Cinta Atlit Dan Pelatih

Cinta Atlit Dan Pelatih
Menjaga Hati


__ADS_3

Andien dan Ardi saling tertawa ,dan terkejut ketika sosok Dimas berada di depan mereka.


" Permainan kamu bagus Ndien," ujar Dimas tulus.


Andien tersenyum.


" Makasih mas".


" Pulang yuk bang, " ujar Andien manja.


Ardi mengangguk.


" Pulang sama saya aja ya, " ujar Dimas.


Sebenarnya Andien gak gitu nyaman ,namun Andien pura pura saja mengikuti sang abang yang menyetujui barengan Dimas pulang.


Mereka pun memasuki mobil Dimas, banyak pemain meminta no Wa Andien.


" Udah kayak selebrity aja kamu dek," ujar Ardi ngakak.


Andien hanya tersenyum .


" Pemain lain pada minta no Wa kamu, malah ngajak latihan bareng, jangan pacaran dulu ya dek, fokus sama prestasi."


Andien hanya tersenyum dan mengangguk. Andien duduk di kursi bagian belakang , Andien banyakan diam , padahal Dimas bolak balik melirik Andien dengan kaca bagian tengah, ke arah Andien. Ardi hanya tersenyum melihat Dimas dan adiknya.


Ardi tahu, semalam dia memandang sang adik, sang adik banyakan diam, merenung. Ardi paling tahu sifat si bungsu Andien seperti apa. Namun buat kedewasaan sang bungsu, Ardi tidak mau mencampuri nya.


Andien menerima telepon dari Firman.


Firman: " Hallo....".

__ADS_1


Andien: " Ya mas, hallo....".


Firman: " Ndien ,mas udah di rumah nungguin,kita ke pertunangan mban Ratna."


Andien: " Ya mas, bentar lagi Andien sampai. Mamak apa udah siap siap?".


Firman : " Mamak sama ibu dan ayah mas tadi pergi Ndien, mereka duluan aja Ndien, biar gak ganggu acara."


Andien : " Acara apaan sih mas?" ujar Andien tertawa.


Firman : " Ada dehhhh," ujar Firman.


" Mas tungguin ya Ndien."


Andien: " Ya mas".


Andien menatap handphone nya.Firman se iman, tapi kenapa hatinya gak ngeh. Kata orang intensitas pertemuan bisa membuat ada rasa, namun Andien selama ini sering ketemu , namanya soal hati, gak ada yg tahu.


Begitu mobil berhenti, Andien membuka pintu,Firman langsung menghampiri Andien.


" Ndien, mas udah bawa dres dari mbak Ratna ,mas udah liat nomor sepatu kamu, coba yukkk."


" Jangan dekat dekat mas, Andien masih bau acem."


Firman tertawa.


" Bang raket Andien?" tanya Andien pada bang Ardi.


" Iya , abang yang urus dek, tenang aja."


Andien tersenyum.

__ADS_1


" Makasih ya mas Dimas , tumpangan mobilnya," Andien dengan sopan mengucapkan terima kasih, kemudian menunduk dan memasuki rumah.


Andien bersiap,di bantu kakak Esternya, lain lagi sang ibu pemilik rumah sewa yang memang jago merias,soalnya beliau dulu tamatan sekolah salon, Andien pun di sulap menjadi sangat cantik ,dan dengan make up natural gak menor, kecantikan Andien semakin kelihatan.


Ketika Andien keluar, Dimas masih di sana duduk dengan Ardi dan Firman.


" Waw beautiful Ndien, cakepnya pollll, " ujar Firman.


Andien hanya tersenyum .Senyuman Andien sangat manis, menghipnotis sang kakak, Dimas dan Firman.


" Adiknya mas , cakep banget, susah bih mas jagain, pasti banyak yang naksir."


" Mas norak, " ujar Andien ngakak tertawa..


" Yuk mas Firman, " ujar Andien.


" Andien pamit ya kak, bang, mas Dimas."


Mereka semua hanya mengangguk.


Andien dengan sepatu terlihat lebih tinggi .


Andien dan Fiman pun memasuki mobil . Dimas hanya diam , namun mata Dimas melirik kepergian Andien samlai menuju mobil.Firman seorang notaris di bagian hukum, mapan, se iman, dari keluarga berada .Dimas kenal dengan Dirman, karena dulu Dimas juga tinggal satu komplek dengan mereka,hanya saja , kedua orangtuanya memutuskan pindah , karena usaha orangtuanya, punya resto,butik dan cafe berkembang pesat, mereka pun pindah, sedikit lebih jauh dari rumah mereka . Mereka baru pindah 3 tahunan. Namun Firman sering berkunjung ke rumah Andien, karena temenan dengan Ardi dan mereka satu gereja .


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2