
Dia masih menatap pematik api di tanganku sambil duduk di tempat yang Hadden duduki tadi. Udara di sekitar pun masih meninggalkan aroma parfum Hadden. Sehingga mungkin karena hal itulah dia menatap sinis ke arahku. Entah kesal, entah mual. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati dan pikirannya saat ini. Namun, satu hal yang kusadari dari tatapannya memandangku. Dia menahan cemburu.
Matanya seolah bicara, mengatakan jika dia tidak menyukaiku dekat-dekat dengan Hadden. Aku seperti diminta menjaga sikap di hadapan pria lain. Tidak seperti sekarang yang mengenakan dres tanpa lengan ini, yang pasti tadi Hadden melihatnya. Dan kurasakan aura kekesalan muncul dari wajahnya.
"Tuan ingin meminum teh?" tanyaku, saat dia membuka sebungkus rokok baru. Tapi, dia diam saja.
"Tuan, mau cemilan malam?" tanyaku lagi, tapi dia tetap diam saja.
Entah benar atau tidak perasaanku, dia cemburu dengan kedatangan Hadden ke apartemenku. Dia diam saja seolah benar-benar membisu. Atau memang dia ingin kurayu? Entahlah. Kadang aku khawatir salah menilai lagi terhadap sikapnya.
"Tuan, kenapa?" Aku mulai manja padanya, duduk di sampingnya.
Dia masih diam juga, tidak menjawab pertanyaanku. Rasanya kesal sekali. Jika bukan karena sudah kepergok olehnya, pastinya aku akan bersandiwara lagi di hadapannya.
Baiklah. Aku menyerah.
Kusadari jika Hadden berniat menghancurkan penantian panjangku. Padahal sikap Jackson padaku hanya tinggal selangkah lagi. Lain kali aku harus lebih berhati-hati berhadapan dengan pria seperti itu.
Kulangkahkan kaki ke meja dapur, membuatkan teh hangat untuknya. Dan membawakan beberapa cemilan berbahan dasar cokelat. Katanya sih cokelat bisa mengembalikan suasana hati yang sedang tidak baik. Ya sudah, kucoba saja.
"Silakan, Tuan."
Aku meletakkannya ke atas meja lalu duduk di sampingnya. Aku menghidupkan televisi agar apartemen terasa ramai malam ini. Kulihat dia masih diam sambil sesekali melirik ke arahku. Aku pun ikut diam daripada terus bertanya tanpa ada jawaban.
Satu, dua, tiga batang rokok telah dia habiskan tanpa berkata sedikitpun. Membuatku kehilangan akal untuk menghadapinya. Sampai tidak terasa waktu semakin malam saja.
"Mau nginap malam ini?" tanyaku di sisa-sisa kesabaranku menghadapinya.
Dia masih diam lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju pintu. Seketika aku kesal sekali karena masih juga diabaikannya. Aku pun ikut berdiri lalu menahan kepergiannya.
"Nginaplah. Udah malam gini kamu mau nyetir sendiri?" tanyaku perhatian, walau hati amat kesal karena diabaikan.
Jarak kami hanya sekitar dua meter saja. Dan aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Tapi, aku masih menunggunya.
Dia menoleh ke arahku. Kulihat raut wajahnya semakin kesal karena perhatianku. Aku jadi bingung seribu bingung.
"Tuan." Aku mendekatinya, namun tiba-tiba...
__ADS_1
Di-dia memelukku?!!
Tubuhku terhuyung ke arahnya. Dia menarikku ke dalam pelukannya. Tulang panggulnya pun terasa panas saat menempel di pinggul ini.
"Tu-tuan?!" Aku tak percaya dia melakukan hal ini padaku.
"Berapa banyak pria yang lu suruh nginap? Gampang banget ya ngomongnya, kata mana yang nggak bohong?" Dia seperti amat kesal padaku.
Entah mengapa aku merasa dia amat berbeda malam ini. Atau hanya perasaanku saja? Aku takut salah menilai lagi terhadap sikapnya. Kadang aku tidak bisa membedakan antara benar atau bersandiwara.
"Tuan?!"
"Cecilia, hebat ya lu."
Dia kesal, benar-benar kesal. Dia menjatuhkanku ke lantai, ke atas karpet berbulu tebal yang ada di ruang tamu ini. Sungguh aku terkejut dengan sikap agresifnya. Aku tak percaya dia akan melakukannya padaku.
Kini kami saling bertatapan kedua mata dengan tubuhku yang berada di bawahnya. Dia seperti melahap semua cahaya ke arahku. Aku jadi hanya bisa melihatnya saja. Ini pertama kalinya aku bisa merasakan jika hanya ada dirinya di bumi ini, tidak ada yang lain.
Dia ....
Dia masih saja menyindirku dengan kata-kata pedasnya. Kata-kata yang kurindukan seharian ini karena belum terdengar di telinga. Sepertinya dia sedang mengutarakan isi hatinya padaku. Ya, walaupun dengan kata yang berlawanan. Tapi tetap saja aku menyukainya. Dia benar-benar seksi dengan sikap dinginnya itu.
Lantas saja aku menariknya, berguling dan bergantian berada di atas tubuhnya. Kedua tanganku menopang tubuh ini. Dia pun bisa melihat dengan jelas wajahku.
Dia terdiam seketika dari kata-kata sindirannya saat rambutku tergerai jatuh mengenai sisi wajahnya. Aku pun tersenyum melihatnya. Dengan segera kudekatkan wajah ini ke wajahnya, lalu mencium lembut bibirnya, berulang kali. Kurasakan hangat napasnya seperti membakar tubuhku. Dan dia diam saja tanpa melawan sedikitpun.
"Bibir tuan Jackson lembut, ya?" Kulepas bibir ini dari bibirnya seraya tersenyum.
"Keras," katanya, yang lagi-lagi membuatku merasa tertantang untuk menaklukkannya.
Aku tersenyum lalu mendekatkan kembali wajahku ke wajahnya. Tapi kali ini aku menggigit telinganya. Menggigit-gigit kecil telinganya sehingga aku bisa merasakan otot di sekujur tubuhnya menegang, seperti kobaran api di dalam hutan lebat.
"Kamu udah salah sangka sama aku. Hadden ke sini untuk mengantarkan anting-antingku."
Kuambil ponsel dari atas meja lalu memperlihatkan rekaman CCTV padanya. Seketika dia terdiam. Sepertinya dia sudah mulai merasa tenang.
"Karena kamu udah nuduhku yang enggak-enggak, hukumannya satu ciuman," kataku lagi.
__ADS_1
Dia masih diam seraya memperhatikanku. Aku pun tidak ingin melewatkan momen ini begitu saja. Segera kucium lagi bibirnya, kuhisap lalu kuajak beradu. Tapi yang namanya Jackson, tetap diam saja. Selama tiga puluh detik dia tidak bergerak sama sekali, tidak juga menghindar, melainkan membiarkan aku melakukannya. Aku pun terus mencium bibirnya, menekan-nekannya lalu menghisapnya kembali.
"Tuan Jackson, ke depannya aku hanya akan berbohong padamu, dan juga hanya akan dibohongi olehmu." Aku bangun dari atas tubuhnya.
Entah apa yang kulakukan tadi, aku merasa seperti tergerak begitu saja. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan yang amat jarang terjadi. Dimana Jackson sendiri yang memulainya.
"Aku ambil jaket dulu."
Kulihat dia bangun seraya melihat ke mana arahku pergi. Aku pun segera mengambil jaket untuk menutupi bagian atas tubuhku ini. Setelahnya aku mengantarkannya ke lift. Lalu...
"Aku hanya milikmu, Tuan Jackson." Kucium lagi leher sampingnya sebelum dia masuk ke dalam lift.
Pintu lift terbuka. Aku membiarkannya masuk lalu melambaikan tangan ke arahnya seraya memberikan kecupan dari jauh. Kulihat dia tersenyum simpul di hadapanku. Lalu tak lama pintu lift pun tertutup. Dengan segera aku kembali ke apartemenku.
Sesampainya di apartemen, aku duduk di sofa. Menghisap rokok yang ditinggalkannya tadi. Kunikmati rokok yang ditinggalkannya ini, dan kusadari jika dia tidak lama lagi akan jatuh ke pelukanku.
"Kau memang siluman penggoda, Cecilia." Aku mengatai diriku sendiri.
Keesokan harinya...
Hari ini aku diminta oleh Jackson untuk langsung ke kantornya. Tapi dia tidak memintaku secara langsung, melainkan menyuruh salah satu rekan kerjaku. Aku pun hanya tersenyum sendiri mendengarnya. Ternyata dia mulai malu-malu padaku.
Saat melangkah masuk, aku melewati banyak karyawan dan semua mata tertuju padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, hingga akhirnya Clara memberikan secarik kertas untukku. Segera saja kubaca apa isinya.
Apa?!!! Jadi ini alasannya semua orang memperhatikanku?!!!
Aku kesal setengah mati saat membaca secarik kertas ini. Aku tahu benar tulisan siapa. Tapi sepertinya semua orang di perusahaan sudah membacanya.
Kusobek kertas yang kuterima lalu kutatap ke sekeliling. Pandangan mata yang masih tertuju ke arahku pun kuabaikan. Aku terus melangkahkan kaki ke kantor Jackson. Namun...
"Hei, siapa yang akan ditaklukkannya kali ini?" Aku mendengar selentingan orang berbicara tentangku.
"Mungkin Departemen HRD atau IT," jawab yang lain.
"Tidak-tidak. Mungkin saja General Manager sendiri." Yang lain ikut menimpali.
Sungguh aku kesal bukan main mendengarnya. Rasanya ingin kulempar saja mereka. Lantas aku mendekat ke arah mereka yang sedang membicarakanku.
__ADS_1
"Kalian bertaruh siapa yang akan aku taklukkan?" Aku bertanya, mereka pun diam. "Jackson Baldev," kataku lalu berjalan meninggalkan penggosip di gedung ini.
Tidak ada satupun yang berani bertaruh Jackson Baldev. Tapi saat aku mengatakannya, mereka semua terbelalak kaget, tidak percaya. Ya, wajar saja mereka seperti itu. Karena mereka belum tahu saja siapa diriku.