Cinta Sang Jenderal

Cinta Sang Jenderal
Perhitungan 2


__ADS_3

Renata menatap perkebunan , hijau , begitu asri. Renata beberapa kali menyuruh Siska berhenti membeli aneka buah, membeli cemilan kue tradisional, Renata dengan lahap memakan nya.


" Gitu dong Ta, apa aja di makan, yang penting enjoy, maaf kami seakan menghakimi kamu, jangan banyak mikir ya Ta, ujar Siska".


Renata mengangguk .


" Kalian sekali 4 ajukan cuti apa di ijinkan tuan Mark?".


" Gak satu divisi, yah di ijinkan Ta, namun CEO kita yang super keren sepertinya curiga, kami kan komplotan kamu, asal jangan aja dia buntutin kita," ujar Meta.


Mereka singgah ke sebuah rumah makan, Renata sangat sedikit makan , tidak begitu berselera.


" Tenyata kadang mood juga makan ya Ta".


" Ya , begitulah, mereka twins, " ujar Renata mengelus perutnya.


" Beneran ? jerit ke 4 teman Renata."


Renata mengangguk.


" Rntah mengapa di saat kehamilan ini, aku sangat benci di marahin, maunya di mengerti, tapi aku gampang marah, sensitif dengan segala sesuatu".


" Kamu gak niat kerja kantoran Ta ?".


" Gaji seorang sekretaris jauh gedek dari gaji kamu saat ini, lain resiko lagi, kamu itu mami, anak sakit, kamu tugas. pasti susah nantinya".


" Jiwaku terletak pada seragam dan tugas yang ku emban ", ujar Renata.


" Mau ku kenalin dengan anghota ku? atau atasan ku?".


" Body six pack, bakalan puas luar dalam," ujar Renata ngakak.


" Macho, dari wajah pas pasan, wajah macho , wajah oriental, atau wajah indonesia banget, semua ada ,Renata tertawa."


" Ku gak suka Ta, " ujar Meta .


" Alasannya?".


" Bertugas, penuh resiko, godaan besar, liat aja beberapa anggota, selingkuh dengan teman sejawat, selingkuh dengan atasan atau bawahan," ujar Meta.


" Mau di kantor , dimanapun, profesi apapun, pasti bisa terjadi," ujar Desy.


" Jaman mencari pria setia itu susah," ujar Dara.


" Ta, aku ada lihat mantan mu yang meninggal, wajahnya ganteng, kayaknya baik ya Ta."


" Itu keliatan, memang dia baik, namun pernah jatuh ke drugs juga, mabuk, punya teman yang memiliki tingkat resiko penularan negatif, ya begitu," ujar Renata.


" Kisah percintaanmu rumit banget ya Ta".


" Hmmm, pacaran nya sama siaap, nikah nya sama siapa, " ujar Renata.

__ADS_1


" Kalian gak pengen jalan ke Medan?" tanya Renata.


" Pengen sih".


" Aku lusa ke Medan, pengen jiarah, udah lama gak, baru 2kali ,sejak lepergiannya".


" Aku ikut Ta, " ujar Dara.


" Aku jugaaaa, ujar ke tiga teman lainnya."


" Kita berangkat dari mana nih? Bandung apa Jakarta?".


" Dari Bandung aja, nanti mobil ini ,biar supir yang bawa ke Jakarta, "ujar Dara .


" Kamu masih menyimpan kenangan kalian Ta? padahal kamu sudah punya suami lohhhh".


" Kenangan itu tersimpan di memori,tapi buat mikirkan gak lagi, terkadang kalau sedih, mau juga membandingkan, gak di ungkapkan, hanya dalam hati, namanya juga manusia," ujar Renata.


" Dulu aku dan dia satu sekolahan, temenan, saling suka, gitu aja, dia sekolah di luar, mamiku pindah tugas, aku mengenalnya saat pindah sekolah, aku bandel, korban anak broken home itu , seperti aku banyakan, malas belajar, motivasi gak ada. Namun satu guru sekolah itu sangat baik, menyemangati ku sejak SMP , ketika hendak menikah, semua kegagalan itu pasti ada terlintas, aku akan selalu kerja, apapun kedepannya, bisa mandiri, sama seperti mamiku menghidupi aku."


" Hubunganmu dengan papimu gak dekat ya Ta?".


" Ruwet , ku gak suka dengan papiku, sejak bercerai karena perselingkuhan, trauma. "


" Alasan kamu nikah?".


" Entahlah, saat di lamar, aku setuju, ngalir begitu aja sihhh".


" Suamimu pemarah?".


" Gak selalu, kalau aku salah , seperti saat ini, yah pasti marah banget, "


" Menikah repot ya Ta, jagain perasan orang, yang ngertiin kita ,belum tentu ada".


" Hmmmm, susah masuk ke keluarga orang lain, serba salah", ujar Renata.


" Apakah kamu menyesal Ta".


" Gak nyesal, hanya merasa bersalah, profesiku, membuat keluarganya terimbas. "


" Aku pengen balik ke Semarang"


" Yahhh, kita tega kamu tinggalin?" ujar Meta.


" Jujur, aku jarang punya teman cewek, yang klop dan dekat seperti kalian, babyakan punya teman cowok".


" Nyalon , medi pedi, facial, yah bareng kalian aja, gak pernah menikmati ala princess, "ujar Renata tertawa.


" Kamu gak merindukan suamimu Ta?".


" Rindu lah, tapi wajah nya pasti seram, wajah papinya juga, ipar juga, ah pening , sakit kepala".

__ADS_1


" Pinjam handphone boleh?" ujar Renata .


" Sepuluh menit, bayarnya 100 ribu ya Ta," ujar Dara.


" Handphone ku ada 2 pakai aja nih satu, kita singgah aja ke toko handphone ,beli aja deh Ta".


Renata mengangguk .Mereka sampai ke Villa, pemandangan bunga dan sekitarnya begitu indah.


Renata duduk di depan taman, aneka bunga begitu indah , Renata menelepon Bima .


πŸ“žHallo...


πŸ“ž Bim, ini saya, kamu dinkantor?


πŸ“ž Ya , bentar .


Bima pun berjalan keluar dari ruangannya, menuju area belakang kantor.


πŸ“ž Bim, bagaimana Jenderal?


πŸ“ž Ngamuklah non, suruh lacak ponsel non, di lacak , diruma Dara, posisi dari tadi disana. Jenderal tambah ngamuk. Minggat nih ceritanya non?.


πŸ“ž Saya cuti, pening, serba salah,uar Renata sendu.


πŸ“ž Balik aja


πŸ“ž Gak..., pengentenangin diri


πŸ“ž Luka non di obati yang benar, jangan sampai infeksi.


πŸ“ž Hmmmm.


πŸ“ž Saya gak apa - apa, pengen merenung sendiri .


πŸ“ž Baiklah bos .


πŸ“žApa bos ke Semarang? Jenderal sampai suruh Sinta dan anggota lacak bos di rumah kedua orang tua bos.


πŸ“ž Gak.Usah dulu ya Bim.


Renata membayangkan wajah dan tatapan tajam Yudha. Renata memandang di kejahuan.


" Nasib....nasib...., ujar Renata dalam hatinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2