Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Canda Jadi Candu


__ADS_3

Pukul sembilan malam waktu ibu kota dan sekitarnya...


Alexander memintaku untuk beristirahat, dan kini dia sedang menyelimutiku. Tapi entah mengapa aku tidak ingin ditinggalkan olehnya. Aku ingin dia berada di sini.


"Tuan, jangan pulang." Lantas kupegang jemari tangannya agar dia tidak pergi. Aku membutuhkannya malam ini.


"Cecilia?" Dia pun terlihat bingung saat aku menahannya pergi.


"Tuan, bisakah temani aku? Aku takut sendirian di sini." Aku berharap dia mau menemaniku malam ini.


Pria bersweter hitam itu bertambah bingung. "Kau yakin, Cecilia?" Dia bertanya kembali.


Aku mengangguk.


Kutahu jika Alexander terkejut dengan perubahan sikapku. Aku secara terang-terangan membuka lebar-lebar pintu hatiku. Mungkin dia juga curiga jika hubunganku dengan Jackson telah berakhir. Pastinya dia berpikir mengapa aku bisa sampai seperti ini jika bukan karena sudah putus dengan Jackson.


Aku dan Jackson memang menjalin hubungan tanpa ada kata aku sayang kamu, maukah menjadi pacarku? Kami berhubungan secara dewasa tanpa mengumbar kata sayang atau cinta. Terus saja menjalani asmara walau tanpa status resmi darinya. Namun akhirnya, malah kandas seperti ini. Jika sudah begini aku juga yang rugi.


Nasi sudah menjadi bubur. Mau diratapi tak mungkin, mau disesali juga tak berguna. Waktu, tenaga, pikiran, perasaan yang sudah terkuras tidak akan bisa kembali. Dan kini hanya luka yang tersisa. Selain itu tidak ada.


"Baiklah. Akan aku temani. Nanti aku tidur di sofa saja." Dia sepertinya khawatir jika kami tidur di kasur yang sama.


Apartemenku ini memang kamarnya cuma satu. Kasurnya juga hanya satu, namun ukurannya besar. Sebenarnya cukup untuk dua orang dengan bantal guling sebagai pemisahnya. Tapi mungkin Alexander khawatir jika kami tidur di kasur yang sama. Jadinya dia menghindar.


"Tuan, temani aku sampai tidur." Aku menggeser tubuhku agar dia tidur di sampingku.


"Cecilia?!"


Kulihat dia terkejut. Sepertinya amat bingung dengan sikapku. Mungkin dia juga risih dengan permintaanku ini. Sedang aku menahan tawa karena melihat ekspresi wajahnya yang lucu. Seolah-olah baru kali ini saja dekat dengan wanita.


"Hanya temani sampai tidur. Tidak tidur bersama," kataku sambil menepuk-nepuk sisi kasur di sampingku.


Alexander menarik napas dalam. Mungkin dia masih perjaka sehingga amat takut untuk merebahkan diri di sisiku. Padahal aku tidak akan berbuat apa-apa. Tapi jika benar dia masih ori, sungguh beruntung wanita yang bisa mendapatkannya. Pastinya Alexander akan amat menyayangi wanita itu karena telah berhasil mendapatkan hati dan raganya. Keterikatan akan rasa ketergantungan bisa didapatkan oleh mereka. Dan hal itu akan menjadi alasan yang kuat untuk saling setia.


Alexander menelan ludahnya. "Baiklah." Dia akhirnya menurutiku.


Pria bersweter hitam itu lalu merebahkan diri di sampingku. Aku pun mulai mendekatkan diri ini kepadanya. Saat itu juga kedua matanya terbelalak melihat sikapku. Tapi aku tidak peduli, aku santai saja. Aku ingin tahu juga bagaimana reaksinya. Ya, hitung-hitung uji coba.


Dia tegang sekali. Seperti mau diinterogasi polisi.

__ADS_1


Kurebahkan kepalaku di dada bidangnya. Saat itu juga kudengar alunan detak jantungnya yang begitu cepat. Mungkin sebenarnya dia menginginkan hal seperti ini, tapi mencoba menutupinya karena tidak enak padaku. Ya, maklum. Biasanya perjaka memang seperti itu, masih malu-malu kucing.


Dia lucu sekali. Begini ya ternyata saat berdekatan dengannya.


Aku ingin tertawa saat merasakan tubuhnya yang seakan kaku di sisiku. Tapi aku mencoba bersikap relaks agar dia juga ikut relaks. Lalu aku pun meminta sesuatu kepadanya.


"Tuan, dongengkan aku." Aku mulai memejamkan mata di sisinya.


"Dongeng?" tanyanya seraya melihatku.


"He-em. Ada tidak cerita tentang dua pangeran yang mencintai satu orang putri?" tanyaku seraya melihatnya.


Jarak kami begitu dekat sekali. Jika dia ingin menciumku saat ini, pastilah dia akan mendapatkannya. Tapi, Alexander tidak melakukan hal itu padaku. Dia menatapku seraya memerhatikan kedua bola mata ini. Mungkin dia sedang mencoba terbiasa dengan sikap manjaku.


Dia tersenyum. "Kau menyukai cerita seperti itu?" tanyanya seraya memperhatikan wajahku.


"He-em." Aku mengangguk.


Dia kemudian menatap ke langit-langit kamar. "Aku pernah membaca sebuah kisah tentang seorang gadis desa yang bertemu dengan dua orang pangeran," katanya mengawali.


"Lalu?"


"Lalu?" Aku amat antusias mendengarkannya.


"Keduanya kakak-beradik. Si kakak bernama Cloud, si adik bernama Rain. Nah, si Rain ini selalu membuntuti gadis yang dibawa kakaknya sampai gadis itu merasa risih sendiri." Alexander menceritakan.


"Lalu apa yang dilakukan gadis itu?" tanyaku lagi.


Alexander terlihat menahan tawanya. "Ceritanya lucu. Si Rain akhirnya mendapatkan perlawanan dari gadis itu. Gadis itu begitu berani, padahal Rain adalah panglima tinggi di istana." Dia seperti merasa geli sendiri.


"Apa yang dilakukan gadis itu memangnya?" tanyaku ingin tahu.


"Dia ... dia memasukkan dedaunan ke mulut Rain sampai Rain tidak bisa bicara. Kakinya juga diinjak oleh gadis itu. Gadis itu luar biasa. Padahal dia juga tahu jika Rain putra bungsu kerajaan," tuturnya lagi.


Entah mengapa aku jadi merasa tertarik membaca kisahnya. "Apa judulnya?" tanyaku penasaran.


"Judulnya Dua Pangeran Satu Cinta. Kisahnya amat manis dan terbalut romansa istana yang kental. Kau bahkan seolah-olah bisa menjadi gadis itu." Dia menerangkan.


"Hah? Sungguhan?!" Aku tak percaya.

__ADS_1


"Coba saja. Kau akan merasakan sendiri betapa konyolnya kedua putra mahkota saat memperebutkan cintamu. Hahahaha." Alexander tertawa.


Kulihat tawanya begitu renyah. Dia seperti tidak malu-malu lagi padaku. Aku pun memeluknya tanpa ragu. Saat itu juga dia berhenti tertawa lalu memegang tanganku ini.


"Cecilia."


"Hm?"


Aku menunggu apa yang diucapkannya. Tapi entah mengapa suasana jadi terasa hening sekali. Aku pun menatap kedua bola mata birunya yang tak jauh dari mataku ini.


"Menikahlah denganku," katanya yang membuatku terkejut seketika.


"Hah?! Ap-apa?!" Aku terperanjat kaget karenanya.


"Aduh." Dia menepuk dahinya sendiri, seperti baru tersadar dengan apa yang dia ucapkan barusan. "Maaf, Cecilia. Mungkin aku terbawa suasana istana kedua pangeran itu." Dia tersipu malu di dekatku.


"Hah? Sungguhan?"


Lantas aku melebarkan senyuman, aku tertawa. Melihat senyum manisnya, kedua bola mata birunya dan juga tubuhnya, seolah membius penglihatanku ini. Rasanya aku ingin menciumnya saja. Tetapi apakah harus secepat ini berpindah hati?


Alexander mampu mewarnai hari-hariku yang begitu sunyi. Kini aku merasa mulai jatuh hati padanya. Dia seperti obat yang diberikan Tuhan untuk mengobati lukaku. Dan aku akan mencoba untuk menerimanya. Mungkin tidak ada salahnya jika menjalani hari bersamanya. Toh, Jackson juga sudah mengakhiri hubungan kami. Kini saatnya bagiku untuk membahagiakan diri sendiri. Aku harus tetap semangat menjalani hari walau tanpanya di sini.


"Tuan, bisa tidak aku juga seperti gadis itu?" tanyaku sambil merebahkan kepala di dada bidangnya.


"Menjelajah waktu?" tanyanya memastikan.


"Bukan." Aku menggelengkan kepala.


"Lalu?"


"Aku ingin punya dua orang suami," kataku tanpa ragu.


"Apa?!" Kulihat dia membelalakkan matanya.


Aku bangun lalu beranjak duduk di sampingnya. "Kan kasihan kalau cuma satu, dia mencari nafkah sendiri. Jika dua, yang pertama bisa terbantu untuk mencukupi kebutuhanku," kataku lagi dengan ekspresi tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Cecilia, kau ini!" Dia pun terlihat kesal padaku.


"Tuan, jangan! Hahahaha ...."

__ADS_1


Dia tiba-tiba menggelitikku. Alexander sudah berani bercanda denganku. Aku pun tertawa di sampingnya. Tak bisa menahan geli saat jari telunjuknya itu mengenai pinggangku. Sampai aku lupa jika kesedihan sedang melanda hidup ini. Dan aku rasa tidak ada salahnya untuk membuka hati.


__ADS_2