
Setelah tiga hari dalam perawatan, Renata sudah boleh pulang, sebelum pulang, Renata mengunjungi kediaman keluarga William bersama Yudha, Renata pamit, dan mami William bisa melihat kesedihan Renata.
Andai William masih ada, kehidupan Renata tidak akan seperti saat ini, jatuh dan bangun, Mami William turut sedih dengan melihat tatapan mata Renata.Tersenyum menutupi sedihnya.
" Kamu akan selalu kuat Ta, mami bahagia kamu sedang mengandung, jangan banyak pikiran, jalani saja, semua ada jawabnya nak".
Renata mengangguk , sesaat setelah mami William memeluk nya.
Kita berdua mungkin punya kesamaan, kita sedang berlari. Aku berlari menuju sesuatu, Kamu berlari menjauhi sesuatu.
Renata memandangi awan .
" Banyak yg sudah melepas, tapi belum ikhlas. Bukan tidak mau, tapi membiaskan diri tanpa kehadiran seseorang yang sudah lama menetap memang tidak semudah itu! " ujar Renata dalam hatinya.
..." Banyak yang berjuang panjang dan nyatanya diri sendiri yang akan terbuang, pernah di genggam erat dan ujungnya akan terlepas juga, pernah memikirkan perasaan orang lain tanpa menyadari dirinya lebih dari hancur, mencoba untuk bisa mengikhlaskan tetapi batin yang semakin tersiksa, banyak yang tidak mengerti apa yang di rencanakan oleh waktu yang seolah olah selalu membanting melibatkan pola pikir, perasaan dan lisan tawa yang menjadi penutup beban itu sendiri, apapun itu biarkanlah , semua sudah semestinya terjadi, " Renata memejamkan matanya , mengurangi kesedihannya."...
" Kalo salah di nasehati ya. Jangan di kasarin, itu yang malah bikin aku melakukan kesalahan semakin menjadi jadi, dan aku menjadi pembangkang, untuk saat ini aku pasrah, diam ,menjadi penurut, namun itu bukanlah diriku lagi, ketika aku hanya pasrah, namun buat berganti profesi aku tidak bisa, maaf" ujar Renata dalam hatinya.
" Seandainya rindu bisa ku hapus dan kecewa bisa ku hempas. Mungkin, bisa jadi aku adalah seseorang yang paling ikhlas dan pintar dalam melepas, nelangsa ini seperti bom waktu, hanya tarik dan ulur, " ujar Renata Dalam hatinya.
__ADS_1
" Ketika banyak yang datang padamu dengan segala kesempurnaannya, aku akan tetap disini dengan ke-apa adaannya aku.
Ketika banyak yang datang padamu dengan menunjukan besarnya rasa sayangnya, aku akan tetap disini dengan doa-doa baik untukmu.
Terserah, aku tak pernah memaksa agar disukai olehmu,
aku tak pernah meminta agar disukai olehmu.Mas hanya bisa mencintaimu, menyayangimu, memperhatikanmu saja , mas kira itu sudah cukup,
Mas tak ingin perasaanku merepotkan seseorang, dan mas hanya ingin, kamu mengerti suatu saat nanti, sepertinapa dalamnya mas mencintai dan menyayangimu, " ujar Yudha meraih kedua pipi Renata.
Wajah Renata mengarah pada Yudha, mereka saling menatap.
" Mas sadar, mas khawatir dan sangat takut jika yang selama ini apa yang mas lakukan adalah tetap salah di mata mu, mas takut jika terlalu mengejar cinta mu , sedang tanpa disadari mas melupakan hakikat cinta yang sebenarnya harus ditujukan kepada siapa.
" Tapi tetap, mas pun tidak ingin memaksakan kehendak diri ini lagi, sebab semua hati adalah milik mu , dan kini mas akan belajar untuk memasrahkan seluruhnya kepada-Nya, " ujar Yudha.
" Tidak, bukan berarti aku menyerah, justru mas takut jika perasaan ini adalah perasaan yang tidak berbalas. Bukankah seseorang yang telah dipilihkan-Nya untuk mas itu jauh lebih baik , dan itu hanya kamu Ta".
Yudha memeluk Renata dengan erat.
__ADS_1
" Jangan bertugas dalam misi lagi ya yaang, jabatan fungsional stay di kantor, " ujar Yudha.
Renata mengangguk.
" Makasih yaaaang, mas menghormati keputusanmu, tetapi mas masih menunggumu menjadi sekretaris handal mas, lowongan itu, kapanpun akan ada buat kamu yaaang".
" Saat berada di balik kursi kepemimpinan, disitulah kesetiaan mas di uji, kesetiaan bertemu klien, kesetiaan menghadapi sekretaris cantik dan karyawan cantik, akan semakin sering cuci mata, dan kita akan bisa liat, kesetian itu sangat mahal jenderal, " ujar Renata berbisik di telinga Yudha.
" Tidak usah berjanji apapun, pembuktian yang penting, tidak usah cuap - cuap , kalau hanya bualan kosong, bermain cantik, jika ber keinginan dalam hubungan terlarang, dan awas jenderal, isterimu bukan wanita lemah, ketika kamu terperangkap dan ter ekspose, maka selesai dan tidak akan ada permohonan maaf, semua selesai ," ujar Renata dengan wajah serius menatap Yudha.
" Baik, " ujar Yudha.
Yudha menggenggam tangan Renata ketika keluar dari pesawat, mereka pun kembali ke kediaman mereka.
π¨ββοΈπ©ββοΈπ¨ββοΈπ©ββοΈπ¨ββοΈπ©ββοΈπ¨ββοΈπ©ββοΈπ¨ββοΈπ©ββοΈ
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment