
Andien memesan makan , dia dan bu bidan pun makan berdua , setelah selesai menyuapi sang bapak.
" Rumah sakitnya bersih ya bu, biaya bapak gimana bu ?".
" Bapak kan dokter nak, dari pemerintah mendapat bantuan perawatan. Dari rumah sakit juga ,karena orangtua dokter."
" Ini ada sedikit uang bu, jangan liat dari nominalnya, buat keperluan ibu dan bapak ".
" Jangan nak."
" Terimah la bu, ini gaji anak ibu, walau gak banyak, inilah bakti anakmu bu, " ujar Andien kembali terisak.
" Ibu punya gaji nak, simpan aja."
" Jangan tolak ya Bu, Andien gak bisa membalas kebaikan ibu dan bapak, kalau menganggap Andien anak, ibu wajib terima."
" Baiklah nak, makasih nak, di mudah kan rejeki ya nak, jaga kesehatan.Doa ibu sama kamu. Pandai kelola uang, atelit ada batas usia berkarya nak, jangan boros ya nak."
Andien mengangguk.
" Tenang aja bu, Andien mendapat hadiah dari pemerintah, rumah , tabungan, bonus liburan.Kapan bapak sehat, kita jalan ya bu, tiket dalam negeri dan luar negeri dapat bu."
" Sudah hebat anak ibu," ujar sang bu bidan menangis terharu.
" Doain aja bu, Andien masih banyak perlu bimbingan bu, terkadang pelatih gak sejalan juga bu, mau gimana lagi."
" Ya nak, setiap pekerjaan pasti ada tantangan . Harus kuat ya nak."
Andien mengangguk.
Tiba tiba sebuah langka kaki membuat Andien dan sang ibu menoleh.
" Eh dokter Shelly ".
__ADS_1
Sang dokter begitu cantik, kurus , tinggi, berkulit putih, bermata bening, sungguh enak di pandang, senyumnya juga ramah.
" Kenalkan nak, ini dokter Shelly, nangani bapak."
Andien mengulurkan tangannya.
Shelly memandang Andien dari atas sampai ke bawah.
" Saya pernah liat kamu, dimana yah, wajah kamu familiar, " ujar Shelly .
" Ini anak ibu, dari Jakarta dok, atelit tunggal
puteri ".
" Oh iya, baru ke ingat, kamu kan sangat terkenal, sampai ada beberapa iklan gitu, iklan minuman isotonik dan vitamin."
Andien tersenyum.
" Family atau sepupunya Dimas ya Bu, Dimas kok ngak pernah cerita yah ?," tanya Shelly
" Sama saya banyak ngomong kok bu, kalau kami jalan, nonton dan makan, Dimas mau cerita, soal dia dulu kuliah, di Jakarta gimana."
" Apa Dimas cerita soal Andien, atau tetangganya Sehelly?".
" Gak sama sekali bu."
Andien menelam air ludahnya, sungguh getir, Andien sadar, mungkin Dimas gak ingin mengingatnya lagi.
Andien menatap bunga yang ada di pot , begitu indah ,tentu mungkin pemberian dokter temannya Dimas, atau dokter Shelly. Andien sangat paham, jika Dimas mau dekat dan berbagi cerita dengan siapapun, perasaannya nyaman, dan pasti hubungan mereka dekat.
Andien menreima telepon, permisi dan keluar dari ruangan. Sedikit lega ,atmosfir ruangan , ketegangan yang dia rasakan berkurang.
" Hallo...".
__ADS_1
" Hallo sayaaang...., gimana , ada kendala ?".
" Gak mas, yang mas beri petunjuk, ?memudahkan Andien."
" Mas merindukan kamu Ndien, tugas belum siap ke pedalaman, ada bencana longsor dan banjir bandang, jadi mas sangat di butuhkan,kekurangan dokter daerahnya Ndien."
" Hati hati yah Mas."
" Ya sayang. "
" Jangan lupa makan, jadwal makan, kurangi yang pedas yah."
Andien mengangguk.
"Mas juga , jaga kesehatan. Balik dari Surabaya. besok Andien tanding 3 hari kemudian ,kejuaraan piala Indonesia mas."
" Selamat berjuang ya yaaang, mas doain, kamu yang terbaik."
" Amien mas."
Andien menatap jauh, begitu banyak pasien di taman itu, tidak terasa ,dia berada di area taman lantai 3.
Beberapa pasien mendekatinya.Meminta foto . Andien pun meladeni mereka.
Sifat ramah dan sederhana Andien, membuatnya mendapat banyak fans.
🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment