
Bagi Yudha ,hari ini adalah hari melelahkan, indeks saham perushaaan papinya menurun, lain lagi, kesepakatan pembelian tanah dalam pembangunan hotel tidak berjalan lancar, ada saja kendala dalam perijinan dan membutuhkan tingkat kesabaran Extra.
Dan kegugupan Renata membuat Yudha curiga.
" Berikan ponselmu," ujar Yudha.
Renata memberikannya.
" Berapa kata sandi nya?".
" 2310", ujar Renata.
Yudha membuka ponsel Renata dan Renata pasrah .Melihat air wajah Yudha berubah, Renata membalikkan badan, menuju teras kamar.
Yudha menghubungi sebuah nomor dengan memakai ponsel Renata.
πHallo
π Mengapa kamu tetap mengganggu isteri saya?
π Jika manusia tidak bisa menghargai, jadi harusnya jangan menjadikan seseorang sebagai bahan koleksi dan pajangan, karena dia bernyaw, berhak bahagia, ujar Mark dengan tegas.
Renata membeku mendengar speaker handphone yang di speakerkan Yudha.
π Bukan urusan mu mencampuri hubungan saya dengan isteri saya, ujar Yudha mengeraskan rahangnya.
π Kamu pernah bertanya,kenapa kamu pernah kehilangan nya, walau kamu begitu mencintainya dan dia mencintaimu? kamu terlalu ego, jika dulu kamu pernah menyesal , dan memperbaikinya, tidak setiap saat kamu bisa kembali meyakinkan dia, dia semakin kecewa sama kamu, dan kamu tidak pernah belajar dari kesalahanmu dulu, jadi jangan salahkan orang lain.
Yudha terdiam.
π Kamu gak senang dengan ucapan saya? mau adu pukul? adu apa jenderal, saya ladeni, dan ingat , kamu lengah, kamu akan kehilangan.
π Kamu mengancam saya? "ujar Yudha.
π Perang secara terbuka, jauh lebih berkelas, ujar Mark.
π Kamu gak akan bisa menang, Renata sedang mengandung anak saya.
π Jika dia sudah kamu kecewakan, bagi saya, tidak menjadi masalah, saya bersedia menerima apapun keadaannya.
π Jangan mimpi kamu, ujar Yudha.
Renata pasrah ,mau di marahin, mau di anggap seperti apa, hanya bisa pasrah
Renata duduk di balkon dan menerima kemarahan dan penghakiman, yang apakah kasar atau seperti apa , tidak bisa di tebak .
" Maaf, " ujar Yudha duduk di samping Renata.
Satu kata yang sangat jarang Yudha katakan pada Renata atau siapapun.
Renata menatap di kejauhan.
__ADS_1
" Mas salah, maaf rasa sayang mas, membuat kamu terbelenggu, menjadi tidak nyaman, percayalah yaaang, mas hanya ingin kamu aman, mas tahu mas salah. Mas kurang memperghatikan kamu, kamu bosan, mas gak ngabarin, sinyal di sana tidak ada".
" Mas akan memperbaiki sikap mas, maaf terbawa emosi, karena kesibukan".
" Pria cenderung melampiaskan kekesalan pada isteri, karena sudah menjadi tontonan juga, dan sangat jarang seorang pria yang bisa memiliki kesabaran, seperti profesi kita, " ujar Renata dengan sekuat tenaga menahan air matanya, hanya matanya berkaca - kaca.
Yudha segera memeluk Renata .
" Maafkan mas yaaang, mas salah.
" Tata kecewa sama mas," ujar Renata .
" Ya yaaang, mas payah, tapi apa kamh tahu yaaang, kenapa mas sangat ketat mengawasi keluarga kita? papi juga, karena beberapa penjaga terluka dengan tembakan pistol peredam , 2 hari yang lalu, mas gak cerita, takut kamu cemas, mempengaruhi kandunganmu yaaang".
" Apa mas tau, mas kasar padaku, lebih dari ribuan pisau yang menusuk aku mas, aku gak membalas apa yang mas lakukan, namun aku meragukan hubungan kita".
" Ta....".
Yudha memeluk Renata dengan erat .
" Aku tetap bekerja, masa depanku , aku gak pernah tahu, gak berharap pada siapapun . "
Yudha meletakkan dahinya dan dahi Renata, mereka saling bertatapan.
" Kamu meragukan mas Ta, itu menyakiti mas".
Air mata Renata mengalir dari kedua pipinya.
" Mas sering mengecewakan Tata,".
" Tadi Liana ke ruangan mas,".
" Di dalam ruangan mas ada Pandawa, Adam, Ada Anto.dan Aisyha, dan Tika. Liana hanya datang bertugas ,gak lebih Ta."
" Mami William juga tadi datang kan ? papinya, juga adiknya".
" Ya mas, Tata gak cerita, nanti mas kembali ngamuk, seperti singa lapar, menakutkan, " ujar Renata.
" Jangan sampai baby ku seperti mas, ngamuk sendiri, marah sendiri, minta maaf sendiri mengesalkan, " ujar Renata.
" Jika lagi normal, mas bisa sabar, jika sedang menumpuk pekerjaan , mas bercula satu dan bercula dua, gak sabar aku ngadapin suami seperti mas, aku yang hamil saja, gak tahan ,".
Yudha membenamkan dirinya , di dada Renata.
" Empuk yaaang".
" Ihhhh," ujar Renata.
" Yang hamil itu aku mas, kok mas lebih extra sensitif ? ".
" Kalau semua sensitif, bisa gawat," ujar Renata menatap tajam Yudha".
__ADS_1
" Mas kena syndrome kali yaaang," ujar Yudha.
" Itu sih alasan, takut di tinggal, takut di diamin, alasan takut kehilangan", ujar Renata.
" Ya yaaang, mas gak mauuuu, mas gak bisa tanpa kamu".
" Lebay, 2 hari menghilang, tanpa kabar, sanggup".
" Yaaang, udahan marahnya".
" Tata besok cuti, mau jalan bareng Willy".
" Apa lihat Willy ke ingat William ?" Yudha menyipitkan matanya memandang Renata.
" Yaaaa, wajah mereka duplikat".
" Mas cemburu? ".
Yudha diam.
" William lebih sabar dari mas".
" Ya....".
" Mas akan belajar lebih sabar".
" Apa sanggup bos? " ujar Renata.Tawa Renata pun pecah.
" Kamu ledekin mas".
" Arogan jadi lemah gemulai, gak bakalan bisa, "ujar Renata tertawa.
" Tipe maksa, tipe ngangkut kalau udah marah, Tata udah mempelajari mas, gimana mas marah, wajah ketat. rahang mengeras, gak heran," ujar Renata tertawa.
" Ujung ujungnya ,minta baikan, minta jatah, hayooo ngaku aja".
" Benar, "ujar Yudha tersenyum.
" Hari puasa yaaang.....".
" Rugi kan !!!!!!, marahan sama isteri?".
" Hmmmm, iyaaaa...iya.....Rugi yaaang".
Yudha menggendong Renata, dan begitulah , selalu ada peperangan , tetapi ada juga saatnya perdamaian.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment