Cinta Atlit Dan Pelatih

Cinta Atlit Dan Pelatih
Berangkat Ke Surabaya 2


__ADS_3

" Dek, ibu bidan tadi barusan pulang, katanya dia akan ke Surabaya jumat, sama aja kalian berangkatnya, katanya gitu".


" Andien sama pelatih dan tim mak".


" Kamu tahulah bu bidan dek, banyak dia kenal orang, udah tahu dia nomor pesawat penerbangan kalian, bu bidan dampingi kamu nak."


" Bentar lagi balek bu bidan katanya nak, " ujar sang mamak selepas Andien makan .


" Ya mak, Andien jadi sungkan mak."


" Itulah nak, bu bidan udah layaknya ibu mu juga ,liatlah nak, sayangnya sama kamu, dia takut kamu kesasar , tuh baru balik dari Menado bu bidan ada pertemuan nak, dengar kamu mau ke Surabaya, langsung bu bidan cek dan ambil tiket."


" Dari kecil adek di sayang keluarga bu bidan," ujar bang Ardi.


" Dulu kalau kamu sakit nak, bu bidan yang rawat kamu. Mamak kerja pun gak khawatir,bu bidan jagain kamu, " ujar sang bapak.


" Iya mak, makanya kalau liat bu bidan kecapekan, sedih Andien."


" Malah bu bidan bisa senyum liat Andien."


" Kalau Andien masak, u bidan suka mak".


" Sakit aja perawatnya Andien dek:.


" Bu bidan ada manja manjanya mak", ujar Andien.


" Bu bidan itu anak satu satunya nak di keluarganya."


" Iya mak, makanya punya mas Dimas satu, bu bidan merasa kurang,apalagi selepas meninggalnya anak ke 2 nya," ujar Ardi .


" Bapak sama bu bidan baik mak, nemani Andien ke sekolah daftar dan testing mau."


" Iya nak, kalau berhasil jangan lupa kebaikan mereka ".


" Iya mak".


" Ndien.....," ujar bu bidan.

__ADS_1


" Iya bu".


" Udah ibu urus tiket kita, ibu dampingi kamu ya nak, ibu cuti, sekalian liat Dimas".


" Ibu kan baru dari Manado,apa gak capek bu?".


" Pesawat yang bawa. dah ibu bilang sama Dimas, nemani kamu nak."


" Ibu liat baju di Menado, ke ingat kamu Ndien."


" Baju anak cewek,banyakan lebih bagus dari baju anak cowok".


" Iya bu."


" Gimana sekolahnya Ndien?".


" Bagus bu, teratur,disiplin tinggi, kepala sekolahnya ibu kenal ya?".


" Iya teman baik ibu masa SMP dan SMA. usah ibu bilang sama kepsek kalian, Andien itu anak emas nya ibu, dia nya tertawa."


" Pantesan bu, waktu jam istirahat, Andien di kasih roti sama minuman".


" Itulah Ndien, walau gak sedarah, bisa baik kan Ndien".


" Iya bu, benar."


" Dimas udah bilang, bakalan liat kamu tanding, dia bakalan minta jadwal kamu ke pelatihmu Ndien,kan dia kenal pelatihmu".


" Iya bu, mas Dimas pemain badminton handal juga kan bu?".


" Iya nak. namun dia wajib memilih orofesinya, rumah sakit membutuhkannya."


" Gitulah hidup nak, wajib memilih," ujar sang mamak.


" Andien kalau disuruh milih, milih jadi atelit atau apa nak?".


" Milih jadi atelit bu, gak kepikir jadi dokter atau profesi lain."

__ADS_1


" Apapun kalau di tekuni, berhasil nak."


" Iya bu."


Bu bidan mengusap rambut Andien.


" Ke ingat usia 8 bulan, Andien kena munmen ya bu, ibu, bapak, sama kami khawatir soal Andien.Sampai di bawa ke rumah sakit di infus di sana. Bu bidan jagain Andien beberapa hari".


" Sampai ketakutan ibu Ndien, kamu asik muntah, beol lagi, tuh nular dari tetangga belakang udah anaknya sakit, eh dia bawa main sama kamu."


" Terus gimana bu?".


" Kamu ketular, bu bidan lah ibu minta tolong ,ibu dah bingung."


" Untung papanya ibu kan dokter saat itu, sering nemani kamu dan Dimas main, kakek la bantui. kamu pulih Ndien."


" Kakek di Surabaya Ndien. Dia sering nangain kamu".


" Udah lama ya bu, kakek gak datang kesini."


" Iya Ndien, sibuk sama cicit ,abangnya papa Dimas kan anaknya 3, udah menikah semua.Makanya Dimas di suruh nikah, katanya nunggu kamu".


Andien bengong mendengar perkataan sang bu bidan.


" Andien kan jauh banget terpautnya sama si mas bu,8 tahunan."


" Si mas mu hatinya sulit ibu tebak, dekatnya yah sama kamu, nanyain kamu melulu Ndien."


Andien kembali menunduk ,wajah Andien memerah.


🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2