
Suara musik acara pesta pantai masih terdengar jelas dari sini. Aku pun masih menunggu Alexander bicara padaku. Kulihat tangan kanannya memegang setir, tangan kirinya memegang tanganku. Dia seperti ingin bicara tapi terasa sungkan untuk mengatakannya. Sedang aku masih setia menunggu.
"Dear, kau baik-baik saja?" tanyaku padanya.
Alexander menelan ludah. Dia menoleh ke arahku. "Apakah hal tadi akan kau lakukan juga kepadaku, Cecilia?" tanyanya.
"Hah? Hal tadi?" Seketika aku bingung dengan maksud pertanyaannya.
"Ya." Dia menunduk. "Apakah kau juga akan mengatakan hal itu padaku seperti apa yang kau katakan pada Jackson?" tanyanya seraya melihatku.
Sontak hatiku tersentak mendengarnya. Ternyata Alexander memikirkan perkataanku sedari tadi. Padahal aku sama sekali tidak menganggapnya serius. Aku pikir kata-kata yang kuucapkan kepada Jackson hanya berdampak ke Jackson saja. Tapi nyatanya, dia juga memikirkannya.
"Dear, kau terlalu perasa. Tidak mungkin aku berkata seperti itu kepadamu tanpa alasan. Anggap saja jika hal yang kulakukan tadi karena tidak mau terjadi keributan di antara kalian. Lagipula aku tidak ada hubungan lagi dengan Jackson. Kita jalani saja yang ada. Tidak usah memikirkan orang lain." Aku mencoba memberi pengertian kepadanya.
Alexander mengangguk, namun dia terlihat sedih. "Kau tahu, kata-katamu tadi amat menusuk jantung seorang pria. Dan aku rasa Jackson juga mengalaminya. Aku berharap kau tidak goyah setelah bertemu dengannya, Cecilia. Aku ... aku takut kehilanganmu," katanya dengan nada memohon.
"Dear ...," Aku segera memeluknya. "Aku rasa pelukanku ini bisa menjadi jawaban dari rasa gundahmu. Aku juga berharap kau tidak sepertinya." Aku menenangkannya lalu melepaskan pelukanku ini.
Kulihat raut wajahnya begitu sendu saat menatapku. Dia kemudian mencium keningku ini. Seperti sedang menyalurkan perasaan yang ada di hati. Ciumannya terasa lembut dan juga menghangatkan. Kutahu jika dia tidak ingin kehilanganku.
Lambat laun aku bisa mengetahui bagaimana karakter Alexander yang sesungguhnya. Ternyata dia adalah tipikal pria yang perasa. Hatinya lembut dan takut kehilangan seseorang. Dan mungkin hal itu jugalah yang sedang terjadi pada kami sekarang. Dia takut kehilanganku setelah kemunculan Jackson.
Sepertinya kami juga tidak perlu malu-malu lagi dalam mengungkapkan perasaan yang ada di hati. Kami sudah sama-sama dewasa dan tahu mana yang terbaik bagi diri sendiri. Dan aku berharap hubungan ini bisa terus berlanjut sampai ke jenjang berikutnya.
"Aku masih ingin tahu apa alasanmu datang kemari. Tapi mungkin lebih baik kita segera pergi dari sini," katanya lalu menarik pedal gigi mobil.
Aku mengangguk. Kuikuti keinginannya tanpa menolak sama sekali. Alexander pun segera mengeluarkan mobil dari area parkir pesta pantai ini. Kami kemudian melaju pulang, meninggalkan pantai yang ada di selatan kota. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang berbeda untuk kami.
Kutahu jika Alexander perasa. Dia memiliki hati yang lebih lembut dari kebanyakan pria. Dan sebisa mungkin aku akan menjaga perasaannya sebagaimana dia menjaga perasaanku. Karena bagi wanita memang lebih baik dicintai daripada mencintai. Lambat laun wanita pasti bisa membalas rasa cinta itu sendiri.
__ADS_1
Satu jam kemudian...
Kini aku sudah tiba di apartemen Alexander. Ini adalah pertama kalinya bagiku datang ke apartemennya. Kulihat isi apartemennya tidaklah terlalu banyak, hanya seperlunya saja. Tetapi memang memadai dan cukup untuk keperluan sehari-hari.
Aku tidak tahu mengapa Alexander mengajak ku kemari. Namun, kuturuti saja kemauannya. Karena kulihat wajahnya sedikit berubah semenjak Jackson datang ke hadapanku. Entah karena takut aku goyah atau memang murni kesal kepada pria berwajah muram itu. Aku mencoba untuk berbaik sangka saja.
"Hah ...."
Dia merebahkan punggungnya di sofa tamu. Aku pun duduk di sisi kirinya sambil membawa minuman yang sempat kubeli sebelum sampai di sini. Kulihat dia mengusap kepalanya sendiri, seperti orang frustrasi.
"Dear, minumlah." Aku mencoba membukakan botol softdrink untuknya.
Dia menerima pemberianku. "Terima kasih," katanya lalu segera meneguk softdrink dariku.
Aku pun ikut meneguk softdrink yang kubeli tadi. Rasa lemon bercampur lime bersoda yang menyegarkan tenggorokan di saat cuaca panas seperti ini. Aku juga melepas kemeja biru darinya. Aku merasa panas sekali. Tak tahu mengapa aku merasa biasa-biasa saja saat mengenakan pakaian seperti ini di depannya. Mungkinkah hati kami sudah mulai dekat dan tidak merasa ada jarak lagi?
"Cecilia." Dia menegurku.
"Kau begitu berani datang sendiri ke sana dengan pakaian seperti ini. Kau tidak takut ada yang menjahilimu?" tanyanya padaku.
Kusampirkan rambutku ke samping di depannya. "Seperti ini?" tanyaku, menggodanya.
"Astaga ...." Seketika itu juga dia menahan tawa seraya memalingkan pandangannya dariku.
"Kenapa?" Aku pun mendekatinya tanpa merasa sungkan.
Alexander diam melihatku. Tak tahu apa yang dipikirkannya, sepertinya dia sedang menilaiku saat ini. Aku pun mencoba bersikap biasa-biasa saja di depannya. Kutebarkan senyuman manis lalu kuletakkan telapak tanganku di dadanya. Saat itu juga kurasakan jantungnya berdetak kencang sekali. Sepertinya jiwa lelakinya bereaksi.
Dia masih normal ternyata.
__ADS_1
Sampai saat ini aku belum melihat ketertarikan biologis Alexander terhadapku. Atau memang dia ingin aku yang memulainya lebih dulu? Tapi sekarang aku sudah bisa memastikan jika dia baik-baik saja. Melihatku seperti ini jantungnya berdetak begitu kencang. Apalagi jika hal ini sampai kami lanjutkan.
"Cecilia." Dia kemudian mengusap wajahku.
"Ya?" Aku pun menunggu dia melanjutkan bicaranya.
"Baru kali ini aku merasa takut kehilangan. Bisakah kau selalu berada di sisiku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap padaku.
Aku mengangguk. "Tapi aku banyak maunya, lho." Kucolek ujung hidungnya itu.
Dia kemudian mencium tanganku. "Katakan saja, apapun akan kuberikan. Tapi ... jangan tinggalkan aku." Dia memintaku.
Aku tersenyum. Tersirat kebahagiaan dan harapan dari sorot matanya. Aku pun merebahkan kepala ini di dada bidangnya. Aku juga berharap dia tidak akan pernah menyakitiku. Aku ingin ada yang selalu menjaga dan menyayangiku. Karena aku membutuhkan semua itu.
"Dear ... sampai di sini saja aku sudah merasa bahagia karena kau mau menerimaku apa adanya. Namun sebenarnya aku khawatir," kataku jujur.
"Khawatir?" Dia merangkulku. Jarak kami begitu dekat sekali.
"Ya. Aku khawatir perasaanmu akan berubah setelah tahu siapa diriku. Kehidupanku dulu tidaklah sebaik yang kau kira. Mungkin bisa dikatakan jika aku ini adalah wanita bayaran. Hanya saja tidak sampai tidur dengan banyak pria hidung belang." Kuutarakan isi pikiranku padanya.
Alexander merangkulku lebih erat. "Cecilia, jika kau menginginkan aku, aku bisa memberikannya. Tapi jika hanya sebatas pelarian, aku tidak sanggup, Cecilia." Dia berkata terus terang.
"Dear?" Aku pun beranjak melihat wajahnya. Kulihat wajahnya seperti sedang menyimpan ketakutan akan kehilanganku. "Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Sudah, ya. Jangan ungkit lagi. Aku yakin kita pasti bisa melalui ini bersama. Kutahu jika semuanya membutuhkan waktu. Maka dari itu yakini aku jika kau tidak sepertinya." Aku memintanya dengan lembut.
Alexander mengangguk. Sepertinya dia sudah lega sekarang. "Terima kasih," katanya. Tak lama kemudian ponselnya pun berdering.
Kulihat Alexander segera mengambil ponselnya dari saku celana. Dia kemudian melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Dia juga terlihat sungkan untuk mengangkat telepon itu di depanku.
"Siapa Dear?" Aku pun kepo ingin tahu.
__ADS_1
Alexander menelan ludahnya. "Ayahku," katanya yang membuat laju jantungku berdetak kencang seketika.