
Malam itu, Dimas sangat sulit memejamkan matanya, tidak menunggu ke esokan pagi, Dimas menelepon sang mami, benar saja, sang mami heboh, sampai sang suami pun ikutan heboh.Mereka ikut bahagia atas kebahagiaan sang anak.
" Kalau udah di dapat, pepet terus Dim, jangan longgar, ingat, kamu harus bisa agresif."
" Jangan dengar kata papi mu nak, Andien gak suka orang norak, biasa aja bersikap nak, kalau Andien menerima kamu, dia sudah luluh, dia sudah pikirkan baik baik, Andien gak asal asalan Dim".
" Papi jadi gak ngantuk karena kamu Dim, " ujar sang papi.
" Iya , mami juga."
" Dimas gak sabar Mi, mau ceritain , gak sabar nunggu hari pagi."
" Kamu kan gitu nak, kalau lagi senang, kamu selalu cerita sama papi dan mami, wajarlah nak, kami saja turut bahagia sama kamu nak, kapan balik Indonesia nak ?".
" Besok malam mi, besok Dimas kasi tahu nomor penerbangannya ya mi."
" Ya nak, udah tidur la nak, pelatih harus disiplin," ledek sang mami.
Tawa sang papi pun kedengaran di telepon.
Dimas penuh tawa malam itu, diapun berbaring sambil tersenyum ,Tuhan mendengar doa doa nya.
Sedangkan Andien , karena lelah tertidur sangat pulas, Andien juga tidak mau menutupi perasaannya lagi, tidak mau membohongi kata hatinya. Tidak mau menahan perasaannya lagi.
Terserah apa yang dikatakan orang lain, yang mengalami ,yang menjalani adalah dirinya.
Pagi itu , Andien belum bangun, namun ketukan di pintunya membangunkan dia.
Andien perlahan bangkit, dengan muka bantalnya, menanyakan :" Siapaaaaa?".
" Mas Ndien, " ujar Dimas.
Mata Andien langsung terang benerang, bergegas ke toilet, menyikat gigi, mencuci wajahnya dan menukar pakaiannya, dengan modal parfum Andien bergerak secepat kilat.
__ADS_1
Dimas harus menunggu lumayan lama, dan kebingungan , kenapa Andien begitu lama membuka pintu kamarnya.
Dan ketika pintu kamar hotel terbuka, Dimas penuh dengan senyuman dan menahan tawa. Ternyata sang kekasih sudah sangat rapi, dan selimut juga sudah rapi.
" Kenapa lama bukanya Ndien ? takut muka bantalnya keliatan sama mas?".
Andien menggaruk kepalanya.
Dimas memeluk Andien.Memutar tubuh Andien ke arahnya.
" Please Ndien, jangan begitu, please kita seperti biasa aja, mas mau sama kamu apa adanya. Sedangkan dari kecil mas sering nukarin celana kamu, mandiin kamu juga pernah kan, sampai rambut penuh sampo, mami sampai marahi mas, mata kamu perih, " ujar Dimas.
" Ihhh, mas jangan bongkar masa lampau dong, Andien kan malu mas, itu masih masa anak anak lohhh".
" Mas hanya ingin, kita menjalani hubungan seperti biasa aja ,tanpa jaim( janga image)."
" Berjanjilah yaaang, jangan pernah malu sama mas dan menutupi apapun, mas juga gak akan nutupi apapun sama kamu."
Andien mengangguk tersenyum.
Dimas pun ngakak.
" Pasti bertanding melelahkanmu kan Ndien?".
" Ya mas, apalagi penentunya di Andien, rasanya beban itu berat banget, suasana tegang,btekanan ada ,namun Andien harus bisa menata pikiran ,perasaan ,demi negara mas."
Dimas mengusap rambut Andien.
" Dan mas juga mau ngaku Ndien."
" Mau buat pengakuan apa mas?, hayo mas buat salah yahhhh?".
" Hmmmm, mas gak bisa tidur...".
__ADS_1
" Terus? mas pergi ke banci show , karena mumpung di Bangkok?".
" Bukan loh Ndien, mas gak bisa tidur, mas nelepon mami dan papi, trus cerita kita jadian."
" Ihhh, mas gak bilang bilang, pasti mami mas ledekin Andien dehhh".
" Gak bakalan, dia malahan bilang gini ke mas, kamu baik baik sama Andien, jangan sampai minta putus, mami gak peduli, mami sayang sama Andien."
Andien tersenyum bahagia.
" Trus papi bilang apa ke mas?".
" Bilangnya gini, pepet terus Dim, jangan sampai longgar".
" Trus mami bilang, jangan norak, Andien suka cowok biasa aja, apa adanya."
Andien tertawa dan dalam dekapan Dimas.
Kembali Dimas mengusap rambut Andien.
" Rambutnya kependekan sayangggg".
" Ya mas, please semak banget kalau rambut panjang mas."
Dimas mengangguk mengerti.
🥰😍🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment