
" Ko...., koko selama ini mau ngertiin dunia Tata, kenapa sekarang koko seperti ngatur banget sihhh, seperti bukan koko saja."
" Ta, pekerjaan kamu penuh resiko, mau berapa banyak kamu mempunyai misi ,mempertaruhkan nyawa kamu, nyawa kamu itu satu, bukan 5, ujar William kesal."
" Koko kenapa jadi gini sihhh? " tanya Renata .
" Ta..., koko itu menyanyangimu, setiap kamu tugas , rasanya nyawa koko sudah mau lepas dari kamu, koko gelisah, takut, takut terjadi sesuatu sama kamu".
" Selama ini koko berarti menutupinya yah sama aku? bahwa koko fine fine aja, apa iya ?".
" Bukan begitu Ta, coba mengerti dari sudut pandang orang awam seperti koko".
" Iya aku ngerti ko, selama ini koko gak pernah permasalahkan, kenapa menutupinya ? hanya biar hubungan kita adem , tapi seperti sekarang ibarat bom waktu?".
" Ta, bukan ....bukan seperti itu...., ".
William memeluk erat Renata.Renata terisak dalam dekapan William.
" Koko tidak bisa hidup tanpa kamu Ta, koko tidak bisa.....".
" Terlalu posesif, terlalu menyayangi, yah itulah koko, selama ini koko berusaha tidak mengekangmu, tidak posesif pada kamu, namun jujur itu sangat sulit koko kendalikan. Ketakutan, setiap kamu bertugas, cemas, maaf Ta, apakah bisa kita jalani hidup normal?".
" Ko, pengabdian dna sumpah jabatan aku bukan main - main, aku sudah pernah mengundurkan diri, namun....itu dunia ku, bisa berguna bagi negara."
William menatap di kejahuan.
" Koko gak bisa Ta, koko gak bisa ketika bekeluarga , ketika melangkah lebih jauh, kamu bertugas , dan koko tidak sanggup kamu meninggalkan kami, penuh resiko."
__ADS_1
Renata menatap William.
" Jangan menyuruh ku memikih anatara cinta dan profesi ko, itu sulit," ujar Renata dengan tatapan penuh kesedihan.
Renata perlahan meninggalkan lapangan .
Perasaan Renata sangat sedih, bingung ,perih.
Selama ini, sosok William yang selalu mengerti profesinya, tidak pernah mempermsalahkan nya, ternyata William hanya memendam perasaannya , sampai begitu mengkhawatirkan dirinya, normal sih, tandanya menyayangi, mencintai, namun sebelum menerima Renata , resiko itu selalu ada , gimana dengan para abdi negara lainnya, pacar, isteri. atau suaminya, mengiklaskan orang yang mereka cintai, demi negara.
Pengabdian itu , sudah mendarah daging, Renata sudah terbiasa dengan dunia militer .
Akan ada masanya juga ,mereka akan bertugas di kantor.
Renata mengusap wajahnya.
Renata bukan tidak pernah , memikirkan keluar dari dunia militer, namun dia seperti asing menjalani hidupnya. Panggilan untuk pengabdian , sangat besar.
Renata membaca surat penugasannya.
Malam itu , Renata sangat kesulitan tidur, pengerjaan tesis nya, membuat dia banyak pikiran.
Bahkan William tidak mengirimi nya pesan atau meneleponnya.
Di hari ketiga, Renata sengaja ke fakultas William, melihat William duduk , membaca bukunya, sambil mengunyah hamburger.
Ketika siang, Renata pun membeli makanan siang buat mereka. Renata menunggu William dari jauh.
__ADS_1
Renata melihat William begitu tampan. baik, dan pendiam di kelas nya. Hanya sama pria dia banyak bergaul dan bicara . Renata memegang dadanya, terasa perih .
Bertapa bingungnya dirinya , memilih antara cinta dan pengabdian.
Kalau semua hanya memikirkan cinta, bagaimana negara? selalu banyak perdebatan dalam diri Renata.
Renata menatap William memakai baju putih dan celana putih, serta sepatu putih, yahhh, warna kesukaan William selalu putih, bahkan memberi mawar pada Renata , bunga tulip , semua putih.
Renata berjalan mendekat ke arah William.
William terkejut, tidak menduga Renata menemuinya.
Mereka duduk di sebuah kursi ,menatap tanaman dan aneka bunga disana .Sambil mebgunyah mie korea , kesukaan mereka berdua jajangmyeon .
Seperti biasa William menghapus wajah Renata yang berlepotan, dengan tisu .Wilkiam sangatnpencinta kebersihan, sama dengan Yudha , kemanapun membawa tisu.
Renata tersenyum saat menenteng tisu dan mengejek William karena tisu nya.
Mereka tertawa berdua.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment