
Andien mengingat begitu banyak memori mereka disana . Setiap wekend Andien pasti di ajak, mereka kemping, bakar jagung, bakar daging, bakar seafood, Andien sangat bahagia ,selalu nagih ke Villa, Dimas juga.
" Ambil yang di atas mas, tuh gedek gedek, " ujar bu bidan.
" Plastinya kasi Ndien , kasi ke mas mu".
" Ya bu ".
" Ambil yang besar ya mas, yang kuning."
" Apa mau milih sendiri Ndien?".
" Gak, nanti naik bisa,giliran turunnya gak, nanti mas abadikan lagi nih pohon, " ujar Andien ngakak.
" Kita panen ikan juga Ndien, disana ada kolam ikan papi buat, kita bawa pulang aja. suru mamak masak."
" Ikan apa pak ?".
" Ikan gurami, ikan mujahir, banyak Ndien, udah siap panen.Bapak bilang jangan ambil dulu, kayaknya kita mau kesini".
" Mantap betul pak, sayur juga kita panen, tuh banyak yang seger seger pak".
" Tentu nak, sampai kapanpun, kelak kalian kesini, ini kebun kalian juga, bawa keluarga, bawa anak."
Andien mengangguk.
" Ini Ndien, banyak kan? ".
Andien mengangguk.
Dimas naik lagi ke pokok jeruk nya, mengambil beberapa lagi.
" Tangkap Ndien".
Andien enangkap jeruknya satu per satu.
__ADS_1
" Udah lulus uji coba kan mas".
Dimas dan papi ngakak.
" Mami yang gak lulus ,tuh banyak jatuh ke tanah dari pada yang di tangkap," ujar Dimas tertawa.
Andien dan bu bidan mengambil kentang dan beberapa jenis sayuran.
" Yuk kita nabgkap ikan Ndien," ajak sang papi Dimas.
" Lets go pak", ujar Andien bersemangat.
Mereka pun menangkap beberapa ekor ikan.
Andien sangat bersemangat, demi kian juga Dimas, bu bidan dan sang papi.
" Lelah hayati bu," ujar Andien.
" Kamu gak boleh capek, soalnya mau tanding kan Ndien."
" Iya mas ".
" Ya lah Ndien."
" Balik yuk nak, biar gak kemalaman, " ujar papi Dimas.
" Ya pi, " ujar Dimas.
Pak Mahmud membawa sayur, kentang, Andien dan Dimas membawa jeruk.
Bu Bidan dan sang suami membawa Ikan yang susah di buat di box khusus buat ikan .
" Pamit yah pak Mahmud ," ujar Andien dan Dimas bersamaan.
" Ya nak, lain waktu kemari lagi nak, kita manen lagi".
__ADS_1
" Iya pak, mudah mudahan, " ujar Andien.
Dimas melambaikan tangannyanpada pak Mahmud dan berpamitan, demikian juga bu bidan dan papi Dimas.
Dimas melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, hingga sampai ke rumah, Dimas mengantarkan Andien, dan mereka pamit kembali ke rumah mereka.
Andien menatap mobil yang Dimas kendarai , dan menunduk. Perasaan Andien campur aduk.
" Gak masuk dek? mau natap mobil, udah balik lo, tuh rumah nya, main kesana aja, jangan DI tahan .
" Ledekin adik terus aja kak Ester.Gimana persiapan menikahnya kak ?".
" Udah rampung dek, calon mertua kakak yang bantuin dek".
" Mertua kakak baik, gimana calon kakak ipar?"
" Sejauh ini baik dek, bertanggung jawab dan menyayangi kakak, mudah mudahan sampai akhir baik dek. Seram liat pria sekarang, kesetiannya diragukan.Bosan, jenuh sama isteri, bersumpah di depan Altar, sehidup semati, yang ada nya satu hidup satu mati, isteri di bohongi, disakiti, begitulah hebatnya pasangan saking menyakiti. "
" Musah mudahan, dilihat sarinorabgtuanya baik, mudah mudahan baik ya kak, menikah jaman now banyak yang di pertimbangkan kak, dari segi dia menyekolahkan kakak, keluarganya nerima kita apa adanya , setidaknya kan merendahkan keluarga kita."
" Ya dek ".
" Kamu gimana, apa udahnpunya pacar?".
" Belum kak , banyak hal yang harus Andien pikirkan."
" Ya dek, kamu juga masih muda ,nikmati aja kehidupanmu, jangan mikir terlalu jauh dan ruwet."
Andien mengangguk.
🥰😍🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment