Cinta Atlit Dan Pelatih

Cinta Atlit Dan Pelatih
Jalan Bersama


__ADS_3

Andien menerima beberapa file pelajaran sekolahnya , malam itu semua dia salin, ada beberapa tidak dimengertinya, Dimas mengajarinya seperti biasa.


Andien kemudian di berikan Dimas latihan soal ,dan Andien memang dasarnya cepat tangkap, Andien lebih bisa mengerti dan menjawab soal soal itu.


" Apa gak berat Ndien, sekolah sambil tanding gini?", tanya Dimas.


" Berat sih berat mas. namanya hidup, gak munhkin kan Andien hanya tamatan SMP , apa kata dunia," ujar Andien ngakak.


" Bisa di kampak dan di golok babe, ledek dimas ".


" Jangan harap di ijinkan tercantum di kartu keluarga, " ujar Andien ngakak.


" Jadi atelit, gak begitu menjanjikan pada masa lampau Ndien, makanya banhak atelit yang berpotensi, melepaskan harapannya buat jadi atelit,padahal sangat berbakat. Tetapi memilih kuliah, mau gimana lagi, apalagi cowok, jadi tulang punggung keluarga, pastilah extra dalam berpikir," ujar Dimas .


" Mami aja pujukin Andien jadi dokter,dia maunya jadi atelit, nih liat Ndien ,otot kamu, keliatan banget, kamu cakep nak, jadi dokter aja deh nak, kamu pintar dan pasti masa depan lebih cemerlang."


" Namanya nasionaliame tinggi bu, pengen mengharumkan nama bangsa, gak respeck bu pada bagian kedokteran ,beneran."


" Tuh kan Dim, Andien kekeh jadi atelit, padahal masa pensiun usia 30an udah di anggap tua loh Ndien, kenapa sih suka jadi atelit?".


" Ada kesenangan tersendiri bu, saat bisa menang, menyelesaikan pertandingan. Ada rasa bahagia, melihat bendera berkumandang, rasanya membuncah bu,perasaan campur aduk."


" Nanti kalau kamu tanding ke Singapura ,kamu bakalan lebih merasakan gejolak itu Ndien, kadang kenangan itu membuat mas sedih ,saat menggantung raket, tapi mau gimana lagi, gak mau jadi anak simaling kundang, di kutuk ibu dan bapak," ujar Dimas ngakak.


" Beneran tuh ancaman si mami?" tanya Andien melototkan matanya.

__ADS_1


" Gak lah, mas kecapekan, antara badminton dan kedokteran, jadi milih sih.Menyelamatkan pasien ,mas juga bahagia, pasien bisa berkumpul dengan suaminya,atau dengan isteri nya atau dengan anaknya."


" Selepas atelit kamu mau ngapain Ndien?".


" Mau jadi pengusaha sepatu mas, punya distro, ahhh malu deh, kayak udah banyak money aja, " ujar Andien tertawa terkikik.


" Gak apa apa Ndien, namanya juga cita - cita, kalau mau usaha ,minta di ajarin mas mu, mas mu pande bisnis, entah apa aja dia lakukan. Ibu gak campiri nak, di bawa juga kagak".


" Jadi ibu penasaran bisnis Dimas nih ceritanya, ibu aja super sibuk kalau di Surabaya."


" Iya juga sih, mau gimana lagi, dulu ibu kecil sampai remaja di Surabaya."


" Surabaya cepet banget paginya ya bu, magaharinya cepat terang benerang, padahal masih ngantuk, " ujar Andien.


" Kalau di Medan, pukul 6 masih gelap,di Surabaya pukul 4 aja udah terang banget."


" Bayaran urutan ibu mehong loh Ndien, " ujar bu bidan tertawa.


" Yang benar aja bu, " ujar Andien menutup wajahnya pakai bantal.


" Bu, mas Dimas penyusup orang hotel tahu gak yah?".


" Mana tahu, udah biar aja ,kan 3 aja satu kamar, anggap mas Dimasmu masi balita," ujar sang ibu ngakak .


" Lusa balek, pasti banyak pelajaran tambahan ya Ndien? " tanya Dimas.

__ADS_1


" Iya mas ,sampai sore.Tetapi gak apa apalah mas, besok ada refresing,dapat uang saku, hitung hitung healing mas,hahahaha, liburan oyyyy....., healing kita healinggg ," ujar Andien layaknya adegan tik tok.


" Dasar, cuci mata sama Bambang ya Ndien? Yanto juga keren loh Ndien? itu pemain ganda Richard juga, ahhhh yang naksir kamu keren keren Ndien, macho, mas Dimasmu kalah saingan gak


yahhh ," ledek si ibu.


Dimas menggaruk kepalanya.


" Jangan naksir mereka yah Ndien, serius, " ujar Dimas menatap Andien dengan tatapan mengharap.


Andien hanya bisa diam, gak tahu mau berkata apa.


" Ehemmm...ehemmmm....ih segitunya banget, takut kehilangan kah kamu boy?", ledek sang ibu kembali.


Dimas mengangguk.


Wajah Andien memerah.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2