Cinta Atlit Dan Pelatih

Cinta Atlit Dan Pelatih
Momong


__ADS_3

Andien meletakkan ikan arsik di depan Dimas. Dimas memandang ikan itu penuh dengan rasa penasaran.


" Mau nyoba kan mas?".


Dimas dengan semangat mengangguk.


Andien duduk di hadapan Dimas, mereka berhadap hadapan.


Airin memperlihatkan jenis duri bercabang ikan mas tersebut.


" Lihat mas, nih durinya."


" Bercabang ya Bi."


" Kalau terduri, seram mas."


Dimas mengangguk.


Airin memilah duri dan dagingnya, menyuapi Dimas, menyuapi kuah arsik juga.


" Bumbunya enak Ndien."


" Ini khas masakan orang batak mas."


Dimas mengangguk.


" Ini apa Ndien?".


" Namanya bawang batak mas."


" Rasanya rada aneh ya Ndien."


" Iya, nanti kalau mas udah terbiasa makan, lama kelamaan bakalan e ak kok."


Dimas mengangguk.


" Ikannya hangat gini, lebih enak mas dari pada dingin, beneran."


" Kamu suka ikan Arsik Ndien."


" Suka."


" Enak mas?".


" Enak Ndien."


Andien melihat Wa nya berdentang.

__ADS_1


" Mas tolong buka mas, siapa tahu ada yang penting."


" Kuncinya ?".


" Garis 3 buat mas."


Dimas pun membuka kunci handphone Andien.


" Dari pelatih Ndien.Katanya beliau kecelakaan, kamu wajib mencari pelatih baru."


" Waduh gimana bisa nyari pelatih baru mas, semua punya atelit sendiri."


" Mas latih aja Ndien, mau ?".


" Mas bisa?".


" Kamu gak percaya sama mas ?".


" Biarkan kita perlihatkan hasilnya dulu, baru di komentarin orang."


" Kamu percaya sama mas Ndien?".


Andien mengangguk


" Kenapa percaya?".


" Mas mantan atelit, piala mas banyak, dan mas selalu benar kasi masukan kalau titik gerak Andien salah."


Dimas mengangguk.


" Jadwal mas apa gak mengganggu?".


" Mas belum bertugas Ndien."


" Baiklah mas."


" Makasih, " ujar Andien tulus.


" Kembali kasih Ndien."


Dan sore itu pun menjadi tontonan tetangga ,gimana permainan Dimas sangat gesit dan memukau, mengimbangi permainan Andien.


Dimas pun memberi masukan , apa kekurangan Andien dalam permainan nya. Mereka membahas tehnik dan mensiasati lawan.Andien memberitahu beberapa atelut yang bakal mengikutj turnamen, mereka menonton permainan beberapa atelit, mengkaji ,bagaimana mensiasati nya, dimana titik lemahnya.


" Kalian penuh dengan peluh, bentar lagi mandi yah, bersih bersih, " ujar mamak Andien.


" Ya Tan."

__ADS_1


" Kalau gak ada Dimas, kesusahan lah kamu latihan nak".


" Pelatih mengenal mas Dimas mak, lalu memberi arahan pada mas Dimas."


" Ya lah nak, Dimas dulu juga atelit, pandai banget main, tetapi gak di beri ijin sama papi dan maminya ber pfofesi atelit."


" Dulu gak menjanjikan bu, banyak atelit yang hidupnya kesusahan setelah gantung reket, makanya gak di ijinkan mami dan papi."


" Jadi dokter juga kamu cakep Dim."


" Cekatan, peduli dan sangat banyak pasien kamu, belum buka praktek di rumah aja, udah banyak pasien nya, " ujar sang mamak.


" Iya bu, tetanggaan yang sakit, datang ke rumah, mereka kesusahan mencari dokter, saya bisa bantu, ya bantu bu."


" Benar nak, apalagi kamu anak dari lingkungan ini."


" Papi mu sekarang, sejak sakit, gak boleh capek lagi kan Dim."


" Iya bu, papi banyakan merawat tanaman. Nyiram bunga ."


" Padahal papimu menjaga kesehatan, bisa terkena jantung nak."


" Ya bu, faktor usia juga, genetik juga berpengaruh."


" Jaga papimu baik baik ya nak , beliau sangat baik, kamu juga nikahnya lama banget Dim, papimu udah layak momong cucu."


" Mau gimana lagi bu, Andien nya masih belum siap," ujar Dimas.


" Ihhh mas ada ada aja dehhhh".


" Kan benar, Mas nunggu Andien."


Sang mami pun tertawa.


" Kamu nungguin atelit, bakalan tua loh Dim, kamu tahu sendiri, atelit wajib mengandalkan fisik."


" Makanya bu, nunggu Andien siap."


Andien mencubit lengan Dimas.


Dimas pun merintih sambil tertawa.


🥰😍🤣😅😆


Jangan Lupa


Like

__ADS_1


Vote


Koment


__ADS_2