
Pagi itu, rasanya begitu indah, Andien diserbu keluarga besarnya, baik keluarga Dimas ,maupun keluarga nya.
Andien sangat bahagia, begitu disayangi mereka.Dan sesuai rencana , mereka fiting baju pengantin ,di sebuah bridal. Andien tidak mau pesta yang wah wah, dia hanya ingin pesta sederhana, yang penting restu dan doa keluarga serta teman temannya.
" Wajah nambah glowing aja dek, mau jadi manten kinclong dan bersinar, ledek sang abang."
" Ngeledek aja deh bang. Makasih tretmen buat adek ya bang. Memang abang , terbaik sedunia."
Ardi tertawa.
" Kamu juga adikku yang terbaik, Ester juga, abang menyayangi kalian, walau kelak kalian sudah menikah, apapun kesusahan, kesulitan ,abang sekuat daya bantu kalian dek. Abang gak seperti abang lainnya, jika sudah ber isteri, sama adek gaknpedulian. Abang sayang isteri, juga tugas abang sayangi kalian juga."
" Ibu setuju dengan Ardi, kalian sampai kapanpun tanggung jawab abang kalian. Ibu tidak suka dengan anak yang begitu menikah, keluarga isterinya saja yang di peduliin, harus adil. Jangan keluarga isterinya sejahtera, adeknya kesusahan , gak pernah di tanya. Keluarga isteri di bawa jalan jalan, eh keluarganya sendiri tidak pernah dia ajak.Gak berimbang kan."
" Benar bu, Rere selalu bilang sama abang, tanyain adik adiknya, walau adik adiknya ada uang, perhatian abang wajib.Rere gak cemburu, Rere mendapatkan abang yang baik, sopan, menghormati mama dan papa Rere, Rere bahagia bu.Abang orangnya tegas, tetapi membimbing Rere. Adik adik abang juga menyayangi abang, mana ada adik yang begitu peduli sama abangnya, rumah abangnya di bantu bu, di buat bagus, nangis Rere lihat Ester dan Andien sangat peduli sama kami. Memberi gak pernah mengungkit ungkit. Makanya mama dan papa bilang, gak salah Rere memilih abang."
__ADS_1
" Udah ,mbak gak boleh nangis, nih lagi tekdung, dedeknya nanti gak happy lohhh, pesan mamak sama bapak,kita akur akur ya mbak."
Rere, Ester dan Andien saling berpelukan.
" Mama dan papa Rere membagi warisan mak, pak, kami kebagian kebun durian, ada buah rambutan, pisangnya juga. Lagi berbuah, kita main kesana ya mak, pak, bu bidan dan papanya Dimas. Piknik kita rame rame."
" Beneran Di , mau banget ibu, " ujar bu Bidan.
" Awas Andien jadi tarjan bang, " ujar Ester ngakak.
" Mamak masih ingat, Andien manjat pohon pisang, pohonnya bengkok, sampai tiarap ke tanah," ujar Dimas ngakak menahan tawa.
" Andien rasa mas, hanya pohon pisang yang bersahabat, dimana dinaikin, bengkok gak perlu nangis manggil bantuan," ujar Andien membuat semua orang ngakak.
" Kalau bu bidan bawa kamu ke kampung mereka, kamu di awasi, gak boleh manjat sama sekali. Apalagi nangkap ikan di kolam, kamu jatuh, bu bidan nangis nangis, " ujar papi Dimas menahan tawa.
__ADS_1
" Imbasnya mas mu lah mami marahin, gak jaga adiknya dengan baik."
" Hanya boleh metik jeruk aja ya mas, kalau yang ambilin buah mangga dan jambu yah papi mas kan."
" Iya Ndien. Kita suka ngerujak, bang Ardi kalau ikut, mancing aja kerjanya, gak peduli sama yang lain , hehehehe."
Ardi tertawa.
🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment