Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Berlaku Cuek


__ADS_3

Esok harinya...


Hari ini aku berangkat tidak terlalu pagi. Taksiran akan sampai kantor sebelum jam masuk tiba. Dan kini aku sedang berdandan seminimalis mungkin, tapi tetap terkesan ceria dan natural. Hari ini kubiarkan rambutku tergerai begitu saja karena masih basah juga.


Kukenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan bawahan celana dasar biru yang hampir menutupi mata kaki. Tak lupa sepatu pantofel setinggi tiga senti akan menemani langkah kakiku hari ini. Aroma parfum cokelat pekat juga kusemprotkan ke sekujur tubuh agar orang-orang di sekitarku mabuk menciumnya. Aku sengaja menyemprotkan banyak parfum agar tidak ada yang mendekatiku lama-lama hari ini. Keadaan hatiku sedang tidak baik sejak semalam. Maklum perempuan, apa-apa memakai perasaan.


Setelah semua siap, aku berjalan keluar apartemen lalu segera menuju lantai satu dengan menggunakan lift. Sesampainya di lantai satu, kuterima setangkai bunga mawar merah tanpa nama pengirimnya untukku. Resepsionis gedung apartemen ini yang langsung menyerahkannya padaku. Dan aku hanya mengucapkan terima kasih padanya.


Aku tidak ingin mengira-ngira siapa yang mengirimkan bunga ini untukku. Aku berusaha tidak peduli dan tidak tertarik dengan hal-hal roman semacam ini. Aku bersikap biasa saja, seperti Cecilia yang tidak peduli. Cukup hanya aku dan Tuhan saja yang mengetahui isi hatiku sesungguhnya.


Baiklah, Cecilia. Mulailah hari ini dengan senyuman seperti tidak terjadi apa-apa.


Sesampainya di dalam mobil, kubuka semua kaca jendela lalu menghidupkan AC agar udara dapat bersirkulasi dengan baik. Sambil menunggu aku melihat-lihat isi ponselku. Dan ternyata, aku kepikiran tentang bagaimana cara Jackson mendapatkan rekaman suara itu sedang Angela tidak ada di restoran. Atau jangan-jangan ada orang lain yang memberikan rekaman itu? Aku jadi penasaran sendiri.


Segera kukirim pesan kepada Angela, menanyakan malam tahun baru dia akan ke mana. Setelahnya segera kututup semua kaca mobil lalu melaju ke kantor. Aku harus tetap bekerja untuk melanjutkan hidup ini.


Satu jam kemudian...


Perjalanan lama harus kurasakan karena macet di jalan. Untung saja saat tiba di kantor masih tersisa waktu satu menit untuk absen. Dan aku segera absen, kemudian melangkahkan kaki menuju meja kerjaku. Kulihat kantor sudah ramai sekali.


"Cecilia." Clara datang menemuiku saat baru tiba di depan meja kerja.


"Clara?" Aku pun menyapanya.


Kulihat wanita berseragam kantoran berwarna kuning ini membawakan dokumen untuk kuantar masuk ke ruangan Jackson. Tapi karena suasana hatiku sedang tidak baik, aku meminta dia sendiri saja yang langsung mengantarkannya.


"Aku sedang tidak enak badan, Clara. Kau sendiri saja yang mengantarnya masuk, ya." Aku beralasan padanya.


"Kau baik-baik saja, Cecilia?"


Clara seperti perhatian padaku. Entah sebatas berbasa-basi atau sungguhan. Aku tidak tahu karena tidak bisa membaca isi hatinya.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin masuk angin." Aku tersenyum terpaksa lalu segera duduk di kursi kerjaku.


Clara mengangguk. Dia kemudian mengantarkan dokumen itu sendiri ke dalam ruangan Jackson dengan mengetuk pintunya terlebih dulu. Sedang aku bersih-bersih area kerjaku. Office boy hanya sekedar menyapu dan mengepel lantainya. Dan juga membuang sampah. Tidak sampai membersihkan meja kerja sehingga aku harus membersihkannya sendiri.


Tak lama, Clara keluar dari ruangan lalu segera mendekatiku. "Cecilia, tuan Jackson memanggilmu," katanya memberi tahuku.


"Memanggilku? Ada apa?" tanyaku padanya.


"Tidak tahu. Mungkin ada yang ingin dia tanyakan padamu. Cepat masuk sebelum tuan marah." Clara seperti menakutiku.


Clara segera pergi seusai mengabarkan jika Jackson memanggilku. Lantas dengan malas aku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangannya. Dan kulihat dia sedang membaca dokumen di depan meja kerjanya.


"Tuan." Kuketuk pintu dua kali lalu melangkah masuk ke dalam.


"Kunci pintunya, Cecilia," katanya dingin.


Kunci? Kenapa pintu harus dikunci?


Aku jadi bingung saat dia memintaku untuk mengunci pintu. Tapi karena atmosfer sekitar terasa kelam karena wajah dinginnya, akhirnya aku menurut saja padanya. Kukunci pintu lalu beranjak mendekatinya.


Dia kemudian mengangkat kepalanya, melihat ke arahku. Dia melihat penampilanku hari ini yang tertutup. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tidak peduli. Sebisa mungkin aku bersikap cuek padanya.


Jackson lantas berdiri. Dia menuju ke arah pintu, melewatiku yang masih terdiam di depan meja kerjanya.


Dia mau ngapain, sih? Aku sudah di dalam dia malah ke pintu.


Tak tahu apa yang dia inginkan, Jackson kemudian memanggilku. "Belum terkunci semua, Cecilia." Dia memberi tahuku jika pintu belum terkunci semua.


Aku pun menoleh ke belakang, melihatnya mengunci pintu. Kulihat dia tidak hanya mengunci pintu tapi juga mematikan kamera CCTV yang ada di ruangannya. Entah apa yang akan dia lakukan.


"Lain kali kunci yang benar," katanya lalu berjalan mendekatiku.

__ADS_1


Aku tidak mengerti apa maksudnya. Jadi aku diam saja, memasang wajah acuh tak acuh padanya. Tapi saat itu juga dia mengagetkanku, menyandarkan tubuhku ke dinding ruangan.


"Tu-tuan?!"


Gerakannya sangat cepat sekali. Aku sampai tidak punya persiapan untuk bertahan. Hingga akhirnya dia menarik pinggulku, mendekatkan tubuhku ke tubuhnya seraya memegang satu tanganku.


"Tuan, apa yang Anda laku—"


Belum sempat meneruskan kata-kata, Jackson menciumku sambil memegang erat pinggul ini. Dia menciumku dengan ciuman yang mengagetkan. Aku tidak punya persiapan sama sekali.


Tuan, mengapa harus seperti ini? Aku kaget, tahu!


Dia lantas melepaskan ciumannya. "Kau cemburu?" tanyanya yang membuatku kelabakan.


Aku diam, tidak menjawab pertanyaannya. Tapi kedua mata kami yang saling bertatapan seolah sedang berbicara satu sama lain dan mengatakan hal yang sesungguhnya.


Kubiarkan Jackson menatapku sesuka hati karena kutahu tidak bisa lari. Tak berapa lama dia menciumku kembali. Namun, ciuman kali ini lebih lembut dari ciuman yang tadi. Dia menekan-nekan bibirku dengan lembut dan menyapu seluruh permukaan bibirku dengan bibirnya. Dia juga menggigit kecil bibirku ini, seperti mencurahkan rasa kesalnya padaku.


"Kau tidak mau jujur pada dirimu, Cecilia. Apa kau sedang bersandiwara di depanku?" tanyanya dengan jarak yang amat dekat sekali. Bahkan hangat napasnya sampai terasa menerpa bibir ini.


"Tuan, aku tidak bisa berbuat apa-apa di depanmu. Kau selalu menang. Aku bukanlah tandinganmu." Aku menyerah kepadanya.


Dia kemudian melepaskanku lalu berjalan menuju meja kerjanya. "Siang ini temani aku menemui Oliver. Aku akan membahas proyek akuisisi Angkasa Grup." Jackson menyerahkan dokumen padaku.


"Apakah Anda sudah memutuskan langkah selanjutnya?" Aku bertanya seolah-olah tidak terjadi apapun pada kami tadi.


"Kita lihat saja nanti, Baby." Dia menyebutku dengan kata Baby.


Seketika itu juga aku kesal. Dia seperti menarik-ulur hatiku. Segera kuambil dokumen darinya lalu bergegas keluar dari ruangan. Aku berlagak cuek di hadapannya. Namun, saat membuka pintu, dia memanggilku kembali.


"Cecilia, berapa anak yang bisa kau lahirkan lewat pinggul indahmu?" tanyanya yang membuat hatiku semakin kesal.

__ADS_1


Aku tidak menghiraukan pertanyaannya. Lekas-lekas keluar dari ruangan setelah berhasil membuka pintu. Aku tidak peduli dia mau mengejek atau menggodaku. Yang jelas aku kesal padanya. Pagi-pagi sudah menciumku dua kali dan menanyakan hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan.


Sungguh jika bukan bosku, mungkin sudah kuacak-acak dirinya. Namun sialnya, aku terlanjur menyukainya. Menyukai bosku sendiri yang sudah beristri. Aku memang tidak tahu diri.


__ADS_2