Cinta Sang Jenderal

Cinta Sang Jenderal
Takut


__ADS_3

Renata merasa gak betah dengan infus dan banyaknya suntikan, setiap mau di suntik, selalu Renata merasa gak nyaman.Yudha selalu memeluknya , desah nafas Rebata, bekas suntikan beberapa membiru di badan Renata, membuat Yudha sangat sedih, kalau bisa melilih, baiknya dia menggantikan posisi Renata.


Papi Yudha menggantikan pekerjaan, papi Yudha tahu, Renata sangat membutuhkan sang suami. Bahkan mami dan papi Renata sangat cemas dengan kondisi Renata.


Mbak kedua tetap kontrol kandungan Renata.


Dengan handuk hangat, mami Renata mengompres bekas suntikan, air mata mami Renata mengalir. Anaknya yang tomboy, petarung, harus menunjukkan ke banyak orang, sangat takut masuk rumah sakit, sangat takut disuntik, namun ini kali masuk rumah sakit terlama sudah 2mingguan.


" Mami jangan nangis," ujar Renata menatap sang mami.


" Mami cemas nak, kamu anak mami satu - satunya, mami dulu susah melahirkan, tetapi gak sesusah kamu nak, mami sangat cemas".


" Mami doain aja Tata, sebenarnya Tata sudah pasrah mi, gak tahu mau buat apa".


" Hus.....ngaco ,ngomong ngelantur. jangan pasrah, kamu gak kasihan liat mami nak? kamu lelah nak?", boleh lelah, jangan menyerah".


" Mi, Tata sangat lelah....".


" Kamu gak mau liat wajah baby mu nak, mereka pasti sangat lucu, wajah papi nya, berkolaborasi dengan wajah maminya, semangat nakkkk,gitu lahir nanti, malahan kamu minta nambah anak, pastinya Yudha kapok, liat kamu ngalami semua ini, ujar sang mami ,berusaha menghibur sang anak."


" Lebih baik latihan dan masuk hutan 1 bulanan , lebih baik luka tembak atau sayatan mi, sakitnya sampai ke jantung, " ujar Renata.


" Jika waktunya tiba, siap sedia operasi ya nak, harus berani,okeyyyy".


Renata hanya menunduk.


Yudha langsung berdiri dan memeluk Renata dengan erat.


" Jangan takut yaaang ,mas selalu ada , jangan menyerah , ayolah yaaang, kemana semangat juang nya, polwan gak ada nyerah, ingat yaaang," Yudha memeluk erat Renata .


Mami Renata menghapus air matanya.


" Ucapan Yudha benar nak, semua pasti berlalu, yakinlah dengan iman, semua mampu terkalahkan dengan iman."


" Kita hidup karena kemurahan Tuhan, Tuhan tahu yang terbaik, jangan ragu dan semangat berjuang dong yaaang, masa belum berperang, sudah tunjukin bendera putih, mana Renata mas yang paling lemah olah raga, nyaris nyerah dalam pelatihan, tetapi karena bakat IT nya, pelatihan fisik bertahap hingga menjadi pasukan elite, masa kalah, gak yaaang ,berjuang ", ujar Yudha.


Dengan manja Renata dalam dekapan Yudha.


" Kalau lagi sakit, manja banget Yud, kalau lagi sehat, hmmmm... , petarung, suka usil, iseng, kita jadi lawannya, keras kepala ampunnnn".

__ADS_1


" Mi...., mami muji dikit dong, jangan menjatuhkan."


Yudha dan mami Renata tertawa.


" Mau makan apa yaaang, nih mami Wa, kata mami, makanan rumah sakit gak ada enaknya, hambar, mami gak mau, kamu gak makan, tekanan darah normal, hanya sekali naik , apa karena banyak pikiran atau apapun ."


"Mas...mas aja yang masak, pengen makan omelet mas masak, pengen nasi goreng juga."


" Mas gak mau ninggalin kamu yaaang, mas cemas".


" Tata mau makan masakan mas".


" Mas akan suruh Andren membawa kompor listrik dan bahannya, mas akan mask disini".


Renata dan sang mami tertawa melihat Yudha, selain mandi dan ke kamar mandi pub, Yudha gak lebih dari 10 menit meninggalkan Renata.


Papi, mbak pertama, mbaknkedua, para ponakan Yudha melihat aksi Yudha memasak.


Renata beberapa kali bersin, karena bau cabe yang Yudha gunakan.


Semua pada tertawa.


Malam itu, mereka makan bersama , mami Renata tersenyum bahagia, melihat keluarga Yudha sangat baik, memperlakukan Renata. Mereka akrab, saling mendukung satu sama lain.


Dan sudah bisa di tebak, Mbak kedua selalu tersenyum, melihat sang adik tidur di samping sang isteri .


Usia kehamilan Renata tepat 9 bulan, keluarga masih memutuskan, Renata di rawat di rumah sakit. Pagi itu, Renata merasa gelisah, akhir akhir ini , sudah satu mingguan Renata tidak lagi di suntik, infus sudah di lepas,Renata dan Yudha mengiuti senam hamil.


Setiap hari , buket bunga dari Gustavo alfaro, Azka cavero juga memberikan parsel buah, bunga, lain Bima sang asisten, melalui bantuan Sinta , seminggu beberapa kali mengirimkan mini cake kesukaan Tata.


Renata tertawa melihat ulah sang Jenderal, di pagi ini, sang Jenderal memberinya buket bunga mawar merah, buket bunga super gedek , Yudha dengan berlutut memberikan buket pada Renata. Renata gak habis akal, Renatabtertawa melihat sang suami.


" Hmmmm, sogokan nih ceritanya pak Jen?".


" DP yaaang," ujar Yudha tertawa.


" DP apaan pak Jen?".


" DP mencintai mas, berjuang, kuat demi twins".

__ADS_1


" DP nya dikit banget, ujar Renata ngerjain sang suami".


" Baikklahhhhh...., "Yudha mngulurkan sebuah kotak perhiasan.


" Ini yaaang, " Yudha menunjukkan dua buah kalung couple ,dengan gelang couple juga.Bentuk nya sangat unik, khas, dan berkelas.


Renata mengerutkan dahinya.


" Mas demam?" Renata mengulurkan tangannya mencek suhu yudha.


" Gak, " ujar Yudha tertawa.


" Sebenarnya ,hadiah ini sudah sangat lama mas simpan, ketika mas bertugas di Italy, tetapi saat kalung dan gelang ini selesai, mas terbang ke LA, dan menjadi penguntit. Mas sudah nyerah, tetapi ketika mas akan menyerah, jodoh itu kembali datang, dan mas tidak mau menyerah. Hadiah ini, harusnya sewaktu pernikahan mas berikan, namun hadiah lain sudah mas berikan, ini moment dimana kembali Tuhan menguatkan kita, jadi mas memberikannya padamu yaaang, ingat mas selalu ada buatmu."


Yudha mengalunkan rantai di leher Renata .Kemudian memasangkan gelang , disana terukir nama Renata dan Yudha. Renata juga memasangkan Kalung pada Yudha dan juga memasangkan gelang.


" Jenderalku mirip anak kuliahan, " ujar Renata terkikik tertawa.


" Jalan yuk yaaang".


" Apa boleh keluar dari rumah sakit mas?".


" Boleh, kalau gak ketahuan mbak kedua, " ujar Yudha.


Renata mengangguk.


Yudha membawa Renata ke apartemen nya. Disana Renata terkejut, melihat begitu banyak foto Renata terpajang di ruang kerja Yudha, di kamar juga.


Yudha dan Renata saling bertaut, mereka larut dalam perasaannya.


Ketika hari sudah siang, Yudha membawa Renata kembali ke rumah sakit.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2