan aku sadar mas,inilah dunia ku, jangan kamu rusakkan lagi mental dan pikiranku, aku mendapatkan apapun dengan keringat ,air mata dan perjuangan. Disinilah sebenarnya rumahku.Tempat ini yang menerima aku."
" Kita tidak membutuhkan apapun. Jika hati sudah berubah, mau konseling sama rohaniwan manapun ,gak efek mas. Cara mas memandang wanita itu, kasihan, iba, simpatik, atau mau ngayomi, maka monggo...., lakukan ,dan lepaskan aku, aku gak apa apa mas. Bukan ban cadangan juga."
" Urus saja mas, aku hanya menerima. Toh perjanjian pranikah kita ada. Tidak usah mas berikan aku apapun, aku tidak butuh apa apa."
" Tega kamu mengatakan ini sama mas Ndien, tega kamu mau pisah dengan mas, jangan mimpi Ndien, sampai kapanpun , mayat mas terbujur kaku, baru kamu bisa hidup tanpa mas," ujar Dimas terisak .
__ADS_1
Andien hanya diam, tidak mengatakan apapun. Bertarung dengan rasa sedih, kesal, amarah, cemburu nya.
Saat Dimas mendekat , Andien menjauh, namun Dimas meraih tubuh Andien dan memeluknya.
" Kamu salah menilai mas Ndien...., salah.., mas sangat terluka mendengar kata katamu, mas gak kuat tanpa kamu, mas salah..... , kita perbaiki rumah tangga ini Ndien. Semua hanya salah paham Ndien.Mas membawamu, ke rumah wanita itu, tidak membuat kamu cemburu, mas hanya ingin kamu tahu, menutupi jati diri pasien juga tugas seorang dokter. Mas salah , dekat dan menemaninya tanpa ada membawa asisten , dan tidak cerita, berbohong mengatakan meeting, mas takut kamu salah paham pada mas, dan nyatanya lebih salah paham lagi."
" Apapun yang ditutupi akan terkuak.mas, dunia ini kecil , apapun yang kamu lakukan, aku punya rasa mengetahui nya."
😔😔😔😔😔😔😔😔
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment