Cinta Sang Jenderal

Cinta Sang Jenderal
Kepergian Mu 4


__ADS_3

Yudha menelepon kedutaan RI , mengurus surat di rumah sakit, dan beberapa polisi dari negara tersebut menanyai Renata. Renata menjelaskan apa yang dia dan William alami.


Renata masih ingat ,melihat wajah sang penembak . Keterangan Renata di minta pihak kepolisian, dan seorang pihak kepolisian membuat ilustrasi seperti percis penggambaran Renata .


Renata kembali melihat jenazah William, sudah di pakaiakan jas rapi. Namun masih di ruang jenazah .


Menunggu pengurusan dan ijin dari kepolisian setempat .


Renata merosot ke lantai, menangis pilu .


" Kamu meninggalkan aku ko, aku bagai sedang bermimpi , aku kehilangan kamu selama - lamanya . Kamu jahat banget, kenapa harus kamu pergi ko...?".


Yudha meraih tangan Reanta , mengangkat tangan Renata .


" Dia sudah kaku, tidak bisa bicara sama aku, kenapa ,kenapa ...,"ujar Renata terisak sedih.


" Ta...sudah nak, William paling benci kita menangis, ujar Mami William.


" Tuhan,.... beri aku keberanian, beri aku kesabaran, ketabahan, besar anugerahMu Tuhan, apapun hidupku milikMu, sampai aku bertemu dengan Tuhan , bertemu dengan puteraku," isak mami William pecah.


" RencanaMu aku imani Tuhan, iklas aku ucapkan, walau hatiku belum se iklas itu Tuhan, tetapi aku percaya, anakku tidak menjadi penjahat, anakku sudah kau bebaskan dari dosanya, dia kau ambil di saat terbaiknya, di saat dia bisa setia dan mencintai seseorang, dia bisa hidup dengan baik," ujar Mami William.


" Ta...., takdir , jodoh, maut, ada di tangan Tuhan nak, kamu jangan pernah salahkan Tuhan dengan kejadian ini semua. Ingatlah nak, setiap yang ber nafas akan mati. Mati dalam kemenangan, lebih terpuji, kamu sudah mencintainya, dan kamu sudah menjadi bagian terindah dalam hidup nya, walau William sudah tidak ada , kamu akan teyap bagian keluarga kami, wanita yang putera kami cintai, tetap jangan putuskan tali silaturahmi ." ujar papi William.


Mami William memeluk Renata .


" Keputusan ii dan om, William akan kami kremasi, dan akan kami bawa pulang ke Medan."

__ADS_1


" Tiket sudah saya reschedule , menurut pimpinan disini, besok pelepasan jenazah , korban penembakan ada 10 orang, akan dilakukan upacara pelepasan secara militer. Ini surat buat kelaurga William, semua di fasilitasi negara, dan sudah dinurus kedubes pemulangan William."


" Pelaku sudah di tangkap, berkat keterangan Renata dan beberapa saksi, " ujar Yudha.


" Temani aku ke kepolisian mas," ujar Renata.


Yudha mengangguk .


Renata kembalinke apartemen nya , Yudha menemaninya .Renata sangat sulit makan, dan tidak bisa tidur. Dia memilih tidur di rumah sakit, para perawat banyak terisak melihat kesedihan Renata. Dan membiarkannya menunggu disana.Mereka memberikan kursi tidur sandaran, dan selimut buat Renata .Yudha selalu menemani Renata , tanpa bicara apapun , Yudha merasa cukup menempatkan diri, agar Renata tidak terusik dengan kehadirannya .


Renata memandang kemeja yang Renata minta pada William , wangi parfum William masih disana menempel .


Renata menepuk dadanya , kembali terisak .


Renata menghapus air matanya, memakai kemeja William dan memakai jeans nya .


Kemeja itu sedikit kebesaran, tetapi Renata tidak peduli . Renata memakai kaca matanya .


Yudha memarkir mobil dinasnya. Beberapa polisi memberi hormat pada nya .


Kening Renata sedikit berkerut.


" Mereka mengenal mas, dulu mas lama bertugas di LA, sekitar 3 tahunan , beberapa kasus mas tangani, makanya mereka menghapal wajah mas, demikian juga kasus penembakan kemarin, karena tim gabungan berhasil mendapatkan pelaku, dan mas memimpin pasukan gabungan itu," ujar Yudha.


" Kenapa mas gak minta aku ikut ?".


" Surat ijin mu tugas mana ada Ta," ujar Yudha .

__ADS_1


" Mas kebetulan dapat tugas , " ujar Yudha berkilah .


Renata memandang sang pelaku, perasaan nya berkecamuk melihat seorang pria separuh baya, pria itu yang membuat banyak tangisan kehilangan , hati Renata bergejolak .Dengan sekuat tenaga Renata menendang pria itu, semua polisi disana terkejut melihat apa yang Renata lakukan. Ini belum seberapa dengan apa yang kamu lakukan, kamu telah mengambil nyawa tunangan aku. kamu telah mengambil 10 nyawa , dan telah menghancurkan dan menciptakan banyak kesedihan bagi keluarga nya. Kamu akan membayarnya sampai se umur hidupmu, kamu akan membusuk di penjara, " ujar Renata dengan berani .


Renata membalikkan diri .


" Kalau ada tuntutan dari pengacaranya, ini nomor saya hubungi. Harus nya dia saya kuliti dan gantung perlahan , hingga terbayar setiap rasa sakit, dari perbuatannya, " ujar Renata dengan pandangan sedih keluar dari kantor polisi.


Renata berjalan memasuki stadiun sepak bola , pihak polisi menghadangnya, namun lencana Yudha , memberi akses buat Renata bisa masuk ke lapangan.Renata duduk di tengah lapangan , dan hanya menumpukan kepalanya di kedua lutut nya.


Renata kembali terisak .


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan Lupa


Like


Vote


Koment


Singgah juga ke novel karya saya lainnya:



__ADS_1




__ADS_2