
Lima menit kemudian...
Atmosfer ruang kerjaku berubah seketika kala Hadden masuk ke dalam ruangan. Dan kini dia duduk di depan meja kerjaku bak tamu perusahaan. Aku jadi bingung harus menjawab apa jika dia sampai banyak bertanya mengapa aku bisa di sini.
"Kudengar kau datang ke pestaku waktu itu?" Dia meneguk kopi yang disuguhkan oleh office boy kantor.
"Hm, ya," jawabku singkat.
"Ketahuan Jackson?" Dia bertanya lagi sambil menatapku. Tersirat jika dirinya mulai mencurigaiku.
Bukan Cecilia namanya jika tidak bisa bersandiwara. Apalagi di situasi yang bisa dibilang terdesak seperti ini. Lantas sebisa mungkin aku menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Aku tetap menjadi Cecilia yang Hadden kenal. Aku harus berjaga-jaga dengan memainkan sandiwaraku, seolah-olah akulah yang menjadi korban.
"Selalu, Tuan. Aku seperti tidak bisa bergerak di hadapannya." Aku bersandiwara.
Masih teringat jelas pesan dari Jackson, jauh sebelum hari ini. Dia bilang jadikan saja dirinya sebagai bantalan agar aku selamat dari berbagai macam pertanyaan, mengenai kepemilikan saham di Angkasa Grup. Dan kini saatnya aku melakukan hal itu. Karena yang kuhadapi bukanlah orang sembarangan. Selain dia adalah paman dari istri Jackson sendiri, Hadden juga seorang pengusaha besar. Pastinya jika jujur malah akan berdampak buruk ke depannya.
"Kabar memang cepat sekali tersebar, Cecilia. Aku tanya Clara di mana keberadaanmu, dia bilang kau ada di sini. Namun ternyata, sampai di sini kau sudah mempunyai ruangan sendiri." Hadden seperti sedang menyelidikiku.
Clara jujur sekali kepada Hadden. Apa dia bekerja untuk Hadden?
Sontak hatiku bertanya-tanya mengenai posisi Clara saat ini. Aku jadi bingung dia berada di pihak mana. Memihak Jackson kah atau Hadden? Wanita yang satu itu membuatku ingin tahu dengan siapa dia bekerja.
"Aku dipaksa tuan Jackson untuk berada di sini, Tuan. Tidak hanya aku, melainkan juga Aurel. Tuan Jackson mengutus kami untuk mengawasi proses percepatan akuisisi." Aku menjelaskan padanya.
Kulihat Hadden mengangguk, seperti mengerti keadaanku. "Tapi yang kudengar di luar prasangka, Cecilia." Dia mulai menyudutkanku.
"Maksud Anda?" tanyaku sambil mengerutkan dahi, curiga dengan pertanyaannya.
__ADS_1
Hadden beranjak berdiri. Dia menuju jendela ruanganku lalu membuka sedikit tirainya. Sehingga sinar matahari bisa masuk lewat celah-celah kecil tirai jendelaku.
"Kau memegang 2,3% saham Angkasa Grup. Darimana kau mempunyai uang sebesar itu? Apa kau sedang menyamar?" tanyanya yang membuat laju jantungku berdegup kencang seketika.
Aku berpikir cepat untuk menjawab pertanyaannya. Aku tidak boleh terjebak dengan kata-katanya. Hadden sedang menyelidikiku dan aku harus terus berhati-hati. Karena kalau tidak, rencana Jackson bisa ketahuan olehnya.
"Itu uang pembayaranku kepada tuan Jackson, Tuan," jawabku, berusaha tenang.
"Pembayaran?" Hadden menoleh ke arahku.
"Ya, benar. Tuan Jackson bukanlah pria bodoh yang mudah dibohongi. Semua hal yang kulakukan ketahuan olehnya. Dia memergokiku saat bertransaksi dengan nyonya Zea. Sehingga karena hal itulah dia memintaku untuk bertanggung jawab atas perbuatanku waktu itu." Aku beralibi, mengkambinghitamkan Jackson.
"Jadi maksudmu itu uangmu sendiri?" Dia bertanya lagi seraya berjalan mendekat ke arahku.
"Bukan," jawabku lugas. "Aku meminjamnya kepada tuan Jackson dengan jaminan tubuhku," kataku menerangkan.
"Hm, baiklah. Aku mengerti. Tak kusangka jika Jackson akan berbuat seperti itu kepadamu." Kurasa Hadden mulai mengerti posisiku. "Cecilia."
"Ya, Tuan?"
"Andai kita bertemu lebih dulu, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi padamu."
Hadden seperti ingin menjadi pahlawan untukku. Dia membungkukkan sedikit badannya untuk melihat lebih jelas wajahku ini. Saat itu juga ingin sekali aku menendangnya. Aku tidak ingin didekati oleh siapapun, kecuali Jackson. Tubuhku ini menolak untuk didekati pria lain selain dirinya.
"Terima kasih, Tuan." Aku tersenyum tipis kepadanya.
Hadden berdiri tegak kembali. "Sudah waktunya makan siang. Bagaimana jika kita makan siang bersama, Cecilia?" tanyanya seraya duduk kembali di depanku.
__ADS_1
Saat Hadden menjauh, saat itu juga tercium aroma peppermint dari tubuhnya. Membuatku mual sekali, bahkan sampai ingin muntah. Tidak tahu kenapa aku sangat tidak menyukai aroma peppermint. Aku pun lekas-lekas menaikkan suhu AC ruangan agar aromanya tidak terlalu tercium hidungku.
"Em, aku tidak bisa keluar, Tuan Hadden. Aku khawatir jika Jackson melihatnya dan hal itu akan menambah masalah baru bagiku. Utangku sudah sangat banyak dan aku tidak mempunyai jaminan lain selain tubuhku ini. Jadi maaf, aku tidak bisa makan siang bersamamu." Aku tersenyum setelah menolak ajakan makannya secara halus.
Hadden terdiam melihatku. Mungkin dia sedang berpikir betapa kejam Jackson mengunciku hingga tidak boleh makan siang bersama orang lain. Entah apa yang ada di pikirannya, aku harap dia cepat pergi dari sini. Aku tidak ingin menambah masalah lagi.
"Sayang sekali." Dia terlihat kecewa seraya menggabungkan jari-jemarinya. "Aku sudah jauh-jauh ke sini hanya untuk menyempatkan diri bertemu denganmu, Cecilia. Tapi rupanya beban berat sedang kau pikul." Hadden terlihat berempati padaku.
"Hahaha." Aku pura-pura tertawa saja di hadapannya.
"Jika keadaan mendesak, kau bisa menghubungiku. Aku akan menunggu kabar darimu." Dia beranjak berdiri.
"Terima kasih, Tuan." Aku tersenyum kepadanya.
Kulihat Hadden merapikan jasnya lalu melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Dia menyudahi pembicaraan kali ini. Aku pun segera mengantarkannya sampai ke depan pintu ruangan.
Tersirat kekecewaan dari wajah pria berusia empat puluh tujuh tahun itu. Ajakan makan siangnya kutolak dengan sedikit permainan kata-kata. Aku harap dia bisa mengerti di mana posisiku sekarang berada. Dan aku berharap peperangan ini bisa segera berakhir. Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan karena sandiwaraku sendiri.
Ya Tuhan, untung saja.
Kalau dipikir-pikir, ada hal yang mengganjal dari kedatangan Hadden ke sini. Mengapa dia bisa sampai tahu jika aku memegang saham di Angkasa Grup? Pastinya Oliver sendiri yang menceritakannya. Siapa lagi? Itu berarti masih ada hama yang harus segera dibersihkan. Karena kalau tidak, rencana Jackson untuk memenangkan persaingan bisnis bisa terhalang.
Cecilia, tetaplah bersama Jackson apapun yang terjadi. Karena pria lain belum tentu setulus hatinya.
Kusadari jika saat ini hanya Jackson yang bisa kupercaya. Pria berwajah muram itu juga akan menjadi ayah dari anak yang kukandung. Terlebih dia telah menunjukkan itikad baiknya, mempertanggungjawabkan segala perbuatannya kepadaku. Sehingga tidak ada hal lain yang perlu kuragukan.
Saat ini tugasku hanya harus menuruti semua perintahnya. Karena hal itu juga demi kebaikanku. Dan aku amat memercayainya. Aku percaya Jacksonku.
__ADS_1