
Andien pun pamit pada sang pelatih, buat kembali ke hotel.
" Ya Ndien, siapkan tenaga , besok keliling Surabaya seharian.Semua di tanggung penyelenggara ,jam 7 pagi ngumpul di lobby ya Ndien."
Andien mengangguk.
" Baik pak, makasih bimbingan bapak,ujar Andien dengan tulus."
" Sudah lama Ndien,anak binaan saya gak secemerlang kamu, sejak Liliana pensiun, saya kesulitan mendapatkan murid.Dan saat ini, kamu sangat membuat bapak bangga.Jangan cepat merasa puas ya Ndien, berlatih, perbaiki beberapa pukilan dan tehnik yang salah."
" Ya pak".
" Ya udah, makasih juga ndien,bapak terpilih pelatih berbakat, nih dapat hadiah juga ,setelah sekian lama gak pernah dapat.Lumayan Ndien, di hari tua, dapat bonus."
Andien dan Dimas tersenyum, lalu pamit.
Ketika Andien dan Dimas berjalan, mereka melihat sosok bu bidan sudah penuh dengan linangan air mata.
" Ih Ibu kenapa nangis sihhh," ujar Andien menghapus air mata sang ibu.
" Tangisan kebahagiaan nak, " ujar sang ibu.
" Nanti kalau kalah apa nangis lagi bu?," ujar Andien.
" Hus jangan bilang kalah, kamu berusaha ya nak, liat kamu bisa bahagiakan orangtuamu."
" Berjuang, jangan menyerah, kalah berjuang lagi."
Andien pun memeluk sang ibu.
Andien memakan brownies pemberian sang ibu ketika di dalam mobil. Andien memang suka brownies cokelat pandan.
" Ibu mau?" tanya Andien.
__ADS_1
" Ibu aja yang ditawari Ndien, mas nya enggak ditawari Ndien? " ujar Dimas mengerutkan dahinya.
" Kamu mah kalah pamor sama mami nak, " ujar bu bidan Ngakak.
Andien juga tertawa.
Andien mengambil satu potong, menyuapi Dimas,wajah Dimas begitu teduh dan hangat. Andien menjadi der der ser.
Aebuah rasa kian aneh yang dia rasa sejak memasuki SMA.
Apa masa puber atau remaja mulai lirik lawan jenis? dalam hati Andien.
" Ehemm...ehemmm...ibu jadi nyamuk dahhh," ledek bu bidan.
Andien dan Dimas tersenyum.
" Besok mas sibuk jadwal bedah Ndien, happy happy ya sama teman, dan jaga diri, bawa payung dan topi, hati hati kalau mau jalan kemana mana. "
Andien mengangguk.
" Iya mi, mami juga hati hati ya.Bawa payung, botol air minum nya jangan hilang mi, mau beli oleh oleh nanti bareng Dimas aja ya mi, jangan angkat yang berat berat kalau belanja ke pasar batik, atau pasar kuliner."
" Tau aja si bos kecil, emaknya suka makanan tradisionil, kue kue dan aneka makanan , " bu bidan tertawa ngakak.
Andien juga ngakak.
" Sebenarnya Andien mau banget ikutan ibu, tetapi wajib bu".
" Kapan kapan libur sekolah, kita kesini lagi Ndien, gangguin mas mu sama cewek sexy bohay kemarin, " ujar sang bu bidan.
" Calon mas Dimas ya bu? cakep bu ,putih, tajir,dokter juga kan bu?".
" Iya nak , selera si cewek mantap jiwa,milih cowok kayak mas mu, " ujar sang mami ngakak.
__ADS_1
Andien hanya tersenyum menutupi perasaannya yang mulai tumbuh.
" Ibu...., Dimas gak ada hubungan spesial dengan dia bu, Djmaa dan dia hanya rekan kerja.Dimas gak suka cewek agresif, bagi Dimas cowok itu yang mengejar wanita yang dia cintai dan syaangi.Bukan kebalikan, aneh bu rasanya.Lagian Dimas gak ada rasa,mau gimana pakian dan dandanan nya,dia bukan tipikal Dimas bu."
" Tipikal kamu gimana dunkkk nak?".
" Wanita sederhana ,namun istimewa bu".
" Sudah ada calonnya nak? kenalin ke ibu, cepat cepet nikahan, biar ibu nimang cucu, anak ibu kamu tunggal nak, Andien ibu masih lama nikah, masih muda ."
" Beljm saat nya bu, Dimas juga masih fokus mencari cuan. Bangun rumah impian, belum rampung, begitu rampung, nanti mas ajak Andien, mami, papi liat."
" Beneran kamu memang bangun rumah nak?".
Dimas mengangguk.
" Dari hasil sendiri bu, dan beberapa hasil dari apotik medis yang Dimas buka di beberapa tempat".
" Kamu baru cerita nih nak, kamu buka apotik?".
Dimas mengangguk.
" Kamu semakin dewasa nak, gak pernah minta minta sama bapakmu atau mamakmu. mami salut nak".
" Doain usaha Dimas ya mi".
" Pasti nak , " ujar sang bu bidan.
🥰😍🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment