
Pagi pun datang, mengawali hari, kita berdua bergandengan tangan, menyusuri jalan di LA, kota berjuta artis.
Kita memiliki kesenangan tersendiri, ada kalanya menonton trailer film hollywood, tapi minat kita selalu ber ubah - ubah .
Dan pagi ini , kita mengunyah hamburger sambil jalan, semua kita nikmati, dan hubungan kita seperti apa adanya aja yang kita jalani.
Ketika siang, mereka berdua gak bisa masak, selalu makan di resto sederhana, ala pelajar, namun sesekali ,jika nerima gaji, mereka akan makan besar.
William sama dengan Yudha, gak terlalu mempermasalahkan apa yang akan dimakan .
Renata menggelengkan kepalanya. Kenapa dia ke ingat sang Jenderal.
Mereka membereskan barang, dan mengirimkannya lewat cargo pesawat, hanya 2 koper kecil yang mereka bawa ke cabin pesawat besok.
Renata duduk di balkon, menikmati kopi buatan nya .
William tersenyum melihat Renata.
" Kamu harus banyak tersenyum yaaang, jangan sendu, atau sedih, cakepan tertawa dan tersenyum."
Renata mengangguk.
" Kita akan terpisah , di changi airport ko."
" Koko menuju Medan, dan Tata menuju Semarang.Yaaah pisah lagi, Tata akan merindukan koko, koko merindukan Tata gak?".
" Sangat Ta..., makasih kamu menjadi pelangi dalam hidup mas, kamu itu sangat berarti."
" Koko juga, " ujar Renata.
Renata dan William menukar pakaian mereka, mereka kembali mengendarai mobil menuju lapangan sepak bola .
Mereka lengkap dengan topi hitam, balon tepuk support. Mereka duduk di sebelah Timur lapangan.
Penonton begitu padat dan ramai.
Sorakan ,tepukan balon , para penonton bersemangat, skor 2- 1 dan sejauh ini, tim favorite Renata dan William unggul .
__ADS_1
" Minum yaaang, " ujar Renata.
William memeluk erat Renata , mereka tertawa sambil menonton pertandingan
Di babak kedua, baru berselang 10 menitan. Menggelegar tembakan membabi buta ke segala arah, penembakan masal membuat para penonton panik, Renata menunduk, namun Renata menjerit saat melihat William terkapar ke belakang.
Renata menjerit, membuka jaketnya. Melihat tembakan yang di alami William.Isak tangis Renata pun pecah. Mengambil handphone nya, menghubungi 911 dan kemudian menghubungi ambulans.
" Ko...., bertahanlah..., " ujar Renata.
William tersenyum memandang Renata, menghapus air matanya .
" Honeyyyy, koko sangat mencintaimu."
" Huaaaaahhhhh....huahhhh, ko....kenapa bisa gini, kenapa gak Tata aja, " ujar Renata.
Sebuah sosok mendekati Renata dan William.
Sosok itu mengangkat William .
" Jen...jenderal, " ujar Renata.
Di dalam ambulans Yudha dan Renata menemani William.
Darah begitu banyak mengalir.
Yudha membantu penasangan oksigen dan perawat memasangkan selang infus pada William.
" Saya kebetulan di seberang bertugas , mendapat telepon urgent, saya langsung ke lapangan. Dan melihat ada korban, saya gak tahu, kalian salah satu penonton, dan William terkena tembakan, " ujar Yudha.
" Bertahanlahhh, pelaku lagi di buru agen intel."
Serangkaian penembakan membabi-buta melanda negara ini, tahun lalu dan memicu perdebatan baru tentang pemantauan senjata api di kalangan warganegara .
Pada 14 Desember, penembakan di satu lingkungan Sekolah di Sekolah Dasar Connecticut menewaskan 20 murid dan enam orang dewasa. Sebelumnya, penembakan di gedung bioskop di Colorado menewaskan 12 orang dan melukai 58 orang lagi.
Renata menggenggam erat tangan William.
__ADS_1
" Golongan darahmu apa Will?".
" O".
Yudha menelepon bawahannya , agar menuju sebuah rumah sakit.
William pun di dorong ke ruangan UGD .
" Yud...., aku serahkan Renata sama kamu, mjngkin waktuku gak banyak lagi, Yud...sayangilah Renata, aku tahu , kamu sangat mencintainya, ternyata firasatku benar, waktuku tidak banyak, aku tidka bisa menikahi wanita yang sudah ku lamar dan ku cintai, ternyata firasatku benar, aku akan meninggalkan orang yang ku sayangi , " ujar William.
" Ko...,jangan ngomong gituuu, jerit Renata histeris."
" Jangan jerit, tenang, kamu gak akan di ijinkan disini, jika kamu menejrit," ujar Yudha.
Renata pun memeluk William.
Kita butuh transfusi darah, ujar sang perawat.
Golongan darah O , kosong.
" Darah saya O, ":ujar Yudha.
Yudha pun di ambil darahnya di sebuah ruangan .
Anggota Yudha pun beberapa orang di ambil darahnya.
William menayal Renata, matanya berkaca - kaca.
" Hiduplah bahagia, buka lembaran baru dengan Yudha, maaf Ta, maafkan koko".
Renata baru teringat, Renata menelepon orangtua William, Renata memberitahu , William terkena tembak di lapangan sepak bola.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment