
Udara pagi menusuk ke pori pori kulit. Yudha masih memeluk Renatan. suara nafas Tata menghangat berhembus di wajah Yudha.Renata berbalik, tidurnya lumayan lasak, namun Yudha tidak mau melepaskannpelukannya . Setelah Renata berbalik, maka dia akan kembali memeluk Renata .
Renata terbangun, ketika mendengar suara alaram dari handphone nya .
Yudhanpura - pura masih tertidur. Yudhaa langsung memejamkan matanya .
Renata perlahan mengusap wajah Yudha .
" Selamat pagi yaaang, sehat , dsn selalu dalam perlindungan Tuhan, " ujar Renata .
Renata pun perlahan berdiri, menuju walk in closet, menyusuri lemari pakaian, menyiapkan pakaian Yudha, dan pakaian nya .
Renata melihat ada 2 bathrobe di dalam kamar mandi, dan susunan handuk , semua tersusun rapi .
" Keluarga sultan memang beda, kalau keluarga ku, papi punya perusahaan, namun gak gini - gini amat , punya lemari 1 di kamar, mau keluar kamar mandi ,yah pakai handuk biasa ,keluar gitu aja.
Kamar mandi gak 5 kali lipat dari tempat ini, apalagi duku di kampung nenek, adanya sumur, pancuran, yah kalau mau mandi , nimbah dulu, usaha dulu, dalam hati Renata."
" Keluarga William , mungkin juga seperti ini rumahnya . Tapi entahlah, ku juga hanya bertamu beberapa kali, masuk ke kamar William juga sekali, itu juga gak lama."
Renata sudah menyiapkan air hangat, berendam dengan aroma terapi .
" Ke ingat liburan di Bali, bareng Sinta, ngambil hotel bintang 5, yah imbanglah dengan kamar ini, fasilitasnya. Tapi heran, keluarga mas Yudha tajir, punya perusahaan sendiri, rumah bagus, masih mau jadi abdi negara. Berjuang dan mempertaruhkan diri, pemikiran seseorang memang beda - beda , dalam hati Renata."
Renata membuka matanya , ketika terkejut melihat sosok Yudha berjalan, tanpa sehelai benag pun, sangat maskulin, memasuki bathup .
Renata gak sangup mengatakan apapun.
" Mandi sama yaaang, ujar Yudha mereih tengkuk Renata , menyusuri perlahan setiap jengkal kulit Renata.Suara detak jnatung Renata berpacu ."
Perlahan Yudha menyusuri setiap bagian diri Renata, Renata hanya mempu mencengkeram pahatan bahu bidang suaminya .
Yudha membuat stempel kepemilikan di beberapa area yang dia hendaki, sesuatu hal yang baru, dan awam bagi Renata. Renata hanya melihat di setiap film barat, romantis, ternyata , beginilah pembuatannya, ujarnya dalam hati .
__ADS_1
Deshan nafas, semakin tidak teratur, Renata dan Yudha masih sangat awam .
Yudha menekan tombol handphone dan TV di kamar mandi, tersaji film 17 tahun ke atas.
Yudha tersenyum melihat mimik Renata.
" Belum pernah nonton yaaaang,? tanya Yudhamembelai puncak kepala Renata."
" Sudah,sesama teman polwannpernah ngajak nobar, alias nonton bareng, " ujar Renata.
" Kenapa reaksi kamu terkejut yaaang?".
" Sedikit aneh , nonton bareng cowok, apalagi intim seperti ini mas"ujar Renata menunduk .
" Hal ini wajar kok yaaang, kita akan banyak belajar, setiap apa yang membuat kita nyaman, saling berbagi , satu tubuh dan satu jiwa."
" Maaf mas, ku perlu adaptasi ," ujar Renata.
" Mas juga yaaang."
Kembali serangan sang Jenderal , menciptakan desahan dan kenikmatan indahnya dunia.
Setelah beberapa saat berlalu, Renata sudah terbalut dalam bathrobe .
" Rasanya Tata gak bertulang mas, "ujar Renata jujur.
" Setelah pulang dari Medan, kita harus rutin olah raga lagi yaaang, " ujar Yudha.
" Ya mas....., " ujar Renata.
Sedikit bergerak , Renata meringis menahan perih.
" Sakit yaaang?".
__ADS_1
Renata mengangguk .
" Permulaan memang begitu, nanti gak lagi".
" Ya mas," ujar Renata.
" Teman Tata juga cerita, pengalaman mereka, " ujar Renata.
" Mau lagi yaaang?".
Renata menggeleng .
" Tadi aja mas sudah 2kali , apa gak lelah?".
" Gak yaaang, ".
" Mas berharap, kita di berkati Tuhan, dengan keturunan yang baik, sempurna , tidak kekurangan suatu apapun."
Yudha mengecup perut Renata .
" Doa mas, ketika memasuki mu , Tuhan memberikan ikatan kita, semoga Tuhan memberikan kepada kutankepercayaan".
Renata mengusap rambut Yudha.
" Amin mas..., " ujar Renata.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment