Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Gairah Percintaan Dewasa


__ADS_3

Lingerie ini adalah lingerie berenda yang bagian tengahnya terbelah, sehingga bisa tersingkap dengan mudah. Bagian dadanya juga memperlihatkan hampir setengah dari bukit ranumku, sehingga amat menggairahkan dan menggoda pandangan. Jadi wajar saja jika Jackson terbelalak melihatnya. Apalagi baru pertama kali aku mengenakan di depannya.


"Tuan, geli."


Jackson naik ke atas kasur sambil menyusuri tubuhku dengan bibirnya. Kedua tangannya menopang, sedang bibirnya mulai berselancar, mencium, menghirup setiap inchi dari permukaan bahu dan punggung ini. Rasanya begitu geli apalagi saat terkena kumis tipisnya itu.


"Cecilia, kau sengaja memakai lingerie ini, bukan?" tanyanya, berbisik di telingaku.


Aku semakin geli saat napasnya mengenai telingaku. Wajahnya pun amat dekat dengan wajahku. Aliran listrik itu seperti tersambung ke seluruh saraf tubuh ini. Keterikatan hormon begitu kuat hingga membuat napasku terasa berat. Aku menginginkan dirinya.


"Memangnya kenapa?" Aku menoleh, melihatnya.


Dia tersenyum lalu menyampirkan rambutku ini. "Kita mulai saja, Baby." Jackson menciumi tengkuk leherku dengan perlahan.


"Ahhh, Tuan ... jangan." Aku mencoba menolaknya, ingin menguji sejauh mana dia mampu bertahan.


"Sudah terlambat, Cecilia. Tidak sempat lagi." Dia kemudian menyusuri setiap inchi dari tubuhku dengan bibirnya.


"Tuan ... mmmhh!"


Jackson menyusuri tubuhku dari belakang. Dia menciumi sekujur bahuku, pundakku hingga punggungku. Dia mengecup-ngecup tengkuk leher ini yang membuat tubuhku menggeliat ke arahnya. Seketika itu juga Jackson mencium bibirku. Dia menciumku dari atas kepala sambil menurunkan perlahan tali lingerie ini. Usapannya amat lembut hingga membuat seluruh saraf sensorik di tubuhku bereaksi.


Jackson benar-benar pintar membuatku melayang.


Tubuhku terasa bergetar saat menikmati sentuhan darinya. Aku pun membiarkannya berbuat sesuka hati. Kunikmati setiap detik sentuhannya sambil memejamkan kedua mata ini. Jackson harus bertanggung jawab penuh atas ulahnya padaku.


"Aku ingin menghisapmu, Cecilia. Mmmh..."


Jackson menyusuri punggungku dengan bibirnya, merayap-rayap hingga sampai ke pinggulku. Dia lalu mengecup kedua paha dalamku secara bergantian. Saat itu juga tubuhku merinding tak karuan. Lantas kusampirkan rambutku ini untuk melihat apa yang dilakukannya di bawah sana. Ternyata dia membelai sesuatu yang tertutupi celana itu.


"Tuan ... mmmh ...."


Aku menggigit bibirku sendiri saat merasakan kecupan yang diselingi sentuhan jarinya. Aku seperti tidak dapat mengendalikan diri. Lantas aku berbalik, menghadap ke langit-langit kamar. Saat itu juga Jackson naik ke atas tubuhku.

__ADS_1


"Cecilia ...." Dia tersenyum penuh arti, menatap kedua mata ini.


"Tuan, apa karena anting yang Anda berikan sehingga meminta imbalan dariku?" tanyaku, manja padanya.


Jackson berada di atas tubuhku. Dada bidangnya seolah menggodaku agar segera menghimpitnya dengan dadaku ini. Kulihat dia tertawa manis hingga memperlihatkan gigi-gigi kecilnya padaku.


"Anting itu sudah kupersiapkan, Baby. Tapi belum sempat memberikannya," katanya, lalu mengecup bukit ranum ini dengan satu kecupan yang menggairahkan.


Jackson, kau nakal!


Dia mengecup dadaku dengan memberikan penekanan yang seolah meminta perlawanan. Jujur saja aku sudah melayang di bawah kendalinya, tapi masih sekuat mungkin untuk menahan hasratnya agar tidak terburu-buru.


"Benar, kah?" tanyaku lagi, seolah tak percaya.


Jackson menggigit bibirku. "Baby, apa kau ingin terus menundanya?" Dia seperti tidak dapat menahannya lagi.


Aku terdiam seraya menatap kedua bola matanya. Saat itu juga Jackson langsung mengarahkan bibirnya ke leherku.


"Tuan ... ahh!"


"Tuan, enghhh ...."


Dia terus saja menyerangku, tidak peduli lagi dengan hari yang masih siang. Aku pun hanya bisa menggigit bibir ini. Jackson kembali memilikiku.


Menjelang petang...


Lama sudah kami bermain, tapi Jackson seolah tidak pernah kehabisan tenaga. Dia terus saja bekerja sampai peluh keringat membasahi tubuhnya. Hingga akhirnya dia berada di sisa-sisa kekuatannya.


Kedua tangan Jackson masih memegang pinggulku. Dadanya naik-turun dengan peluh keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dia mencoba mengatur ulang napas yang berpacu cepat. Perlahan-lahan tangannya memeluk erat tubuhku, sehingga dadaku ini menjadi bantalnya. Kubelai rambutnya dengan lembut, kucurahkan perasaanku. Jackson membuka kedua matanya perlahan, dia menatapku.


"Cecilia ...." Pandangan matanya begitu sayu.


"Tuan ...."

__ADS_1


"Aku lemas." Dia memelukku begitu erat, seolah tidak mau lepas.


"Kau sih keterlaluan. Tiga ronde tanpa jeda." Aku mencubit hidungnya.


"Baby, semua ini karenamu." Dia malah menyalahkanku.


Aku tersenyum kepadanya. "Sudah sana mandi." Aku beranjak bangun darinya.


"Baby, nanti dulu." Dia menahanku.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Biarkan bertemu, aku ingin melihat hasilnya." Dia seperti ingin kerja kerasnya membuahkan hasil dengan cepat.


"Tuan?" Aku menatapnya tak percaya.


Dia tersenyum lalu mengajak ku berciuman. Aku pun membalasnya dengan penuh gairah. Jackson sepertinya amat menginginkan anak dariku.


Beberapa detik bercumbu, dia kemudian melepaskan ciumannya. "Ingin mandi bersama?" tanyanya seraya melihatku.


Napasnya kini mulai berangsur normal. Tapi dia terus saja memelukku, seolah tidak ingin lepas. Jackson seakan telah kecanduan diriku.


"Masih ingin?" Aku mencolek ujung hidungnya.


Jackson tersenyum, dia beranjak bangun lalu menggendongku ke kamar mandi. Hari ini tidak ada satupun yang menganggu kami. Memadu kasih tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti.


.........


...Jackson...



...Cecilia...

__ADS_1



__ADS_2