
Lantas aku ingin mengetahui sejauh mana keterbukaan Alexander padaku. "Dear, boleh aku ikut mendengar pembicaraan kalian?" Aku meminta.
Alexander mengangguk. Dia kemudian mengangkat telepon itu di depanku. Tak lama kemudian kudengar suara musik yang menggema dari sana. Banyak orang yang sepertinya sedang berpesta pora.
"Halo?" Alexander mengangkat telepon dari ayahnya.
"Kau pulang sebelum acara selesai." Kudengar suara pria dari seberang berkata seperti itu kepada Alexander. Suaranya begitu berat seperti sudah berusia enam puluh ke atas.
"Aku tidak berminat berada di sana. Aku punya urusan sendiri." Alexander begitu dingin menjawabnya.
Kudengar helaan napas dari pria itu. "Putraku, sampai kapan kau akan bertentangan dengan ayahmu? Kau penerus satu-satunya usaha ini. Mengapa masih belum juga bisa menerimanya?" tanya pria itu kepada Alexander.
Alexander menggenggam tanganku. "Aku masih bisa hidup dan menghidupi keluargaku dari hasil jerih payahku sendiri. Bukan dari uang seperti itu." Alexander berkata tegas kepada ayahnya.
Aku menelan ludah. Merasakan kesungguhan yang amat kuat dari Alexander. Dia ternyata tidak main-main dengan ucapannya. Di hadapanku dia berani menentang keras ayahnya.
"Hah ... kau terlalu naif, Nak. Apa ibumu yang telah menghasudmu sampai seperti ini?" tanya pria itu lagi.
Alexander terlihat geram. Dia menggertakkan giginya. "Aku sudah besar. Tahu mana yang baik. Jika tidak ada hal lagi yang ingin dibicarakan, aku masih banyak urusan." Tersirat keinginan Alexander untuk segera mengakhiri telepon dari ayahnya.
Ayah Alexander tidak bicara apapun. Mungkin dia sedang berpikir betapa keras anaknya yang tidak mau menerima semua fasilitas darinya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Tapi mungkin saja bisa kutanyakan langsung kepada Alexander nanti.
"Baiklah. Jika kau sudah merasa bisa berdiri sendiri, ayah angkat tangan. Tapi jika ada apa-apa, urus masalahmu sendiri," katanya lalu tak lama telepon pun terputus.
Kurasakan atmosfer sekitar berubah drastis saat Alexander menerima telepon dari ayahnya. Aku pun segera mengusap-usap punggungnya agar dia merasa nyaman dari situasi yang baru saja terjadi. Aku harus bisa menenangkan hatinya saat ini.
__ADS_1
"Dear, sebenarnya ada apa?" tanyaku, sekaligus ingin mengorek informasi darinya.
Alexander menatapku. Napasnya tidak beraturan seperti menahan amarah yang sedang berkecamuk di jiwanya. Aku pun mencoba menghiburnya dengan menggembungkan kedua pipi ini di hadapannya. Saat itu juga dia memelukku.
"Cecilia ...." Dia menyebut namaku.
"Dear?"
"Jika aku katakan siapa diriku yang sebenarnya, apa kau masih mau berada di sisiku?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk sambil terus mengusap-usap punggungnya.
"Mungkin hal ini juga yang sempat membuatmu jauh dariku kemarin. Mungkin Jackson sudah mengatakannya lebih dulu padamu. Tapi sekarang, aku akan mengatakannya secara langsung." Dia mulai terbuka padaku.
Alexander kemudian meneguk habis softdrink yang kuberikan. Dia mengambil napas panjang sebelum menceritakan tentang dirinya padaku. Aku pun menunggu sampai dia siap untuk bicara. Aku ingin tahu kejujurannya. Apakah yang dia katakan sama persis dengan yang kudapatkan hari ini? Jika berbeda, mungkin kejujurannya patut dipertanyakan.
Sore harinya...
Semburat merah terlihat menghiasi langit sore ini. Alexander pun tengah tertidur di sampingku. Sepertinya dia kelelahan dan memintaku untuk menemaninya. Kami tidak melakukan apa-apa setelah dia menceritakan siapa dirinya padaku. Aku rasa dia butuh waktu sejenak untuk beristirahat dari lelahnya aktivitas. Dan kulihat dia begitu nyaman tidur di sisiku. Tanganku pun masih dipegangi olehnya walaupun dia sedang tertidur.
Aku sendiri duduk di kepala kasur sambil memeriksa isi ponsel pintarnya. Kulihat banyak sekali foto kerja sama antara dirinya dan rekan bisnis. Di ponselnya juga terdapat banyak fotonya saat kuliah dulu beserta teman-temannya. Alexander tidak keberatan saat aku ingin memeriksanya. Malahan dia memberikan semua yang dipegang olehnya. Sampai dompet-dompetnya pun dia berikan padaku.
Kuakui jika Alexander lebih terbuka dibanding Jackson. Dan aku rasa apa yang dikatakan Jackson tentangnya itu tidaklah benar. Nyatanya tidak ada pesan dari Hadden yang memintanya untuk mendekatiku. Hanya saja memang terdapat telepon masuk dari pria berusia empat puluh tujuh tahun itu. Mungkin saja membicarakan pekerjaan, bukan mengenaiku.
Kini aku merasa sudah dekat dengan pria berambut pirang ini. Tak ada lagi kesenjangan ataupun jarak di antara kami. Apa yang dikatakannya tadi sama persis dengan yang kudengar dari para model Queen Club. Alexander mengaku jika dia adalah anak dari Smith, pemilik Queen Club. Tapi dia mengatakan menentang keras usaha ayahnya itu. Sehingga dia bertekad untuk membahagiakan keluarga dengan hasil jerih payahnya sendiri.
__ADS_1
Mengenai penyebab perceraian ayah dan ibunya, Alexander seperti tidak ingin menceritakannya. Mungkin juga belum saatnya bagiku untuk mengetahui semuanya. Ya sudah, pelan-pelan saja. Jika kami memang berjodoh, suatu saat pasti akan dipersatukan bagaimanapun aral rintangannya. Tapi jika tidak, semoga kami bisa sama-sama saling menerimanya. Karena sungguh kehidupan ke depan tidak ada yang tahu. Semua masih menjadi misteri Ilahi.
Dear ... terima kasih telah menunjukkan kesungguhanmu padaku.
Aku membelai lembut rambut pirangnya. Dan ternyata, rambutnya begitu halus sekali. Sama seperti hatinya. Aku rasa aku mulai menyukai apa yang ada padanya. Katakanlah jika aku sudah mulai jatuh hati kepadanya. Walaupun pada awalnya aku selalu menolaknya.
Dia kini memenuhi ucapannya. Dia yakin bisa membuatku jatuh cinta meski aku tak pernah mencintainya. Dia menunjukkan kesungguhannya padaku. Dia memang amat berbeda dari Jackson. Dan kini aku sedang menatap penuh kasih wajahnya yang sedang terlelap. Kusentuh pipinya lalu mulai membelai bibirnya yang berwarna merah muda. Saat itu juga kurasakan bibirnya begitu lembut sekali.
Hormon di dalam tubuhku bereaksi saat menyentuh bibirnya menggunakan jari telunjukku ini. Aku sampai membayangkan bagaimana jika ciuman kami sampai terjadi. Mungkin aku sudah tidak tahan lagi untuk melabuhkan bahtera bersamanya. Namun, kami memang harus menyiapkan matang-matang sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.
Jenjang keseriusan berikutnya bukanlah hanya sekedar untuk melampiaskan hasrat semata. Tetapi juga berbagi kasih dalam suka maupun duka. Dan aku sedang belajar melalui pendekatan ini. Semoga saja hatiku bisa yakin untuk bersamanya.
Eh? Dia bangun?!
Aku terkejut saat Alexander menahan jari telunjukku dengan bibirnya. Dia seperti seorang bayi yang sedang mengemut botol susunya. Dia terlihat imut sekali. Aku pun memainkan jari telunjukku ini ke setiap sisi bibirnya. Mulutnya pun mengikuti arah gerakan jariku.
Dear ... kau lucu sekali.
Lambat laun aku merasa senang karena telah berhasil mengerjainya. Tapi rupanya sikap usilku ini harus berakhir saat Alexander memegang tanganku. Dia ternyata bangun lalu melihat ke arahku. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu.
.........
...Cecilia...
__ADS_1