Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Hamil?


__ADS_3

Ayah? Jangan-jangan Jackson bicara dengan ayah Zea? Astaga!


Aku merasa sedang terjadi kesalahpahaman antara Jackson dan seseorang yang disebut ayah olehnya. Jackson terlihat menjelaskan jika apa yang dikatakan oleh Zea tidaklah benar. Saat itu juga kusadari jika posisinya seperti dipersulit. Ternyata Zea bisa bermain muka di belakang Jackson. Pantas saja jika Jackson bersikap dingin padanya.


"Ayah, kita lanjutkan perbincangan esok hari. Ayah harus banyak istirahat, sudah jam satu pagi." Jackson berniat mengakhiri panggilannya.


Entah apa yang dibicarakan oleh seseorang dari seberang, tak lama kemudian Jackson menyudahi panggilan teleponnya. Seketika itu juga raut wajah Jackson menyiratkan kelelahan. Dia seperti memendam sesuatu yang berat dalam hidupnya. Entah benar atau tidak, aura ketenangan itu tidak terlihat darinya.


"Tuan, ada apa?" Lekas-lekas aku mendekati, beranjak dari duduk lalu mengusap wajahnya.


"Tidak apa," jawabnya singkat.


"Sayang?" Kata sayang itu terucap begitu saja dari mulutku.


Jackson tertegun melihatku. "Kau bilang apa?" tanyanya seperti ingin aku mengulang kembali kata-kata itu.


"Em, maaf." Aku memalingkan wajah darinya karena malu.


Jackson menarik daguku, memperhatikan wajahku lalu menatap kedua mataku. "Kita mulai peperangan ini, Cecilia. Tetaplah bersamaku." Jackson memintaku.


"Tuan—"


"Kau percaya padaku?" tanyanya sambil menatap kedua bola mata ini.


Aku mengangguk.


"Bagus. Sekarang beristirahatlah. Aku akan kembali ke apartemen. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Jangan hubungi yang lain. Mengerti?" tanyanya.


"Iya, pasti." Aku mengangguk kembali.


Jackson tersenyum. Dia lantas mencium keningku. Entah mengapa aku merasa ingin menangis malam ini. Jackson telah berani mengambil risiko untukku. Kata perang yang terucap olehnya seperti sebuah tantangan besar untuk kulewati.


"Selamat tidur, Cecilia." Dia kemudian berpamitan.


Aku hanya bisa mengangguk saat Jackson berpamitan. Aku tidak bisa menahan kepergiannya. Jackson bilang ingin kembali ke apartemennya, tidak menginap di sini. Mungkin ada hal yang harus dijaga setelah membelaku di hadapan Zea. Aku pun berusaha memaklumi posisinya.


Lantas kuantar kepergian Jackson hingga mobilnya tidak terlihat lagi di pandangan mata. Aku pun berdoa untuk keselamatannya. Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya setelah membelaku. Aku menyayangi Jacksonku.


Esok harinya...

__ADS_1


Pagi ini aku mengenakan setelan seragam bisnis berwarna biru putih. Sedang sepatunya kukenakan pantofel yang sedikit lebih tinggi. Ditambah polesan make up yang sedikit gelap. Kesan gotic itu akhirnya kudapatkan dari wajahku.


Entah mengapa saat sarapan tadi aku merasa mual, tidak seperti biasanya. Sampai-sampai harus menggunakan minyak kayu putih untuk meredakan rasa mualku. Aku juga mengunyah permen rasa peppermint agar tidak terlalu terasa. Ini aneh sekali. Aku jadi heran dengan tubuhku sendiri.


Aku sengaja menaiki taksi pagi ini. Aku khawatir jika membawa mobil sendiri malah akan membahayakan. Jadi kupesan taksi online saja. Dan akhirnya bisa sampai kantor sebelum jam masuk tiba. Tapi saat sampai di kantor, ternyata Jackson belum datang.


Ke mana ya dia?


Aku mencoba bertanya kepada Clara. Tapi, Clara juga tidak tahu di mana keberadaan Jackson. Tidak biasanya Jackson datang siang, jadi aku merasa heran. Sampai jam sepuluh sudah terlewatkan pun Jackson belum juga datang. Aku jadi khawatir apa yang terjadi dengannya.


Ya Tuhan, dia ke mana?


Mungkin karena amat khawatir, rasa mual itu kembali menerjangku. Aku seperti ingin muntah yang tidak bisa tertahan. Lantas Clara datang dan menanyakan apa yang terjadi. Dan kulihat dia begitu panik melihat wajahku ini.


"Cecilia, wajahmu pucat. Aku antarkan ke dokter, ya?" Dia menawarkan bantuan padaku.


"Em, tidak apa-apa. Aku hanya masuk angin," kataku segera.


"Cecilia, sebaiknya periksakan dulu. Aku akan meminta supir untuk mengantarkan. Oke?" Clara begitu peduli.


Lantas aku mengangguk karena tidak bisa lagi menahan rasa mualnya. Pekerjaan hari ini terpaksa tidak bisa terselesaikan dengan baik. Akhirnya aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisiku, sedang Clara kubiarkan tetap berada di kantor. Aku pergi bersama supir perusahaan saja.


Dua jam kemudian...


"Nona Cecilia." Dia menyebutku.


"Ya, Dok?" sahutku segera.


"Nona mengalami kelelahan fisik yang cukup berat. Saran saya ada baiknya jika Nona mengistirahatkan diri terlebih dahulu." Dokter menyarankan.


"Apakah hanya sebatas itu, Dok?" tanyaku, ingin tahu lebih lanjut.


"Kondisi fisik Nona terlalu lelah, menyebabkan perubahan hormon menjadi tidak stabil. Hal itu dapat mempengaruhi kandungan Nona," katanya mengungkapkan.


"Maksud Dokter?" Entah mengapa aku menjadi khawatir.


"Kemungkinan sedang terjadi pembuahan di dalam rahim. Hal itu memicu kontraksi rasa mual yang berlebihan. Tapi karena Nona kelelahan, saya khawatir akan mengalami kegagalan pembuahan." Dokter mengabarkan padaku.


"Astaga!" Aku pun terkejut. "Dokter, ini berarti aku sedang—"

__ADS_1


"Ya. Setelah melihat hasil tes kesehatan, kemungkinan sel telur sedang bertemu dengan sel pria. Tapi karena kondisi tubuh Nona sedang tidak baik, hal itu membuat sel pria kesulitan untuk mencapai inti sel telur. Jadi untuk saat ini hanya bisa menunggu kabar selanjutnya." Dokter kembali menuturkan.


Sel telurku sedang dibuahi? Ini berarti aku akan mengandung anak Jackson?


Entah harus bahagia atau sedih mendengarnya. Aku seperti tidak bisa berkata apa-apa. Dokter kemudian memutar layar tentang pembuahan sel telur padaku. Dan saat sel pria berusaha memasuki sel telur, dokter menerangkan jika sel pria di rahimku kesulitan mencapai inti karena keadaan tubuhku sedang tidak baik.


"Ini resep obat yang harus ditebus. Beristirahatlah selama beberapa hari dan jangan melakukan aktivitas fisik yang berat, demi pembuahan yang berhasil." Dokter menyarankan.


Lantas aku bertanya. "Tapi bagaimana jika gagal, Dok?" tanyaku khawatir.


"Jika Nona memang ingin hamil, tolong perhatikan pola hidup. Jangan minum minuman beralkohol, istirahat yang cukup dan perbanyak konsumsi buah serta sayuran. Karena jika kondisi tubuh Nona lelah, kemungkinan gagal itu akan sangat besar." Dokter terlihat prihatin padaku.


"Baik, Dok." Aku mengangguk.


"Setelah tiga hari kembali lagi ke sini, kita akan melakukan pemeriksaan ulang. Jika gagal terjadi pembuahan, saya harap Nona tidak patah semangat." Dokter tersenyum padaku.


"Baik, Dok. Kalau begitu saya—"


"Cecilia!" Belum sempat meneruskan kata-kata, tiba-tiba Jackson datang, membuka pintu ruang pemeriksaan.


"Tuan?!" Aku pun terkejut dengan kedatangannya.


"Cecilia." Dia berjalan ke arahku dengan raut wajah cemas.


"Tuan, nanti saja." Aku menahannya. "Dokter, terima kasih. Saya permisi." Aku berpamitan kepada dokter yang memeriksaku.


"Tapi, Cecilia—" Jackson menahannya.


"Sudah nanti saja." Aku pun tersenyum kepada dokter lalu bergegas menarik Jackson ke luar ruang pemeriksaan.


Aduh, ngapain sih dia datang?


Lekas-lekas kugandeng Jackson agar tidak mengacaukan suasana yang sudah kacau. Aku tidak ingin dia banyak bertanya tentang apa yang terjadi padaku. Kutarik saja dirinya hingga sampai ke parkiran rumah sakit.


"Cecilia, apakah kau hamil?" tanyanya saat sampai di parkiran.


"Sudah nanti saja tanyanya. Aku sedang tidak enak badan," jawabku.


"Cecilia, tapi—"

__ADS_1


"Nanti kucium dirimu, Tuan!" Aku mengancamnya agar dia diam. Akhirnya Jackson bisa diam juga.


Jackson membukakan pintu mobil untukku. Dia memperlakukanku sangat hati-hati. Mungkin dia pikir aku sedang mengandung anaknya. Entahlah, aku rasa kabar ini lebih baik kusimpan sendiri. Aku tidak ingin Jackson mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2