
Siang ini, Andien kembali bertanding dengan seorang atelit yang lebih senior dari Andien.Mereka saling mengejar angka.Tata cara nya ,tekniknya memukul, menempatkan bola, sangat lihai dan cermat. Nyaris sempurna. Andien mampu mengatasinya.Pertama Andien ketinggalan angka dari nya, Andien gak putus asa, babak berikutnya Andien menyemangati dirinya, kemudian Andien berjuang kembali tidak kenal lelah.
Teriakan semangat dari sang abang membuat Andien fokus dan kembali alot berduel dengan sang lawan, hingga akhirnya Andien tersenyum mendapat salam dan ucapan selamat dari lawan mainnya,mendapat selamat dari sang pelatih.Dan pelukan Ardi membuat Andien sangat bahagia.
" Selamat ya dek, kamu menang lagi, besok masuk final, makasih Tuhan....,makasih".
" Makasih doa doa abang makasih abang support adek".
" Adek sendiri, yah di support habisla dek, " ujar Ardi mengacak rambut Andien.
Senyuman Andien begitu merekah, dan beberapa ucapan dari atelit lain Andien terima.
" Bagus banget permainan kamu Ndien, kamu jago banget, bisa kalahin Dini, dia pemain hebat."
" Skill ,tehnik , kamu jauh pesat, kamu serap semua ilmu dari pelatih, jago banget kamu Ndien, " ujar seorang pemain lainnya.
" Saya masih banyak harus belajar mas," ujar Andien merendah.
" Kamu tetap semangat, besok pasti bisa lebih baik lagi."
" Amin ", ujar Andien.
Andien bergegas mengambil tas raketnya, menuju ke ruangan ganti pakaian.
" Mas , Andien bersih - bersih dulu ya," ujar Andien.
" Ya dek, sini tas raketnya sama abang aja,biar abang yang angkat".
__ADS_1
Andien pun bergegas bersih bersih.Ketika sudah selesai Andien pun keluar dari ruangan.
" Memang atelit baru kita ini, cakepnya poool ya To," ujar salah satu pemain.
" Semua sudah pada bicarain permainan badmintonmu Ndien, lain lagi cakepnya polll, kenalan Ndien, saya Reza, pemain ganda putera,bareng Yanto, ini rekan saya ".
Andien mengulurkan tangannya dengan kikuk. Reza sosok pria yang supel, pria yang cukup tampan dan mereka ganda terbaik di club.
" Pelatihmu pak Danu ya Ndien? " tanya Reza.
" Iya mas, benar " .
" Hebat kamu dapat pelatih pak Danu. Biasa murid beliau , orang punya talenta, dia sering testing atelit dan jarang milih murid, " ujar Yanto.
" Yang benar mas?" Andien terpelongo.
Andien merasa sangat bersyukur dan bertekad gak menyia nyiakan pelatih sekelas pak Danu.
Pak Danu masih tergolong muda , namun bakatnya melatih sangat disegani para senior lainnya.
" Andien pamit dulu ya mas,sudah di tunggu ".
Yanto dan Reza pun mengangguk.
Andien tersenyum dan berlalu.Sebagai orang baru. Andien menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana dia berlatih, sang mamak dan bapak nya selalu menasehatinya , agar pandai membawa diri.
Andien bergegas dan melihat sang abang sangat bahagia, sedang berbincang dengan sang pelatih.
__ADS_1
" Istirahat yang cukup ya Ndien, biar besok tampil prima. Slow aja,jangan jadi beban dan demam panggung. Prestasi mu sejauh ini saja sudah membuat orang berdecak kagum, jangan besar kepala, janganlupa daratan, tetap ilmu padi ,kian berisi ,kian menunduk ya Ndien."
" Amin, ya pak, " ujar Andien.
Andien dan Ardi pun pamit.Dengan kereta butut, Ardi membonceng sang adik.
" Kamu membuat mas bangga dek. Gak sia sia mas kerja cepat cepat tadi pagi, pamit sama bos , ngantarin kamu, karena kerjaan, mas dah selesai, bos ijinkan ".
" Makasih ya mas , mas ini mirip manajer Adek."
" Kalau terkenal nanti, jangan lupa abang jadi manajer kamu ya dek, kita buka toko sport, kita keluarkan baju desain logo nama kamu, mantap dek".
" Otak bisnis abang, mulai menggelora, " ujar Andien .
" Ihhh,mimpi aja deh bang".
" Mimpi itu, bisa menjadi kenyataan dek, karena semua yang dicapai manusia awalnya dari sebuah mmpi".
" Amin," ujar Andien.
🥰🥰🥰🥰🥰
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment