
" Mulai besok pelatihan lagi ya Ndien ?".
" Iya Mi, turnamen di Bangkok."
" Ya nak , doa mami buatmu."
" Makasih mi."
" Mas mu kenapa belum pulang yah, padahal jam makan siang."
Andien hanya menunduk.
" Mi, Andien masuk ke kamar dulu yah."
Sang mamipun mengangguk.
Andien membuka laptopnya . Siang ini dia akan keliling mengunjungi cafe and resto miliknya ,lain lagi toko sport milik nya. Andien membereskan pakaian di lemari yang sedikit berantakan, mengambil beberapa pakaian nya dan memasukkan nya ke dalam kopernya.
" Apa mau berangkat lagi Ndien ?, " tanya sebuah suara yang semakin asing bagi Andien.
Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, saling bicara.
" Iya mas, besok masuk pelatihan."
" Kenapa harus bawa koper Ndien ?".
" Kan mas bisa jemput kamu ."
" Gak usah mas, Andien butuh pelatihan extra , " ujar Andien berusaha menjauh dari Dimas.
__ADS_1
" Kamu menghindari mas Ndien ?".
" Enggak mas, memang mas saja yang super sibuk kan, lagian Andien pengen fokus , gak mikirin banyak hal,lebih tenang."
" Apa mas menyakiti kamu Ndien ?".
" Mas sendiri yang tahu jawabnya, sejauh mana sikap,sifat mas di kuaran. Jika mas merasa bebas, masih mau bagaimana pun, lakukan apa yang mas lakukan,jangan pergi ke tempat warung biasa Andien datangi.Terlalu sakit melihat suami, di tanyain dimana, lagi meeting ,nyatanya berdua ngebakso, bukan kali itu saja, sudah beberapa kali.Apa mau mas, katakan. Andien tidak memaksakan apapun, mas bebas melakukan apapun."
Dimas gelagapan dengan perkataan Andien yang belak belakan.
" Kamu salah paham dek."
" Ya mas ,benar..., Andien memang salah, sibuk, ada yang mengisi kekosongan hati mas. "
" Kita perlu bicara Ndien," Dimas berusaha menahan langkah Andien
" Apa masih perlu penjelasan mas ?".
Andien turun ke lantai bawah.Terlalu sakit baginya mencerna apapun yang terjadi. Pingin menenangkan diri. Guncangan bagi dirinya, namun Andien berusaha lebih kuat.
Andien tidak mau menangis setetespun. Begitulah kalau dia sudah marah.
Dimas menyusul Andien. Dan benar saja Andien sudah duduk di meja makan, sengaja dekat dengan kedua orangtuanya, agar tidak ada pembicaraan apapun. Dimas semakin gelisah, Andien menghindarinya.Andien sealam ini tidak pernah begini, lebih sabar, lebih ngertiin, langsung menanyakan apapun.
Perubahan sifat Andien membuat Dimas kelabakan.
Mami Dimas dan sang papi saling pandnag memandang.
" Kamu sudah jelaskan pada isterimu Dim, kamu kemana saja dan sedang ngapain, sampai pulang malam?".
__ADS_1
" Tidak usah di jelaskan mi, Andien sudah tahu.Alasan mas meeting, dia ngebakso sama perempuan cantik di warung bakso depan sekolah Andien, bukan sesekali, beberapa kali dan sengaja ngumpetin mobilnya di rumah sakit, biar gak kecium kedok nya ,terus naik mobil si wanita kemana mana, "ujar Andien makan dengan tenang dan mengunyah makanan nya dengan santai.
Sebenarnya, pengen banget Andien siram air comberan ke suami,pengen nyubit dan jambak sang suami, namun Andien bukan wanita murahan, rasa sakitnya menyebabkan dirinya menjadi sosok berusaha kejam dan mengeraskan hatinya.
" Dia pasien mas, teman sewaktu SD, SMp, SMA dan kuliah, dia jurusan ekonomi, mas kedokteran."
" Pertemuan yang terlambat, setelah menikah , baru bertemu kembali, cinta lama bertemu kembali," ujar Andien sambil mengunyah sayur dalam mulutnya.
Papi Dimas berdehem.
" Belum ada kata terlambat mas, saya nunggu kabar baiknya saja," ujar Andien berdiri dan mengangkat piring makannya .
" Makasih makanan nya mi, enak, " ujar Andien se natural mungkin.
Dimas menyusul Andien, Andien tidak peduli.
" Ndien...beri mas waktu menjelaskan."
Andien hanya diam mencuci piringnya.
" Mi...., pi.... ,Andien pamit yah, mau keliling nyari yang segar ," ujar Andien membuat Dimas bergegas menyusul sang isteri
🥰🤫ðŸ¤ðŸ¤«ðŸ¤«ðŸ¤«ðŸ¤ðŸ¤«
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment