
" Dek, ibu bidan tadi barusan pulang, katanya dia akan ke Surabaya jumat, sama aja kalian berangkatnya, katanya gitu".
" Andien sama pelatih dan tim mak".
" Kamu tahulah bu bidan dek, banyak dia kenal orang, udah tahu dia nomor pesawat penerbangan kalian, bu bidan dampingi kamu nak."
" Bentar lagi balek bu bidan katanya nak, " ujar sang mamak selepas Andien makan .
" Ya mak, Andien jadi sungkan mak."
" Itulah nak, bu bidan udah layaknya ibu mu juga ,liatlah nak, sayangnya sama kamu, dia takut kamu kesasar , tuh baru balik dari Menado bu bidan ada pertemuan nak, dengar kamu mau ke Surabaya, langsung bu bidan cek dan ambil tiket."
" Dari kecil adek di sayang keluarga bu bidan," ujar bang Ardi.
" Dulu kalau kamu sakit nak, bu bidan yang rawat kamu. Mamak kerja pun gak khawatir,bu bidan jagain kamu, " ujar sang bapak.
" Iya mak, makanya kalau liat bu bidan kecapekan, sedih Andien."
" Malah bu bidan bisa senyum liat Andien."
" Kalau Andien masak, u bidan suka mak".
" Sakit aja perawatnya Andien dek:.
" Bu bidan ada manja manjanya mak", ujar Andien.
" Bu bidan itu anak satu satunya nak di keluarganya."
" Iya mak, makanya punya mas Dimas satu, bu bidan merasa kurang,apalagi selepas meninggalnya anak ke 2 nya," ujar Ardi .
" Bapak sama bu bidan baik mak, nemani Andien ke sekolah daftar dan testing mau."
" Iya nak, kalau berhasil jangan lupa kebaikan mereka ".
" Iya mak".
" Ndien.....," ujar bu bidan.
__ADS_1
" Iya bu".
" Udah ibu urus tiket kita, ibu dampingi kamu ya nak, ibu cuti, sekalian liat Dimas".
" Ibu kan baru dari Manado,apa gak capek bu?".
" Pesawat yang bawa. dah ibu bilang sama Dimas, nemani kamu nak."
" Ibu liat baju di Menado, ke ingat kamu Ndien."
" Baju anak cewek,banyakan lebih bagus dari baju anak cowok".
" Iya bu."
" Gimana sekolahnya Ndien?".
" Bagus bu, teratur,disiplin tinggi, kepala sekolahnya ibu kenal ya?".
" Iya teman baik ibu masa SMP dan SMA. usah ibu bilang sama kepsek kalian, Andien itu anak emas nya ibu, dia nya tertawa."
" Pantesan bu, waktu jam istirahat, Andien di kasih roti sama minuman".
" Itulah Ndien, walau gak sedarah, bisa baik kan Ndien".
" Iya bu, benar."
" Dimas udah bilang, bakalan liat kamu tanding, dia bakalan minta jadwal kamu ke pelatihmu Ndien,kan dia kenal pelatihmu".
" Iya bu, mas Dimas pemain badminton handal juga kan bu?".
" Iya nak. namun dia wajib memilih orofesinya, rumah sakit membutuhkannya."
" Gitulah hidup nak, wajib memilih," ujar sang mamak.
" Andien kalau disuruh milih, milih jadi atelit atau apa nak?".
" Milih jadi atelit bu, gak kepikir jadi dokter atau profesi lain."
__ADS_1
" Apapun kalau di tekuni, berhasil nak."
" Iya bu."
Bu bidan mengusap rambut Andien.
" Ke ingat usia 8 bulan, Andien kena munmen ya bu, ibu, bapak, sama kami khawatir soal Andien.Sampai di bawa ke rumah sakit di infus di sana. Bu bidan jagain Andien beberapa hari".
" Sampai ketakutan ibu Ndien, kamu asik muntah, beol lagi, tuh nular dari tetangga belakang udah anaknya sakit, eh dia bawa main sama kamu."
" Terus gimana bu?".
" Kamu ketular, bu bidan lah ibu minta tolong ,ibu dah bingung."
" Untung papanya ibu kan dokter saat itu, sering nemani kamu dan Dimas main, kakek la bantui. kamu pulih Ndien."
" Kakek di Surabaya Ndien. Dia sering nangain kamu".
" Udah lama ya bu, kakek gak datang kesini."
" Iya Ndien, sibuk sama cicit ,abangnya papa Dimas kan anaknya 3, udah menikah semua.Makanya Dimas di suruh nikah, katanya nunggu kamu".
Andien bengong mendengar perkataan sang bu bidan.
" Andien kan jauh banget terpautnya sama si mas bu,8 tahunan."
" Si mas mu hatinya sulit ibu tebak, dekatnya yah sama kamu, nanyain kamu melulu Ndien."
Andien kembali menunduk ,wajah Andien memerah.
🥰🥰🥰🥰🥰
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment