Cinta Atlit Dan Pelatih

Cinta Atlit Dan Pelatih
Aku Dalam Dilema


__ADS_3

Begitu sulit mematikan rasaku. Aku kembali terjerumus dalam kebaikanmu dan kebaikan orangtuamu.


Namun aku juga terjebak satu rasa suka pada yang lain, melepasmu sudah keputusanku, membiarkan takdir mempertemukanmu pada wanita se iman.


Airin terjebak dalam banyak pilihan. Dimas hanya pasrah dengan keputusan Andien, rasa sayangnya mengalahkan apapun . Dia tidak mau Andien menerimanya dengan terpaksa .


Dimas membawa rombongan ke Villa milik mereka ,tidak begitu jauh dari kota, hanya 1jam saja. Udara di villa sangat sejuk, karena banyak pepohonan dan hasil kebun disana .


" Menikmati kesendirian, sampai ada yang merasa bersyukur memilikiku," ujar Dimas dalam desahannya.


Dimas menatap Andien dari jarak yang tidak terlalu jauh, dalam hatinya berkata, Ndien, jika kita berjodoh, aku pasti akan menjadi pria yang sangat bahagia dan beruntung mendapatkan mu, kamu baik, keluargamu juga baik, manusia hidup tidak bisa memilih ketentuan takdirnya.


Wanita dikejar sekalipun,jika bukan jodoh ,mau di bilang apa.


" Papi tahu apa yang kamu pikirkan anakmu, mendapatkan mamimu juga bukan hal mudah, papi banyak sabar, bawa dalam doa, dan Tuhan bukakan jalan pada papi. Jika memang sudah jalannya ,akan ada nak caranya ,gimanapun akan datang dengan sendiri nya."


Papi Dimas menepuk nepuk bahu sang anak.


Andien terlihat banyak diam dan hanya memandang pepohonan , yah Andien sangat menyukai pohon cemara gunung.


" Kalian dulu sering bermain disini ya Ndien, " ujar bu bidan.


" Iya bu, lari lari, sambil bermain peta umpet."


" Masa kecil rasanya begitu cepat berlalu ya Ndien, kalian udah pada gedek."


Andien menganguk.


" Kamu menolah Dimas ya nak?".


Andien mengangguk.


" Ibu berdoa , apapun buat kamu dan Dimas nak, kamu banyak banget mikir nak , masih SMA udah ruwet , mikirin apa kamu nak , tapi ibu membebaskan kalian, kamu mau sama siapa aja , yang penting dia baik, mas mu juga sama siapa aja ,yang penting baik ".

__ADS_1


" Kalian berdua ruwet, kayak mami dan papi dulu, beda suku, banyak yang harus di hadapi, tetapi kemana pun kami, cinta pertama sulit di lupakan loh Ndien, papi ngejar mami susah lo, gak gampang."


Andien hanya tersenyum.


Penjaga villa menyajikan jagung rebus dan singkong rebus, Andien , Dimas ,papi dan mami Dimas pun memakannya .


" Ini hasil kebun dari sana ya bu? ," tanya Andien.


" Yah iya nak, baru di petik pak Mahmud , terus pak Mahmud nya rebus, kalau ubi ,kemarin mereka udah panen, kentang juga, nanti kita bawa pulang ya nak."


Andien mengangguk.


" Disana masih banyak jeruk dan tomat , kita petik yuk Ndien," ujar bu Bidan.


" Beneran bu?".


" Yah beneran lah nak."


Andien tersenyum bahagia.


" Ya nak, kamu kan bisa manjat, biar kami ngumpulin dari bawah," ujar bu bidan tertawa .


" Selesai makan jagung aja mas, kita eksekusi, " ujar Andien.


" Yah Ndien.Apa kamu masih ingat, sewaktu kamu naik pohon jeruk, mau turun kamu gak bisa turun, kamu takut, mas yang gendongin".


Andien tertawa.


" Yah mas, naik bisa , turun gak bisa."


" Kamu ada aja deh ," Dimas tertawa.


" Iya , aku aneh kan mas, " ujar Andien tertawa lepas.

__ADS_1


" Kamu lucu, menggemaskan. "


Papi dan mami Dimas tertawa.


Andien, bu bidan, Dimas dan sang papi ke tempat kebun jeruk. Andien memetik jeruk yang besar dan menguning.


" Ini Ndien, gedek, " ujar Dimas memberikan sebuah jeruk pada Andien.


Andien menerima jeruk dan membukanya.


" Manis banget mas, mau?".


" Mau dongg, suap Ndien, " ujar Dimas langsung mendekatkan wajahnya ke Dimas.


Reflek Andien menjadi gelagapan.


Namun Andien kemudian menyuap jeruk pada Dimas.


" Manis yah Ndien, airnya banyak."


" Benar mas."


" Pohon yang lama itu Ndien, gak di potong, mas mu larang, memori kamu naik gak bisa turun mau mas mu abadikan, mas mu romantis atau aneh sih," ujar bu bidan ngakak.


" Romantis lah mi, jejak sejarah," ujar Dimas tersenyum manis.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2