
" Ihhh mas di puji sedikit besar kepala dehhh," ujar Abi pagi itu, karena Dimas sangat piawai memainkan game milik Andien.
Dimas pun tertawa.
" Kamu main kayak siput sayaaaang," ujar Dimas ngakak.
Andien pura pura cemberut.
Tiba tiba gerimis datang, Dimas langsung memeluk Andien, dan menarik Andien masuk ke dalam pelukannya, Dimas melindungi Andien dengan jaket nya.
Andien memandang Dimas. Begitulah refleks Dimas, sedari kecil ,sangat melindunginya.
" Jadi beli kue nya Ndien? ," tanya sang tante ketika Andien dan Dimas sampai ke rumah Tulanhnya .
" Jadi Tan, gitu kita ke bika ambon, sekalian singgah ke bolu meranti Tan."
" Risol gogo mas juga mau dek."
" Abang juga mau risol gogo dek, enak kali abang rasa risolnya."
" Ayoklah, Tulang bawa yok, kemas kemaslah ya, singgah dulu kita isi lambung di ayam pecak mas Brey, enak , rame yang antri."
" Ayoklah tulang, Andien penggila ayam pecak itu tulang."
Sang tulang pun mengendarai mobil ,membawa rombongan. Mereka pun makan di ayam pecak mas Brey, begitu ramai disana, Andien makan sampai 2 ayam dan 1 nasi, lain kangkung tumis.
" Enak kali Tulang, maknyus."
" Kalian udah lidah andaliman , lidah suka makan pedas."
" Lihat tulang, Dimas kepedasan, " ujar Andien menahan tawa.
" Di seputaran jawa, makanan cabe nya banyakan pakai gula aren , Tulang gak begitu suka, gak masuk sama lidah dan selera Tulang."
" Makanya Tulang, Andien kalau sudah tanding kemanapun, sambal mamak Andien bawa , karena susah biasa rasakan masakan Sumatera."
" Kalau Dimas udah biasa kan Dim".
__ADS_1
" Iya Tulang ,mau yang pedas ada mamak yang masak, ada yang pakai gula aren, mami yang masak."
" Ikan mujair ini enak ya Ndien."
" Iya mas, ikan ini dari danau toba, gak bawa lumpur, beda sama ikan bandeng di Jawa kan mas, sering bau lumpur."
" Iya Ndien , karena peternakannya."
" Ayukkk , let's go pasukan".
Andien dan lainnya pun menuju mobil.
Dimas membayar makanan, padahal Ardi ngotot membayar. Namun Dimas lebih duluan membayar .
Sesampai di tempat Bika ambon , Andienntahu, Dimas sangat suka bika Ambon.
" Bika ambon nya enak dek."
Andien mengangguk.
" Masih hangat, enak banget yah Ndien."
Andien mengangguk.
Ardi dan Rere suka.
Sang tulang membawa mereka lewat jalan darat menuju kaban jahe, Andien, Dimas, Rere dan Ardi serta tante memetik jeruk di daerah merek.
" Jeruknya gedek gedek yah Ndien."
Andien mengangguk.
Memvideokan moment Andien memetik jeruk bersama sang tulang, sang tante, sang kekasih dan saudaranya.
" Lihat sayurannya Ndien , seger banget."
" Iya mas, itu tanaman kentang, yang itu wortel".
__ADS_1
" Disini budi daya kopi ,banyak juga yah Ndien."
" Benar mas ".
" Tulang bawa kalian ke puncak 2000 Siosar ya , disana ada Madu efi ,tempat wisata, juga ada maulana cafe , nginap disana kita kan Ndien."
" Iya Tulang, sudah Andien urus. Kata tante anak Tulang sama anak Tante sudah di bawa bang Lamhot ke cafe Maulana Tulang."
" Iya Ndien, sama opung juga ikut, barusan nelepon tadi sama tulang."
" BBQ kita nanti malam Tulang, sambil mandang danau toba."
" Pastilah Ndien, udah Tulang beli jagung, bakar bakarlah nanti."
" Singgah kita di swalayan ya Tulang, mau beli sosis sama sambal ".
" Iya Ndien, bawa ayam sama ikan juga orang opung."
" Mantap kali lah Tulang, " ujar Ardi.
" Dingin Ndien, wajahmu dingin."
" Kalau hujan terus menerus , pasti dingin Dimas, pegunungan sering hujan, seperti di Bogor ,di daerah puncak."
" Sejuk kali Tulang, bersih udaranya disini."
" Lihat saja nak, banyak mobil pulang kampung, begitulah kalau bulan desember."
Sang Tante tersenyum pada Andien.
Mereka mencicipi berbagai jeruk sampai puas rasanya.
🍊🍊🍊🍊🍊🍊🍊
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment