
Pemandangan alam, memanjakan jutaan manusia yang lelah dengan bangunan beton, lelah dengan rutinitas sehari hari. Amdien sangat menikmati pemandangan alam, memetik aneka sayur dan jeruk ,menjadi kebahagiaan tersendiri, juga memanen ikan di kolam orangtua penggemarnya. Mandi di air danau menjadi penutup di hari bahagia itu.
" Ini makan mas, pisang toba namanya, pisang ini wangi banget, rasanya beda sama pisang ambon, kalau di kampung ,pisangnya matang di pokok, gak karbitan."
Dimas pun mencoba pisang toba.
Dan Dimas tertawa ketika se ekor babi jalan di kebun dengan santainya, juga ada sekelompok kerbau yang memakan rumput disana.
Masyarakat yang ramah, membuat betah, itulah selalu dia katakan pada Andien.
Saat dia bertugas di pelosok, hasil bumi selalu jadi bayaran mereka.Sudah kesepakatan dengan pengurus desa, apapun pemberian masyarakat, mereka tidak boleh menolaknya, karena itu pemberian tulus ,masyarakat tidak bisa memberikan uang, maka hasil kebunlah mereka berikan.
Dimas masih ingat, jika dia ke kota, membeli aneka cokelat dan makanan ringan, maka anak anak di tempat dia praktek , akan sangat bahagia menerima pemberian nya.Mereka sangat jarang ke kota ,mendapatkan makanan seperti itu.Bagi mereka aneka jajanan sangat langka.
Mereka keliling menikmati panorama patung Yesus di sibea bea, belum rampung, namun menikmati alur jalan hingga mentok ke bagian bawah, sangat menyajikan panorama seperti layaknya di Swiss.
" Semakin tertata kawasan samosir ya Tulang."
" Iya Ndien, dikelola dinas pariwisata dan pemda setempat."
" Jalannya bagus Tulang, pungutan ke air terjun Efrata gak mahal, lagian air terjunnya semakin bagus dari yang kami datang sama bang Ardi sewaktu tahun lalu. Ini lebih bagus lagi, tetapi masuk di si Bea bea, buat khalayak lumayan mahal ya Tulang, hitungnya per mobil."
" Iya Ndien, kan gak semua mampu bayar segitu, apalagi kemampuan masyarakat saat ini semakin sulit, apalagi di bantai saat masa masa covid, penghasilan masyarakat semakin sulit."
" Kalau berlibur gini, ada masyarakat ekonomi menengah ke bawah, liat tulang, bawa tikar, makan di jalan, yang penting bisa bawa anak liburan, bisa pulang kampung , sekalian kan Ndien."
" Iya Tulang. "
__ADS_1
" Ndien ,lihat indah kali kalau di pandang dari puncak sini ke bawah, jalannya berkelok kelok."
" Iya mas, bagus yahhh".
" Pose kalian disana Ndien, biar Tante ambil, jangan si Ardi aja foto prewed ,kalian jugalah."
Mereka pun tertawa.
" Tulang, kalau nanti di jalan ada durian, kita beli ya."
" Baik Ndien , ada itu nanti, biasa di pinggir oinggir jalan."
" Dimas suka durian ?".
" Enggak tulang, Dimas gak suka, suka nya jeruk dari daerah merek, airnya banyak, manis, jeruk madu."
Abi melihat sang abang dan calon kakak ipar begitu cantik dengan balutan pakaian adat batak, ada ulos , sebelumnya mereka memakai dres biasa.
" Ternyata ,boru jawa cantik pakai ulos ya Ndien," colek sang tante.
" Iya Tan, kulit mbak Rere putih, kontras sama kulit abang yang sawo matang."
" Kalau Dimas putih, kamu putih, lebih kayak orang Manado kalian nak."
Andien dan Dimas tertawa.
" Tante ada ada aja, " ujar Andien ngakak.
__ADS_1
Mereka pun singgah makan ikan mujair bakar, dan ikan mas. Andien dan semua pasukan kelaparan.Andien sengaja menempatkan Jeremie di sampingnya. Andien telaten menyuapi Jeremia.
" Ikannya manis banget Bi."
" Ya mas, tadi kan langsung mas dan bang Ardi pilih di jaring dekat danau, semua pasti fresh."
" Ya Ndien ".
" Mana salak tadi Tan, adek adek pada nyari," ujar Ardi .
" Di bagian depan dekat kursi di samping supir ".
Ardi pun dengan sabar membuka salak buat anak tulang dan tante nya, Rere juga suka salak.
" Bang, minta anak nya".
" Rebutan la dulu sama Jeremie,lihat tabgan Jeremie cepat kali ambil bagian depan ,anakan salaknya dek."
Semuanya pun tertawa.
🥰😍🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment