Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Goyah


__ADS_3

...Alexander...



.........


Kami akhirnya sampai di halaman parkir pantai. Alexander pun mengembuskan napasnya lalu mematikan mesin mobil. Dia menoleh ke arahku yang sedari tadi diam. Dia lalu memutar tubuhnya menghadapku.


"Kenapa diam saja?" tanyanya sambil memperhatikanku.


Aku sedikit kaku jika kami berdekatan seperti ini. Jarak kami dekat sekali. "Em, aku ... tidak apa-apa. Mungkin belum terbiasa," jawabku sambil memejamkan mata.


"Hahaha." Dia pun tertawa. "Kau memang bisa saja, Cecilia. Ayo, turun. Kita nikmati akhir pekan ini." Dia membuka pintu mobilnya.


Kulihat Alexander mengambil papan selancarnya. Dia kemudian melepas sepatu lalu memasukkannya ke dalam mobil. Aku pun ikut turun dari mobil sambil membawa tas kecilku. Dan kulihat pesisir pantai memang sudah ramai.


Burung-burung berterbangan di angkasa. Deru ombak berkejaran di lautan. Air laut yang biru pun seolah memanggilku agar segera datang. Dan tiba-tiba saja hasrat berenang itu muncul di benakku.


"Cecilia."


"Hm?"


"Mau coba surfing?" Kulihat Alexander membuka kausnya.


Astaga! Astaga!


Seketika itu juga aku menelan ludah. Melihat langsung dada bidangnya yang mempesona. Dia seperti sengaja memperlihatkan bentuk tubuhnya kepadaku. Aku pun hanya bisa terpaku sambil melihatnya dari depan mobil.


"Cecilia?" Dia kembali menegurku.


"Em, ya?" Aku terkesima sendiri jadinya.


Alexander tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dariku. Entah apa yang dia pikirkan.


Ya Tuhan, tubuhnya begitu sempurna. Aduh, mataku ....


Aku pura-pura bersikap biasa saja. Aku alihkan pandanganku darinya. Namun, dia kemudian melepas sabuk celananya di depanku tanpa malu.

__ADS_1


"Tuan?!!" Saat itu juga aku terbelalak kaget melihatnya.


"Kenapa? Ada yang salah, ya?" Dia melepas celana jeans-nya dan kini hanya mengenakan boxer hitam saja.


"Tuan, ini terlalu vulgar." Aku memberi tahunya.


Dia kemudian menjadikan satu kaus dan celananya lalu dimasukkan ke dalam mobil. "Ada yang lebih vulgar. Mau lihat?" tanyanya, lalu menunjuk ke pesisir pantai.


Aku pun melihat apa yang ditunjukkan olehnya, dan tenyata benar apa yang dikatakannya. Kulihat ada sepasang turis yang sedang berjemur di pantai hanya dengan berbikini. Mereka memang terlihat lebih vulgar dari Alexander.


"Ayo, ke sana!"


Alexander membawa papan selancarnya lalu meninggalkanku yang masih melihat turis itu. Aku terdiam di tempat karena tak percaya jika pantai ini memang benar-benar ada. Ternyata benar apa yang dikatakan Angela waktu itu.


Di selatan kota ada pantai yang hanya boleh dimasuki oleh turis-turis asing. Tiket masuknya sangat mahal. Di sana juga amat bebas. Kau bisa berciuman tanpa harus malu kepada orang lain. Air lautnya bagus, kebersihan pantainya juga terjaga. Jika kau menemukan sampah, satu botol teh berhak kau dapatkan di sana.


Saat teringat kata-kata Angela, pandanganku langsung tertuju ke sekeliling. Kali-kali saja kutemukan sampah sehingga satu botol teh itu berhak kudapatkan.


Hah, dasar Cecilia. Tidak mau rugi sama sekali.


"Cecilia?"


"Putri, mari." Dia menarik tanganku.


Tuan ....


Genggaman tangannya terasa hangat. Jari-jemarinya seolah tidak mau melepaskan tanganku. Saat itu juga aku seperti tidak berkutik di belakangnya. Kubiarkan dia menuntunku menuju pesisir pantai dengan satu tangan memegang papan selancar, satu tangan memegang tanganku. Kami pun akhirnya bergandengan tangan menuju ke sana. Ombak laut yang berkejaran seolah menjadi saksi atas cerita ini.


Tuan, hatiku sepertinya goyah.


Kusadari jika hati ini mulai terombang-ambing karenanya. Setelah sakit hati, dia datang menawarkan luka. Rasanya aku jadi semakin goyah saja. Benarkah dia pria yang selama ini kucari? Atau hanya sekedar lewat untuk mewarnai hari? Entahlah, namun satu hal yang pasti, aku mulai merasakan kenyamanan saat bersamanya. Entah bagaimana ke depannya.


Pukul 11.30 waktu pantai dan sekitarnya...


Semilir angin pantai menemaniku duduk sendiri di gubuk ini. Kulihat Alexander menyudahi selancarnya dengan tubuh yang basah semua. Dia berjalan ke arahku dengan jarak yang lumayan jauh. Di saat itu juga kusadari sesuatu jika aku mulai terpesona dengan kharisma yang dimilikinya. Alexander tidak jauh berbeda dari Jackson.


Aku potret saja, buat kenang-kenangan.

__ADS_1


Alexander membawa papan selancarnya. Dia mempunyai papan selancar sendiri yang sepertinya tidaklah murah. Kuakui jika pria yang satu ini memang lebih tinggi dari Jackson. Dia juga lebih muda. Bulan depan usianya baru menginjak kepala tiga. Rasanya jika membandingkan usia, aku memang lebih serasi dengannya. Hanya berbeda empat tahun saja.


Alexander mempunyai tubuh idaman bagi kebanyakan wanita. Bola mata birunya begitu bening, seolah menyiratkan ketulusan dari dalam hatinya. Dia juga bertutur kata sopan kepada setiap orang, tidak pernah menunjukkan sisi dinginnya, apalagi di hadapanku. Tidak seperti Jackson yang kejam tanpa memandang bulu. Mungkin ada baiknya jika aku berpikir ulang tentang masa depan. Siapakah yang akan kupilih untuk menemani sisa usia ini?


Gubuk yang disewa Alexander terletak di tepi pantai dengan ketinggian sekitar satu meter dari permukaan. Kulihat dari sini ada beberapa turis yang menyapanya. Dia pun menebarkan senyuman kepada turis-turis itu. Hingga akhirnya dia terus berjalan ke arahku.


Kenapa hanya turun sedikit? Kenapa tidak turun sampai ke bawah? Jadi kan aku bisa melihat semuanya!


Tiba-tiba saja pandangan mataku tertuju ke arah sesuatu yang tertutupi celana boxer hitam itu. Kulihat ada rambut tipis di sekitaran perutnya. Tapi sayangnya, aku tidak bisa melihat semuanya. Aku hanya bisa melihat sebagiannya saja.


"Hah, segarnya." Dia akhirnya sampai di depanku.


Tubuh maskulinnya basah setelah berselancar ria di atas ketinggian ombak. Dan kini pria yang menolongku malam itu tengah berdiri di hadapanku. Dia menyerap semua cahaya matahari yang mengarah ke arahku, sehingga aku hanya bisa melihatnya saja.


"Tuan, sudah jam makan siang. Aku lapar."


Tanpa malu aku berkata seperti itu. Dia pun melihatku. "Tidak ingin jalan-jalan terlebih dahulu?" tanyanya.


Karena risih perutnya berada tepat di depan mataku, aku segera berdiri. Aku berdiri di sisi gubuk sambil menghadap ke arahnya. "Tuan, sudah hampir jam dua belas siang. Lotion pemutih itu mahal," kataku.


Kuberikan penekanan agar dia tidak memaksaku untuk mengikuti kehendaknya. Kulihat dia juga seperti menyadari maksud perkataanku ini. Dia mengangguk lalu mengajak ku menuju mobilnya.


Duh, hatiku ....


Aku pun mengikutinya karena ingin segera makan siang. Aku lapar. Dan bukan hanya aku yang lapar. Tapi yang di dalam kandunganku juga ikut lapar. Jadinya aku harus segera makan. Aku tidak lagi peduli bagaimana prasangkanya terhadapku asal perutku kenyang. Karena mulai sekarang aku akan lebih mengedepankan logika dibanding perasaan.


.........


...Alexander...



.........


...Cecilia...


__ADS_1


__ADS_2