Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Tatapan Membunuh


__ADS_3

Aku mengambil napas dalam tanpa diketahui olehnya. Jantungku seperti mau copot saat mendengar dia ingin membicarakan tentangku. Lantas segera kualihkan perhatiannya dengan menyentuh ujung rambutnya yang sedikit panjang. Saat itu juga Hadden mengalihkan pandangannya, melihat jariku yang menyentuh ujung rambutnya.


"Apakah Anda mulai tertarik padaku, Tuan?" tanyaku berbasa-basi, menutupi rasa berdebar di hati.


Jika Hadden mengetahui mata-mataku waktu itu, pastinya dia mengira jika aku berada di pihak Jackson. Dan jika hal itu sampai diketahui olehnya, bisa-bisa malah akan mengancam keselamatanku. Itu berarti hidupku semakin tidak tenang karena muncul musuh baru. Tentunya Hadden tidak akan melepaskanku begitu saja. Dia pasti mengincarku.


"Cecilia, Aurel meneleponku tadi siang," katanya.


"Aurel?"


Tak lama pelayan datang membawakan pesanan kami. "Permisi, Tuan, Nona."


Pembicaraan terjeda sebentar karena pelayan menyajikan makanan ke atas meja. Kulihat Hadden terdiam sejenak sampai pelayan selesai menyajikan semua pesanan kami. Raut wajahnya terlihat kesal karena pembicaraan harus terjeda. Tapi aku tidak peduli, aku lebih peduli dengan hidangan laut yang disajikan pelayan restoran, begitu menggugah selera dan rasanya ingin cepat-cepat menyantapnya.


Aurel? Kenapa dia membicarakan Aurel, ya?


"Silakan, Tuan, Nona. Jika ada yang kurang bisa menekan bel." Pelayan pun berpamitan setelah menyelesaikan tugasnya mengantarkan pesanan kami.


Aku tersenyum kepada pelayan, Hadden pun hanya mengangguk pelan. Dia kemudian meneguk anggur putihnya yang disajikan dengan gelas kecil. Aku sendiri lekas-lekas meminum air mineral agar tidak dehidrasi saat melakukan percakapan dengannya.


"Tuan, aku tidak mengerti arah pembicaraan ini. Aku pikir akan membicarakan tentangku. Tapi kenapa malah membicarakan Aurel?" tanyaku pura-pura bingung, padahal ingin mengetahui jawaban pasti akan hal yang dia bicarakan padaku.


Hadden meletakkan gelas anggurnya. "Apa hubunganmu sudah terlalu jauh dengan Jackson?" tanyanya, kemudian melihatku kembali.


Kami duduk berhadapan dengan cermin yang ada di sekeliling sisi atap ruangan ini. Apapun yang kami lakukan, pasti cermin akan memantulkan bayangan kami.


"Hubunganku hanya sebatas menjalankan tugas dari nyonya Baldev, tidak lebih dari itu. Memangnya ada apa, Tuan?" tanyaku lagi dengan hati yang harap-harap cemas.


"Aurel mengatakan jika Jackson begitu membelamu dibandingkan dirinya yang sudah lama bekerja. Dia merasa jika ada hubungan khusus antara kau dan juga Jackson," terang Hadden kepadaku.


Oh, jadi dia ingin membicarakan tentang Aurel. Ternyata wanita itu melaporkan kejadian tadi pagi kepada Hadden. Tapi tunggu, kenapa Aurel melaporkan kepada Hadden? Apa jangan-jangan dia juga mata-mata Hadden untuk Jackson?


Lantas aku berpikir. Situasi di sekeliling Jackson sangat rumit. Jika semua kaki tangan Hadden berada di sekeliling Jackson, berarti setiap tindak-tanduk Jackson bisa diketahui oleh Hadden. Dan hal itu sangat tidak baik untuknya. Ya, walaupun kini aku bisa bernapas lega karena ternyata Hadden tidak mengetahui mata-mataku kemarin.


"Tuan Jackson melihat rekaman CCTV yang terjadi tadi pagi. Dia melihat sendiri kronologi keributan yang terjadi di depan ruangannya. Jadi wajar saja jika dia membelaku. Aurel memang memulai keributan." Aku menjawab dengan santai, seperti tidak terjadi apa-apa antara aku dan Jackson.


Kulihat Hadden mengangguk, seperti memercayai apa yang aku katakan. Kenyataannya memang benar seperti itu. Jadi dengan penuh percaya diri aku mengatakannya karena memang Aurel lah yang memulai keributan.


"Aku ingin menawarkan kerja sama yang menarik untukmu, Cecilia." Dia lalu mencicipi udang mayones yang disajikan.

__ADS_1


"Kerja sama apa, Tuan?" Aku juga mulai mencicipi steak lobster ini.


Hadden menyeka mulutnya dengan tisu. "Kerja sama menjatuhkan Jackson," katanya yang membuatku hampir tersedak sendiri.


Astaga, jadi dia benar-benar ingin menjatuhkan Jackson?!


Aku memainkan peran kembali agar dia tidak curiga. "Apa yang harus kulakukan dan berapa imbalan yang kudapat dari pekerjaan ini?" tanyaku terus terang.


Kulihat Hadden memperhatikanku sambil mengunyah makanannya. Dia seperti sedang berpikir tentangku karena langsung menanyakan imbalan atas tawarannya. Dia tersenyum kecil lalu menuangkan anggurnya ke dalam gelas kecil yang tersedia.


"Sepuluh milyar jika berhasil," katanya lalu meneguk anggurnya.


Sepuluh milyar?!!


Hadden ternyata menawarkan uang sepuluh milyar kepadaku untuk menjatuhkan Jackson. Andai aku tidak punya perasaan apapun terhadap pria berwajah muram itu, tentunya sudah kuambil tawaran ini. Tapi masalahnya, hatiku ini mau dikemanakan? Jackson sudah memenuhi seluruh relung pikiranku. Kehangatan yang kurasakan darinya begitu menghangatkan hati yang membeku.


Lantas aku beranjak dari duduk lalu mendekatkan tubuh ke arahnya. Tubuhku membungkuk di hadapannya. "Apa tidak salah pria seperti Tuan Hadden hanya menawarkan sepuluh milyar untukku?" tanyaku, sambil memainkan dasinya dengan nakal.


Aku harus berlagak seperti Cecilia yang dulu untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Karena jika hal itu tidak kulakukan, Hadden bisa memasukkanku ke dalam daftar target sasarannya. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi.


Hadden memegang tanganku yang memegang dasinya. "Berapa yang kau inginkan?" tanyanya seraya menatapku.


Aku berbisik di telinga Hadden. "Tiga kali lipat dari yang Anda tawarkan untuk pekerjaan besar ini, Tuan," kataku lalu segera menjauhkan wajahku dari telinganya.


Hadden menatapku tepat di mata. Kurasakan hangat napasnya menerpa pipi ini. Dia pun melihat pantulan bayanganku di cermin yang memperlihatkan rok belakangku sedikit terangkat ke atas, sehingga paha mulusku bisa terlihat olehnya. Mungkin dia berpikiran lain tentangku. Saat itu juga aku menarik dasinya agar dia melihat ke arahku lagi.


"Kinerjaku memuaskan, Tuan. Anda tidak perlu ragu padaku," kataku yang berbicara amat dekat dengan wajahnya.


Hadden tersenyum penuh makna. "Cecilia, kau benar-benar rubah yang menggoda." Dia berkata seperti itu padaku.


Lantas kujauhkan wajahku darinya. "Rubah ini tergantung siapa yang membayar. Jadi, Anda tidak perlu khawatir, Tuan." Aku membenarkan rok ku yang terangkat di hadapannya.


Hadden terdiam sejenak. Dia memperhatikan bentuk pinggulku. Sepertinya dia mulai tertarik dengan pesonaku. Entah apa yang ada di pikirannya, dia beranjak berdiri lalu mendekatiku perlahan. Saat itu juga jantungku berdetak tak karuan. Dia seperti sudah terpancing oleh pesonaku.


"Kapan kita bisa bermalam, Cecilia?" tanyanya sambil mendekatiku.


Kutelan ludahku saat pria paruh baya ini semakin mendekat. Aku pun segera duduk agar dia sulit untuk berbuat yang macam-macam padaku. Namun, dia kemudian berbisik di telingaku.


"Jika kau mau menjadi wanitaku, tiga puluh milyar akan kuberikan cuma-cuma untukmu. Bagaimana?" tanyanya, yang membuatku menyadari jika Hadden membatalkan tawarannya untuk menjatuhkan Jackson.

__ADS_1


"Hanya untuk menjadi wanitamu? Tidak ada pekerjaan lain?" Aku memastikan.


Dia berdiri di belakangku sambil menyampirkan rambutku ini. "Kau akan terpuaskan jika bersamaku, Cecilia," katanya yang begitu yakin.


Aku semakin menjadi-jadi, memainkan peranku di hadapannya. Aku menoleh ke arahnya sehingga wajah kami amat berdekatan. Kutunjukkan jika aku memang wanita penyuka uang, tidak peduli dengan hal lain selain uang.


"Tuan—"


Belum sempat aku meneruskan kata-kata, tiba-tiba ponsel Hadden berdering. Menandakan jika ada panggilan masuk untuknya. Seketika dia berdiri lalu mengambil ponsel dari sakunya. Dia menjawab panggilan telepon itu.


Hah, untung saja aku selamat darinya.


Tidak tahu apa yang dibicarakan, kulihat wajah Hadden begitu serius dalam menjawab panggilan. Hanya ada kata iya dan tidak yang kudengar darinya saat menerima panggilan telepon itu. Tak lama dia pun mematikan teleponnya.


"Cecilia, aku ada urusan mendadak." Dia seperti terburu-buru.


"Tapi, Tuan—" Aku segera beranjak berdiri, pura-pura ingin menahan kepergiannya.


"Lain kali kita sambung lagi. Sampai nanti, Cecilia." Hadden tersenyum padaku lalu bergegas pergi.


"Tuan, tapi makanannya masih banyak." Aku beralasan.


"Bawa pulang saja. Sudah kubayar." Dia berkata sambil menutup pintu ruangan ini.


Tak tahu hal apa yang sebenarnya terjadi, kulihat Hadden begitu terburu-buru. Apa mungkin Jackson sudah bertindak? Entahlah, lebih baik kubawa pulang saja makanan yang masih banyak di atas meja ini.


Satu jam kemudian...


Kini aku baru saja sampai di apartemen. Pertemuanku sore ini dengan Hadden memunculkan rasa penasaran baru. Entah apa yang terjadi sehingga membuat dia terburu-buru. Hadden kulihat terkejut saat menerima panggilan telepon itu.


Mana kuncinya, ya?


Lantas kurogoh tasku untuk mencari kunci apartemen. Ternyata kuncinya ada di dalam dompetku. Setelah kutemukan, segera kubuka pintu lalu masuk ke dalamnya dengan membawa banyak makanan untuk kusantap malam ini. Keadaan apartemen pun terlihat masih gelap karena lampunya belum sempat dihidupkan. Lantas kututup pintu dan menguncinya dari dalam. Setelah itu aku berjalan ke kamar untuk segera mandi. Tapi, langkah kakiku tiba-tiba terhenti.


"Tu-tuan?!"


Aku terkejut saat melihat Jackson sudah berada di depan pintu kamarku. Dia menyilangkan kedua tangan di dadanya. Sontak jantungku berpacu cepat saat melihat kehadirannya di sini.


"Dari mana?" tanyanya singkat seraya berjalan mendekatiku.

__ADS_1


Setiap langkah kakinya seperti menghentak jantungku. Semakin dia mendekat, semakin berdebar jantungku. Sorot matanya pun begitu tajam, seakan ingin membunuhku. Aku jadi kebingungan dalam menjawab pertanyaannya. Haruskah jujur atau berbohong padanya?


__ADS_2