Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Menyelidik


__ADS_3

"Jam berapa, Tuan?" Akhirnya aku mengambil keputusan berdasarkan logikaku.


Alexander tersenyum. "Jam sembilan kujemput," katanya yang membuatku merasa kepagian.


"Errrr, apakah tidak terlalu pagi?" Aku merasa ragu bisa bangun pagi di akhir pekan.


Alexander tertawa sambil menutupi mulutnya. "Kenapa? Khawatir tidak bisa bangun pagi di akhir pekan, ya?" tanyanya sambil tertawa.


Aku tersipu malu dengan kata-katanya. Dia sepertinya banyak tahu tentang wanita. "Em, aku usahakan." Akhirnya aku tertarik dengan ajakannya.


Dia tersenyum kembali padaku. "Nanti aku akan membangunkanmu. Jangan khawatir. Asal jangan blokir kembali nomorku." Dia seolah mengingatkanku dengan kejadian dulu.


"Ehem!"


Aku pun berdehem karena merasa tersindir olehnya. Segera kuteguk air minum lalu menyantap hidangan ini. Mungkin tidak ada salahnya jika aku berlibur bersamanya. Aku juga punya hak untuk membahagiakan diriku sendiri.


Pukul sepuluh malam, waktu ibu kota dan sekitarnya...


Waktu terus saja berlalu, membawaku ke dalam kerinduan yang mendalam. Tapi, sampai saat ini rinduku itu tidak terbalaskan. Belum ada kabar ataupun sekedar basa-basi dari pria si wajah muram. Sampai detik ini Jackson belum juga menghubungiku. Jadi jangan salahkan jika aku selingkuh.


Wanita butuh kepastian. Dan saat ini aku berpikir menggunakan logikaku. Terserah orang mau berkata apa. Ini hidupku, aku yang menjalaninya. Susah-senang hanya aku yang tahu. Jadi abaikan perkataan orang. Karena pada kenyataannya mereka hanya bisa mengomentari tanpa membantu.


Kini aku sedang merebahkan diri di atas kasur sambil berselancar ria di internet. Sejam yang lalu aku dan Alexander baru saja berpisah setelah dia mengantarkanku kembali ke apartemen. Dan kini kami juga masih saling membalas pesan. Alexander mengabarkan jika dia sudah sampai di apartemennya.


Kusadari jika kami mulai dekat. Aku juga mulai membuka hati untuknya, tanpa peduli bagaimana ke depannya. Kujalani saja hidup yang hanya sekali ini dengan bahagia. Walau tidak bisa dipungkiri rasa sakit itu masih ada. Ya, hitung-hitung menyenangkan diri sendiri apa salahnya? Toh, Jackson juga seakan tidak peduli padaku. Bisa saja dia sedang bersenang-senang bersama Zea di dalam kamarnya.


Sungguh posisiku serba salah dan tidak menguntungkan. Tapi aku mencoba mencari kebahagiaan di tengah kesempitan yang melanda. Alexander datang dan menawarkan diri untuk mengobati lukaku. Jadi kuterima saja niat baiknya karena memang aku sedang membutuhkannya. Terlepas dari benar atau tidaknya perkataan Jackson waktu itu tentangnya.


Eh, dia menelpon?

__ADS_1


Aku dan Alexander memang masih saling membalas pesan. Tapi, entah mengapa dia tiba-tiba saja meneleponku. Aku pun segera mengangkat teleponnya karena khawatir dia terlupa sesuatu saat pulang dari sini. Namun, panggilan telepon itu dialihkannya menjadi panggilan video. Sontak kutolak segera permintaannya.


Dia semakin berani menunjukkan pendekatannya padaku.


Alexander mengirim pesan lagi. Dia menanyakan mengapa aku menolak permintaan panggilannya. Sengaja tak kubalas karena ingin mengabaikannya. Tapi, lagi-lagi dia meneleponku. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.


Dia ini begitu gigih untuk mendapatkanku.


Lantas aku mengangkat teleponnya. Terpaksa kuangkat karena tidak ada jalan lain. Mau beralasan sudah tidur pun tidak mungkin. Jadi ya anggap saja jika ini ucapan terima kasihku karena dia telah menraktirku makan malam.


"Cecilia." Terdengar suaranya dari sana. "Maaf jika aku lancang," katanya. Dia seperti tahu jika aku sengaja menghindar.


Aku diam saja.


"Cecilia, aku ... hanya ingin melihat wajahmu sebelum tidur." Dia seperti sedang merebahkan diri di atas kasur.


Kuambil napas dalam-dalam untuk bicara padanya. "Tuan, jangan berharap lebih padaku. Aku tidak sebaik apa yang Anda kira." Aku mencoba membuka siapa diri ini agar dia tidak berharap lebih.


"Sebentar?"


"Iya, panggilan video." Dia menginginkan panggilan video denganku.


Aku tak tahu harus bagaimana. Apakah harus menolak panggilan videonya lagi atau tidak. Tapi rasa-rasanya tidak apa jika aku menerima panggilan videonya. Toh, aku juga sudah mengenakan pakaian tidur yang serba panjang saat ini.


"Tuan, jangan macam-macam. Aku sudah terselandung banyak masalah akhir-akhir ini." Aku memperingatkannya.


Dia seperti tersenyum di sana. Terdengar embusan napas yang lega darinya. "Iya. Aku janji tidak akan menyalahgunakan panggilan ini. Sebentar saja," katanya lagi.


Akhirnya hatiku pun luluh. Kuterima permintaan panggilan videonya. Tak lama kemudian, aku melihatnya sedang memiringkan badan ke arah kamera. Dia mengenakan kaus oblong sehingga terlihatlah lengan kekarnya di kamera ponselku. Aku pun terkesima melihat bentuk otot lengannya.

__ADS_1


Dia ternyata atletis, ya?


Alexander tersenyum padaku. Dia memandangiku. Kulihat dia tersenyum manis sambil memperhatikan setiap inchi dari layar ponselnya. Mungkin dia sedang gila sekarang.


"Sudah ngantuk, ya?" tanyanya.


Aku beranjak duduk karena tidak enak menerima telepon dalam posisi telentang. "Em, iya. Besok ada yang mau menjemputku pagi-pagi." Aku berkata seperti itu kepadanya.


Alexander pun tertawa. Kembali kulihat senyuman manisnya. "Wanita tidak jauh berbeda saat hari libur. Dan aku rasa kau juga sama seperti mereka." Alexander menuturkan.


"Mereka?" Aku tertarik mengetahui siapa yang dimaksud mereka oleh Alexander.


Dia mengangguk. "Iya. Kakak dan adikku. Mereka juga selalu seperti itu jika hari libur tiba. Bangun menjelang siang dan bermalas-malasan. Sehingga mau tak mau hari libur diisi kemarahan ibu," katanya.


Sontak aku terdiam, mencoba mencerna kata-katanya. Kusadari jika Alexander lebih terbuka dibanding Jackson. Dia tanpa malu menceritakan bagaimana keluarganya kepadaku.


Mungkin ini saatnya mencari tahu siapa Alexander sebenarnya. Aku ingin memastikan bagaimana perasaannya padaku. Benarkah dia menyukaiku? Atau ada orang yang menyuruhnya untuk pura-pura menyukaiku?


"Anda tiga bersaudara ya, Tuan?" tanyaku lebih lanjut.


Dia mengangguk lalu mengarahkan kamera ke arah depan. Dia telentang di atas kasurnya. "Iya. Aku tiga bersaudara. Kakak dan adikku semuanya perempuan. Aku lelaki sendiri." Dia menjelaskan.


Dia punya kakak dan adik perempuan?!


"Tapi mereka semuanya sudah berkeluarga. Hanya aku yang masih sendiri." Dia menatap dalam wajahku.


Tuan, jadi ini alasan kau ingin cepat menikah?


Jika Alexander mempunyai kakak dan adik perempuan, pastinya dia akan lebih berhati-hati terhadap seorang wanita. Karena biasanya hukum karma selalu berlaku kepada siapapun di bumi ini. Jika melakukan hal baik, tentu karma baik akan didapatkannya. Begitu juga sebaliknya. Dan aku rasa Alexander tidaklah seperti apa yang dikatakan oleh Jackson waktu itu.

__ADS_1


Terlepas dari pekerjaan ayahnya sebagai pemilik Queen Club, aku rasa sesekali harus menyelidiki langsung siapa dia sebenarnya. Jika benar Alexander menjual wanita seperti ayahnya, maka aku bisa berpura-pura untuk ikut serta. Ya, walau kutahu risikonya besar. Tapi jika hanya diam, aku lebih tidak akan mendapatkan apa-apa.


__ADS_2