
Andien dan Dimas sedang bersantap , dan seperti biasa ,dekat dengan rumah sakit ,maka dokter dokter junior sudah pasti rame.Sosok Dimas selalu mereka idolakan, bahkan tidak memperdulikan disana ada Andien.
Cukup heran , para gadis jaman now , centil dan penggoda, kalau iman gak kuat ,habislah, yang berumah tangga bisa hancur yang pacaran bisa putus.
" Kamu kenapa tersenyum Ndien ?".
" Lucu aja mas, mereka termasuk norak."
" Dan kamu gak sama dengan mereka Ndien. Mereka biasa anak orang berduit, apa yang dia mau, selalu di kabulin orang tuanya, termasuk suka dokter mana, ngebet ngejar, walaupun sang dokter udah menikah dan memiliki anak."
" Para perawat juga mau gitu kan mas, gosip gosip nya sih begitu, perawat ,ngebet dan over acting dengan dokter, apalagi kalau dokter nya berkarisma ."
" Dwngar dari mana sih Ndien ?".
" Hmmm...., banyak sih mas yang cerita gitu."
" Mas jadi incaran mereka juga, lihatlah, padshal mas sangat tegas dan pendiam, gak luput dari pesona sang penahluk."
Dimas langsung menggenggam tangan Andien.
" Kamu cemburu Ndien ?".
" Jelas dong mas, kalau gak cemburuan, gak pedulian kan sama mas. "
" Kadar kecemburuan mu masih mending Ndien, dokter Robie teman mas, waktu pacarnya datang ke rumah sakit, liat dokter junior menggoda gitu , langsung dia labrak, dan lumayan rame."
" Terus ?".
" Pacarnya Robie minta putus".
" Robie mana mau, akhirnya mereka baikan. Padahal Robie itu gak pernah nanggapin mereka.Mas ngerti kecemburuan kamu yaaang, bahkan mas juga sangat sulit mengendalikan rasa cemburu saat lihat kamu di serbu fans, lain pelatih, kacau pikiran mas, bukan gak percayaan. Hanya ada rasa mengganjal dalam diri."
Andien tersenyum, cukup senang dengan keterbukaan sang pacar.
" Rumah mami akan kita renof yaaang, mas beli rumah di samping, kita bisa ke rimah mami dan papi, tetapi kita jalankan rumah tangga juga mandiri. "
__ADS_1
" Mandiri dimana mas, mas makan hati liat Andien yang manja ke mami."
Dimas tertawa mengusap rambut Andien.
Mata para dokter junior, dokter senior dan beberapa perawat sampai melotot.
Andien mendengar bisikan kata kata mereka. Mereka syok lihat Dimas begitu lembutnya, begitu peduli, begitu , padahal jika mereka d3kati seperti bongkahan es.
Andien menghargai ketulusan sang tunangan. Menghargai, menghormati tunangannya ,menjaga jarak dan menjaga hatinya.
" Dim, pemain badminton kan, atelit tubggal puteri kan, " ujar dokter Richard.
Andien yang memakai masker terkesima ada yang ngenal dia.
" Calon kamu Dim ?".
" Oya Chad , doain aja yah."
" Pastilah bro, waduh cakep, tinggi, atletis dan terkenal, pantasan banyaj sedari tadi memperhatikan calonmu Dim."
Sesudah selesai makan, beberapa orang minta foto bersama Andien.
Dimanapun , Andien tetap merakyat, bahkan pemilik bakso minta berfoto dengan Andien.Andien dan Dimas pun kembali kenplatnas
" Renovasi rumahnya, kita bersama putuskan ya yaaang, mas udah manggil arsitekrumah bang Ardi".
" Ya mas, rumah bang Ardi bagus, rapi, modern."
" Mas sekalian aja renov rumah mami, biar ubah suasana, buat taman terbuka di dalam rumah mas."
" Benar yaaang, ide kamu bagus, biar adem di rumah, mami dan papi bisa nyantai ,baca buku disana."
Andien mengangguk bahagia.
" Kapan pulang ke rumah dek ?".
__ADS_1
" Lusa mas."
" Mas jemput ya."
Andien mengangguk.
" Susu yang mamak beli ,di minum, itu pesan mamak ".
" Ya mas."
" Nurut banget tunangan mas nihhh".
Andien tertawa.
" Ihhh ngeledek aja.Mas juga ,jaga kesehatan, jangan sibuk sama penggoda."
" Gak berani sayangkuuuu."
Wajah Andien kembali bersemu merah.
" Mas semakin menjadi jadi, menjadi penggbal kelas berat."
Dimas pun tertawa.
Kembali dokter junior dan para perawat melongo ,melihat Dimas begitu mudahnya tertawa dan tersenyum dengan sang kekasih
🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
Vote
Koment
__ADS_1