
Enam jam kemudian...
Cahaya matahari menyorot terang kamarku. Sayup-sayup angin seolah mengetuk jendela agar lekas-lekas dibuka. Aku pun terbangun dan melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Padahal rasanya kami baru saja terlelap dalam mimpi.
Untung saja penutupan buku akhir tahun berjalan dengan lancar. Jika tidak, entah jam berapa kami akan sampai di rumah. Tadi saja hampir setengah empat pagi baru sampai, benar-benar melelahkan sekali.
Jackson kini masih tertidur pulas di sampingku. Dia begitu lelah setelah lembur semalam. Aku pikir Jackson tinggal memerintah saja, tapi ternyata dia juga ikut turun dalam penutupan buku. Dia memang pemimpin sejati.
Sepertinya Zea telah banyak salah sangka terhadap Jackson. Awal dia memberiku misi, Zea bilang Jackson tidak tertarik pada wanita. Padahal nyatanya Jackson pria yang sejati. Dia manly sekali. Mungkin Jackson bersikap dingin kepada Zea karena ulah Zea sendiri yang telah mengkhianatinya. Entahlah, kebenarannya aku belum tahu pasti, tapi mungkin saja hal itu bisa terjadi.
Tuan, saat ini aku merasa sudah seperti menjadi istrimu. Serasa sedang menikmati bulan madu bersama.
Perasaan yang ada di hatiku semakin lama semakin merekah indah. Harapan itu semakin besar dan membumbung tinggi ke angkasa. Terkadang aku juga takut jatuh tiba-tiba. Takut hanya sebagai pelarian Jackson semata. Rasa khawatir itu masih bersemayam di dadaku.
Lantas aku beranjak bangun lalu mandi, kemudian membuatkannya sarapan. Beres-beres rumah kutunda terlebih dahulu karena ingin rehat sejenak. Maklum kemarin amat melelahkan.
Satu jam kemudian...
Hari ini tanggal 31 Desember, yang berarti nanti malam akan segera terjadi pergantian tahun. Aku jadi ingin memberikan kejutan kepada Jackson. Tapi masih bingung kejutan apa yang harus kuberikan padanya.
Jackson suka apa, ya?
Sampai saat ini aku belum tahu kesukaannya apa, selain posesif dan over protektif terhadapku. Mungkin memang hobinya seperti itu, dia tidak mempunyai hobi lain. Rasanya aku jadi kesal sendiri karena merasa tidak bebas bergerak. Tapi mau bagaimana lagi, cetakan dia sudah begitu.
Lantas aku memikirkan hal lain untuk memberinya kejutan. Aku mempunyai ide yang pasti amat sangat dia sukai. Apalagi jika bukan menggodanya. Jackson sangat suka digodaku.
Sepertinya aku mempunyai lingerie yang belum pernah kupakai.
Aku berniat memakai lingerie untuk menggodanya. Kemarin sempat beli tapi belum pernah dipakai. Lantas kubuka lemari pakaian lalu kuambil lingerie berwarna ungu. Kucoba saja lingerie ini. Sepertinya bisa membuat Jackson dimabuk kepayang saat melihatnya.
Seksi sekali.
Aku mempersiapkan diri secantik mungkin di hadapannya. Ya, anggap saja seperti betina yang sedang menarik si pejantan agar dekat dan tidak lepas darinya. Hal itu juga akan kulakukan untuk mengunci hati dan pikiran Jackson. Aku sudah terlanjur basah jadi sekalian menyelam saja.
Setengah jam kemudian...
__ADS_1
Jacksonku belum bangun. Tapi aku sudah siap untuk menggodanya. Menggunakan lingerie berwarna ungu dengan polesan make up yang menantang. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Jackson melihatku nanti. Dan sambil menunggunya bangun, aku berlagak bak pelayan seksi. Bersih-bersih rumah dengan mengaitkan celemek ke tubuhku.
Kulihat jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul sebelas siang. Aku terus saja mengelap perabotan di rumah ini. Dan tak lama kemudian, kudengar suara pintu kamar terbuka. Ternyata benar saja jika Jackson sudah terbangun dari tidurnya.
"Tuan, sudah bangun?" Aku melihat ke arahnya.
Jackson tampak terkejut melihat penampilanku. Kedua matanya terbelalak dalam sekejap. Dia memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia lalu mendekatiku.
"Cecilia." Dia mendekatiku dan tiba-tiba saja ingin menciumku.
Benar, kan? Si mesum cepat bereaksi. "Tuan, mandi dulu." Aku segera menahannya.
"Mandi?"
"Iya, mandi dulu. Aku sudah secantik ini masa kamu belum mandi," kataku, seraya mencolek ujung hidungnya.
"Oh, begitu ya ... oke. Hahaha. Aku mandi dulu."
Jackson terlihat aneh sendiri. Raut wajahnya amat lucu. Dia seperti kebingungan karena ditahan olehku. Rasanya aku ingin tertawa melihatnya. Sepertinya lingerie ini telah berhasil membuatnya mabuk kepayang, sampai-sampai dia lupa jika baru saja bangun dari tidur. Lantas kutunggu saja dia selesai mandi.
Aku menyapu rumah sambil menunggu Jackson selesai mandi, sekalian membersihkan rumah yang sudah berdebu ini. Aku tahu jika Jackson akan lama di kamar mandi, jadi aku juga membersihkan kamarku. Entah mengapa aku jadi bersemangat hari ini.
Lima belas menit kemudian...
Aku sedang memasang sprei kasurku. Dan kudengar Jackson membuka pintu kamar dari luar. Tentu saja poseku ini membuat Jackson tergoda. Kedua paha mulusku terlihat olehnya dan membuatnya menelan ludah.
"Cecilia!" Jackson langsung mendekatiku, dia melepas handuknya tanpa ba-bi-bu.
"Tuan?!" Aku terkejut saat dia ingin menjadikanku seperti kudanya.
"Cecilia, kau menggoda sekali." Dia lalu mengecup bahuku.
"Ahh, Tuan. Makan dulu." Aku menolaknya.
"Aku makan yang ini saja."
__ADS_1
Wajahnya tidak mau lepas dari bahuku. Tangannya mulai merayap dari pinggul hingga ke bagian dada. Aku jadi geli sendiri. Jackson menciumi sekujur bahuku dari belakang, membuatku hampir terbawa suasana. Kedua tangannya memegang dadaku lalu mengusapnya perlahan. Sebisa mungkin aku pun segera melepaskan diri darinya.
"Tuan, makan dulu." Aku berbalik menghadapnya.
"Cecilia ...,"
Jackson berada di atas tubuhku. Bagian perut lingerieku terbuka, memperlihatkan perut langsingku. Tentu saja Jackson tidak mau lepas, apalagi menjauh.
Lantas aku menutup bibirnya dengan jari telunjukku. "Tahan sebentar, Tuan. Kenyangkan dulu perutmu," kataku lembut.
Jackson menelan ludahnya. Sesuatu itu pun kulihat sudah mengeras di bawah sana. Kutahu jika dia sudah tidak bisa menahan hasratnya. Tetapi tetap saja dia belum makan. Aku khawatir dia akan sakit karena belum menyantap apapun.
Besar sekali jika sudah seperti ini.
Aku beranjak bangun, mengambil handuk lalu memakaikan kepadanya. Aku meminta Jackson untuk makan terlebih dulu. Mau tak mau Jackson jadi menurut padaku. Dengan wajah terpaksa dia mengikutiku ke meja makan, menyantap makanan yang sudah kuhidangkan. Aku pun menemaninya makan karena kebetulan lapar. Jadi kami makan bersama dengan saling menahan gejolak di dada.
Setengah jam kemudian...
Perutku sudah terasa kenyang sekali. Aku menyantap banyak lauk dan sayuran hari ini. Nasinya sedikit saja agar tetap langsing. Katanya kebanyakan kalori tidak baik untuk kesehatan. Jadi sekedarnya saja.
Sehabis makan aku menyemprotkan parfum aroma terapi ke seluruh ruangan. Sedang Jackson menunggu di teras belakang rumah sambil merokok. Sedari tadi dia tampak gelisah hingga puntung rokok menyumpal mulutnya. Barulah dia bisa diam. Dan kini aku berjalan mendekatinya setelah selesai menyemprotkan parfum ke seluruh ruangan.
"Tidak pakai baju?" tanyaku.
Jackson hanya mengenakan celana dasar hitamnya tanpa kemeja atau baju. Dia seperti sedang kepanasan.
"Bentar, Cecilia. Sedikit lagi," katanya seraya menoleh ke arahku.
"Eh?!" Aku pun jadi bingung.
Karena berbicara seperti itu, yang kutangkap darinya adalah dia sedang tidak ingin diganggu. Jadi aku pergi ke kamar saja, melihat barang yang sedang promo di toko online.
Dia memang perokok berat.
Kuambil ponselku lalu tengkurap di atas kasur. Kucek barang apa saja yang sedang promo. Tak lama Jackson masuk ke dalam kamar, aku pun menoleh ke arahnya. Kulihat dia melepaskan sabuk celananya sambil naik ke atas kasur.
__ADS_1