
Dimas memutar lagu Tabu.
Lagu sesuai dengan alur cerita Merindu Cahaya de Amstel yang mengangkat kisah cinta beda agama.
Lagu ini menjadi OST Merindu Cahaya de Amstel, sebuah film yang diangkat dari novel berjudul serupa karangan Arumi E.
Film Merindu Cahaya de Amstel ini menceritakan tentang seorang gadis asal Belanda bernama Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) yang menjadi mualaf. Lalu, ia bertemu dengan fotografer sekaligus jurnalis yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya. Fotografer bernama Nico (Bryan Domani) ini tertarik dengan Khadija karena ia merasa gadis tersebut sama seperti ibunya.
Andien masih mengingat, dia dan Dimas menonton film ini ber dua.Jujur Anien sampai menangis dan Dimas memeluknya dengan erat, tiada ucap kata mereka, jujur mengena dengan apa yang mereka rasakan selama ini.
Cinta dan keyakinan ,apakah bisa se arah, itulah bisik Andien saat itu, yang membuat mereka larut dalam sedih.
Kisah film itu menjelaskan , Ia merasa sulit untuk meninggalkan kekasihnya dan berpikir apakah keyakinan dan cinta akan bisa searah.
Banyak yang bisa kita petik dari lagu yang merepresentasikan perjuangan cinta beda keyakinan ini.
Tabu
Angin bisikkanlah
Bahwa rasa ini tak mau kompromi
Satu trilian pilihan
Hatiku tetap tertuju padamu
Ada yang tak mudah dicinta kita
Dan tak mungkin aku abaikan ini
Sebab ini penting
Ingin kuberlari menjauh
Tapi wajahmu menghalangi
Langkahku pun terhenti
Untuk padamu
__ADS_1
Tabu tak mungkin kita lawan
Namun ku tetap mau kamu
Cinta dan keyakinan
Bisakah searah
Satu trilian pilihan
Hatiku tetap tertuju padamu
Ada yang tak mudah dicinta kita
Dan tak mungkin aku abaikan ini
Sebab ini penting
Ingin kuberlari menjauh
Tapi wajahmu menghalangi
Langkahku pun terhenti
Ingin kuberlari menjauh
Tapi wajahmu menghalangi
Langkahku pun terhenti
Untuk padamu
Tabu tak mungkin kita lawan
Namun ku tetap mau kamu
Cinta dan keyakinan
Bisakah searah ho
__ADS_1
Cinta kita tabu.
Andien kembali membuang pandangannya ke arah yang berbeda.
" Kamu menjahui mas karena jarak usia kita dan keyakinan kan Ndien, namun kamu sadari , kamu semakin cinta, tak ingin jauh dan tak ingin berpisah, semua selalu indah saat dengan kita dan kita tidak bisa mengakhiri kata hati kita kan Ndien?".
Andien mengangguk dan menangis tersedu sedu. Yah luapan emosinya pun menggelora. Karena itulah yang menyebabkan semua kesenduannya selama ini.
Dimas menghapus air mata Andien, menatap wajah Andien, sedih itu begitu dalam.
Perlahan Dimas mendekatkan bibir nya dengan bibir Andien, moment itu mengalir begitu saja.
" Ini bukan first kiss Ndien, mas sudah mendapatkan first kiss di saat dewasamu, ketika kamu tertidur di hotel, saat tanding pertama kali. "
Andien membenamkan wajahnya di dada bidang Dimas.
" Jangan malu Ndien, detail kamu mas tahu, tanda lahirmu di punggung, mas tahu. "
" Asal kamu tahu Ndien, kamu cinta mas, satu untuk selamanya. Mas sudah pamit pada papi dan mami, pamit gak bisa menikah cepat seperti harapan mereka ,mas akan menunggu kamu, mas tua menunggu menikah denganmu Ndien."
" Mas masih bisa mendapaykan pilihan terbaik, isak Andien. Dokter Shelly sangat kompeten, satu djnia dengan mas."
" Salah Ndien, dunia mas hanya kamu, hanya kamu," ujar Dimas menhan tangisnya.
" Mas nangis ?, " tanya Andien.
" jujur ,begitu banyak air mata mas untukmu, begitu banyak air mata lesedihan akan kenangan kita, mas melihatmu bertanding, tidak tega melihat jatuh bangunmu, dan apapun pilihanmu mas support, dan jika merindumu, lihatlah ini."
Dimas menyerahkan sebuah agenda kecil, disana tertera begitu banyak tiket menonton VVIP , dimana Andien bertanding.
Andien tak kuasa menahan perasaannya , dan mereka melebur saling bertautan .
🥰😍🥰😍🥰😍🥰
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment