
" Apa sakit Ndien?" , tanya papi Dimas.
" Sakit ketika di suntik pak, perih, lumayan dalam."
" Kenapa bisa sampai cedera Ndien?".
" Agak kepeleset di kamar mandi bandara pak, di tambah pernah cedera baru baru ini, sewaktu bertanding."
" Hati hati ya nak, modal atelit ,yah tubuhnya nak."
Andien mengangguk.
" Gimana keadaan bapak ?".
" Hasilnya belum keluar nak ".
" Mungkin nanti sore Ndien, " ujar bu Bidan.
" Ya bu."
" Kamu belum makan Ndien?", tanya Dimas
" Belum mas , tadi dari hotel, langsung kesini aja , di antar Dita, sesama atelit juga mas."
" Gak usah nginap di hotel, rumah kita ada disini nak, se sekali datang ", ujar papi Dimas
" Andien nginap di rumah kamu aja Dim, jaga adik mu, papi gak tenang kalau dia sendirian di hotel ,mana anak cewek, belum tamat SMA, papi khawatir nak."
Andien hanya bisa pasrah, Andien tahu , papi Dimas sangat menyayanginya lebih, sudah seperti anak sendiri.
__ADS_1
" Pergi bawa makan Andien nak," ujar sang mami.
" Mami udah makan? , " tanya Andien.
" Tadi mami udah makan, sepiring berdua dengan papi, dan Andien bawa cake kesukaan mami dan papi, yah udah , kami udah cicipin, udah kenyang nak."
" Mas beli aja, kaki gini, kemana mana repot."
" Kamu ke ruangan mas mu aja nak, ada kasur , bisa istirahat, makan disana juga, ruangan ini, bau obat papi kerasa banget, " ujar bu Bidan.
" Ke ruang mas aja , kamu kan gak lernah lihat ruangan mas Ndien, " ujar Dimas tersenyum.
" Apa gak ada yang dirahasia in mas, nanti Andien disana, Andien ulak alik, mas sport jantung."
" Mau adapun gak apa apa," ledek bu bidan menahan tawa.
Sang papi tersenyum.
" Jarang jarang ada moment indah, mamimu sampai jepret ,waktu kamu gendong Andien."
" Mami dan papi kompakan ledekin , support atau....?".
" Kami mah sponsor kebahagiaan anak kami, " ujar sang papi dengan senyum mengembang.
Andien hanya mampu menunduk.
" Pacar mu katanya ada Ndien ?", ujar bu Bidan.
" Ya bu, lagi tugas di Papua, sudah 4 bulanan."
__ADS_1
" Jadiannya 6 bulan, long distance nya 4 bulanan juga yah Ndien."
" Andien sibuk bu, Edward juga ," ujar Andien.
Bu bidan bisa melihat raut wajah sang anak , menjadi sendu dan sedih.Yah ...sejak Andien pacaran, dan Dimas mengetahuinya, bu Bidan bisa melihat perubahan sang anak, dari sering melamun. menyibukkan diri dengan bekerja , lain lagi sering melakukan operasi dan kegiatan sosial.
Bu Bidan selama ini tahu, cukup peka akan anaknya, menyerahkan semua pada sang anak, namun melihat anaknya tidak baik baik saja. anaknya sedih dan terluka, sebagai seorang ibu, juga ikut sedih.
" Ndien...., kamu sering kedapatan nagis , mamak sering kirim ke ibu video kamu melamun, nangis , melihat ke rumah ibu, kenapa nak ?".
" Ihhh mamak sampai segitu detektif nya kah bu, Sndien kan jadi malu , " ujar Andien bersandar di bahu bu bidan.
" Kalian berdua ,gak blak blakan sama orangtua, orangtua bingung lihat anak anaknya gak bahagia, kalian gimana sih, apa ibu dan bapak harus turun tangan ? selama ini ,kami serahkan sama kalian, tetapi yah gini, semua ambyar, satu mikir kesana ,satu mikir kesini."
Dimas memandang Andien dengan penuh arti.
" Pikirkan kebahagiaan kalian nak, hidup gak selamanya , bahagia wajib," ujar papi Dimas.
" Kalau ibu bilang hini, semua pada diam, ibu pusing lihat kalian ber dua, udah pergi makan, nanti masuk angin Ndien."
Andien pun mengangguk.
🥰😍🥰😍🥰😍🥰😍
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment